Dawam Rahardjo dan prinsip kebebasan beragama

Image caption Dawam Rahardjo mengatakan negara mesti bersikap ramah terhadap semua agama.

Mewawancarai Dawam Rahardjo, yang baru saja meraih penghargaan Yap Thiam Hien 2013, seperti membuka kembali sebuah buku lama yang pernah “ditolak” kalangan tertentu.

Buku itu, yang ketika terbit pertama kali pada akhir 1981, pernah dituntut oleh sejumlah tokoh Islam agar ditarik dari peredaran karena isinya dianggap “melecehkan” Islam.

"Pergolakan Pemikiran Islam", demikian judulnya, adalah buku catatan harian seorang aktivis, Ahmad Wahib (1942-1973).

Isi buku tersebut, menurut mantan Menteri Agama Mukti Ali, yang sekaligus mentor Wahib di masa mahasiswa, “membuat dahi kebanyakan orang mengkerut.”

“Lebih-lebih,” demikian tulis Mukti Ali dalam pengantar buku itu, “bagi mereka yang menganggap apa yang dipersoalkannya adalah soal-soal yang tabu dan final.”

Sebagian isi buku, terutama menyangkut masalah keagamaan, merupakan intisari pemikiran Wahib selama terlibat diskusi di sebuah kelompok bernama “Lingkungan Diskusi Limited Group” di Yogyakarta, pada akhir tahun 60-an dan awal 70-an.

Pada usia yang belia, yaitu sekitar 20-an tahun, Dawam Rahardjo – kelahiran 1942 -- bergabung dan terlibat aktif bersama almarhum Wahib dalam kelompok diskusi itu.

"Orang seperti Dawam, terbentuk karena keluasaan ilmunya," aku Wahib, seperti tertulis di halaman 41 buku tersebut.

Sebaliknya, Dawam menggambarkan sosok Wahib: "Orangnya (Ahmad Wahib) lembut, tapi pikirannya keras dan terus terang."

Image caption Buku harian Ahmad Wahib (1981) mencatat sepak terjang dan pemikiran Dawam di masa muda.

Dalam buku 'Pergolakan Pemikiran Islam', Wahib acap menyebut sosok aktivis Islam moderat Djohan Effendi, tetapi tak sedikit pula dia mengungkap pengalamannya berinteraksi dengan Dawam.

Begitulah. Dan seperti Wahib, Dawam adalah pemikir bebas, yang kata-katanya (dan ditulisnya dalam Jurnal Ulumul Quran edisi nomor 4, volume 5, 1994 yang diasuhnya) selalu saya ingat: “Kebebasan beragama berarti juga, bahkan mengandung arti yang lebih kongkret, (yaitu) kebebasan untuk tidak beragama."

Kalimat itu pula yang saya tanyakan ulang dalam wawancara khusus dengan Dawam Rahardjo, sang empu kalimat tersebut, di kantor Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF) di kawasan Pejaten, Jaksel, 28 Januari 2014 lalu.

Kebebasan tidak beragama

Menurut Dawam, para pemimpin di Indonesia saat ini kurang memahami soal hak asasi manusia, khususnya kebebasan beragama.

"Sehingga negara banyak melanggar kebebasan, khususnya kebebasan beragama,” katanya.

Dia kemudian mencontohkan kasus pelarangan ajaran kelompok Lia Eden dan penutupan sejumlah gereja.

Padahal, ujar Dawam dalam berbagai kesempatan, Indonesia menganut Monotheisme Konstitusional yang berlandaskan kebebasan beragama.

Hak atas foto AFP
Image caption Aksi protes jemaat gereja Kristen dan warga Ahmadiyah menentang diskriminasi, April 2013.

“Sebab, orang beragama itu landasannya harus kebebasan. Tidak mungkin orang itu punya keyakinan iman, atas dasar paksaan. Itu akan menimbulkan iman yang palsu,” kata Dawam kepada saya.

“Jadi iman yang otentik, keberagamaan yang otentik itu harus didasarkan kepada azas kebebasan.”

“Sehingga orang itu bertanggungjawab terhadap apa yang diyakininya,” kata Dawam, menandaskan.

Berangkat dari pijakan itulah, akunya, seharusnya negara mesti bersikap ramah terhadap semua agama, dengan menegakkan prinsip kebebasan beragama. "Dan, sekaligus memfasilitasi perkembangan semua agama,” katanya.

”Tetapi,” kata Dawam dengan kalimat tegas dan berulang-ulang, ”prinsip kebebasan beragama sebenarnya juga mengandung pengertian kebebasan untuk tidak beragama.”

“Cuma kalau orang itu tidak beragama,” lanjutnya cepat-cepat, “jangan mempropagandakan atheisme.”

Di sini saya lantas bertanya balik: kenapa kelompok tidak beragama dilarang untuk “menyebarkan” ajarannya?

Dawam mengatakan, ini lantaran konstitusi Indonesia adalah konstitusi monotheisme.

Tidak semua agama memiliki Tuhan

Saat pidato pemberian penghargaan Yap Thiam Hien 2013, Kamis (30/01) malam, pendiri Yayasan Yap Thiam Hien, Todung Mulya Lubis menggambarkan sosok Dawam Rahardjo sebagai: "... Dia juga satu dari segelintir orang Indonesia pula yang berani dengan lantang bersuara di ruang publik Indonesia, bahwa tidak semua agama harus mempunyai Tuhan.”

Seperti diketahui, agama-agama wisdom tidak mengenal konsep Tuhan, dan hanya agama-agama faith yang memiliki Tuhan.

Menurut Todung, Dawam kemudian berkata bahwa “kita yang memeluk agama-agama faith, tidak boleh memaksakan konsep Ketuhanan kita kepada mereka-mereka yang menganut agama-agama wisdom."

Di penghujung pidatonya, Todung lantas berkata: "Ini menyentak kita semua, karena terucap dari mulut orang tokoh pimpinan Muhammadiyah..."

Hak atas foto habib chirzin
Image caption Dawam Rahardjo (kiri, belakang) dalam sebuah acara LSM di Brusel, Belgia, 1987, yang dihadiri pula almarhum Gus Dur.

Yayasan Yap Thiam Hien, menurut Todung, memberikan penghargaan prestius di bidang HAM kepada Dawam, karena dia dianggap konsisten di dalam memperjuangkan prinsip-prinsip kebebasan beragama.

“Bung Dawam telah terbukti konsisten mengabadikan seumur hidupnya sejak dia berkarib-karib dengan almarhum Ahmad Wahib di kala mahasiswa hingga kini,” kata Todung, dalam pidatonya.

Salah-satu yang dicontohkan adalah sikap Dawam dalam membela komunitas Ahmadiyah, Lia Eden dan jemaat Kristen yang sejumlah gerejanya ditutup secara paksa.

Dipecat dari Muhammadiyah

“Dalam jiwa saya, saya masih tetap orang Muhammadiyah,” kata Dawam, saat saya menanyakan komentarnya atas pemecatan dirinya dari organisasi Muhammadiyah, beberapa tahun lalu.

“Itu sikap formal Muhammadiyah, dan saya ketika dipecat merasa lebih bebas, (karena) tidak terikat oleh kebijakan politik organisasi resmi Muhammadiyah,” tambah Dawam yang mengaku sejak kecil dibesarkan dalam “tradisi” Muhammadiyah.

Image caption Dawam Rahardjo saat menerima penghargaan Yap Thiam Hien 2013, 28 Januari 2014 lalu.

Meski telah dipecat, “Dalam keberagamaan saya, saya adalah orang Muhammadiyah,” katanya lagi.

Sejumlah pemberitaan menyebutkan, peristiwa pemecatan ini terkait dengan pemihakannya dalam membela ajaran Lia Eden, komunitas Ahmadiyah dan protesnya terhadap sejumlah kasus pelarangan pendirian gereja.

Apa yang dialaminya ini juga disebutkan terkait pemahamannya, yang kemudian dia sebarkan, tentang istilah pluralisme, liberalisme, dan sekularisme.

Majelis Ulama Indonesia, MUI, saat itu mengeluarkan fatwa yang intinya menyebut ketiga paham itu bertentangan dengan ajaran Islam.

Kedekatan dan simpati Dawam Rahardjo terhadap kelompok Jaringan Islam Liberal, JIL, disebut-sebut sebagai faktor lain di balik kasus pemecatannya.

Hak atas foto icip
Image caption Dawam Rahardjo (kanan) pada acara peluncuran bukunya (2007) sekaligus perayaan ulang tahunnya.

Tapi sekian tahun setelah dipecat dari keanggotaan Muhammadiyah, ayah dua anak dan beberapa cucu ini mengaku masih tetap kontak dengan anggota organisasi Islam tersebut.

“Saya tidak ditinggalkan teman-teman saya,” kata mantan Ketua Majelis Pembina Ekonomi PP Muhammadiyah ini.

“Orang-orang Muhammadiyah tetap berteman dengan saya,” akunya.

Kapan menjadi pluralis?

Lantaran sudah belajar dasar-dasar pendidikan agama Islam semenjak kecil, Dawam mengaku kemudian “memutuskan” mengambil mata pelajaran Katolik, ketika di bangku SMP I di Solo, Jateng, pada 1957.

“Sehingga teman-teman saya banyak yang Katolik atau Kristen,” ungkap Dawam, tentang pengalamannya berinteraksi dengan penganut agama di luar Islam.

Pengalamannya ini terus berlanjut ketika di bangku SMA, Dawam mengikuti program American Field Service, AFS, atau pertukaran pelajar ke Amerika Serikat, selama setahun.

Di kota kecil Boise, Idaho, dia sekolah di Borah High School dan tinggal di sebuah keluarga religius.

“Dan saya tiap minggu, pergi ke gereja, mengikuti kebaktian di gereja, sementara pada hari Sabtu, saya mengikuti Bible School,” katanya, bercerita.

“Dari situlah, berkembang sikap pluralisme saya,” ujarnya.

“Karena saya melihat: orang beragama itu orang yang baik, rukun, damai, suka menolong. Semua masyarakat beragama seperti itu,” papar Dawam.

Ketika berstatus mahasiswa di Fakultas Ekonomi UGM Yogyakarta, Dawam aktif di forum diskusi yang dipimpin Profesor Mukti Ali, seorang ahli perbandingan agama.

“Barangkali Profesor Mukti Ali yang mempengaruhi saya,” katanya. “Tetapi, kami sendiri sudah punya pemikiran (sendiri terkait ide pluralisme) itu.”

Dalam kelompok diskusi bernama Limited Group Yogyakarta, Dawam bertemu dan berteman dengan Ahmad Wahib dan Johan Effendi.

“Saya bersama Johan Effendi dan Ahmad Wahib merupakan suatu kelompok pluralis, yang kemudian mempengaruhi PB Himpunan Mahasiswa Islam, HMI supaya mengembangkan sikap pluralisme itu,” kata Dawam.

Ayat-ayat pluralisme

Ketertarikan dan keputusan Dawam Rahardjo untuk memahami tafsir al-Quran pada tahun 1980-an, kelak membuatnya “menemukan” pengertian toleransi dan pluralisme di dalam kandungan kitab suci itu.

“Banyak ayat-ayat al-Quran itu melukiskan pluralisme, baik di dalam gejala alam, maupun pluralisme yang terdapat dalam gejala-gejala di dalam kemasyarakatan,” kata Dawam.

Dia kemudian menyebut Surat Al Hujurat ayat 13.

“Tuhan mengemukakan mengenai masyarakat yang plural dan perlunya melakukan saling menghargai, saling memahami kelompok-kelompok yang berbeda, yang dinamai prinsip ta’aruf,” jelasnya.

Sayangnya, menurutnya, prinsip ta'aruf belum banyak dikenal atau dipahami.

“Yang menonjol itu soal keadilan, soal amanah, soal musyawarah. Itu paling populer. Tapi kalau ta'aruf itu belum (dikenal), sehingga karena itu saya mempropagandakan prinsip taaruf,” ujar Dawam yang pernah menulis buku berjudul ‘Ensiklopedia al-Quran, tafsir sosial berdasarkan konsep-konsep kunci’, 1996.

Ketika saya tanya kenapa konsep taaruf tidak populer di masyarakat, Dawam mengatakan: “Untuk membaca alquran, untuk mendalami isi dan hakikatnya, diperlukan teori.”

“Nah para ahli tafsir belum banyak memahami teori-teori sosial, sehingga tidak bisa menemukan pentingnya istilah taaruf. Jadi, terluput dari perhatian,” katanya.

Saling memahami

Di tengah kecenderungan maraknya aksi kekerasan terhadap kelompok minoritas di Indonesia, Dawam Rahardjo mengatakan, perlunya antar umat beragama untuk membuat “proyek bersama” yang kongkrit.

“Kita membuat proyek bersama dengan concern yang sama, misalnya pemberantasan kemiskinan,” katanya memberi contoh.

Menurutnya, semua agama memiliki kepedulian yang sama terhadap persoalan kemiskinan. “Nah disitulah bisa dilakukan kerjasama kongkrit di dalam aksi,” kata Dawam.

“Tetapi di dalam wacana, itu harus melakukan dialog, saling pemahaman.

Kalau di situ terjadi debat, tidak apa-apa. Tapi harus ada niat untuk saling menghargai perbedaan,” katanya.

Dawam juga menekankan pentingnya komunikasi di antara kedua pihak dengan titik tekan pada “saling memahami dan mengambil manfaat dari pendapat-pendapat yang berbeda”.

Dalam komunikasi seperti itu, menurutnya, ”kedua pihak berpendapat kebaikan itu ada juga pada orang lain, yang pelu kita pelajari dan kita ambil. ”

”Jadi bukan komunikasi dalam rangka memenangkan pendapat di antara pendapat yang berbeda,” tandas Dawam.

Sosok multidimensi

Dawam Rahardjo sering disebut sebagai sosok multi dimensi, karena ketertarikan dan kemampuannya dalam beberapa bidang.

Mulai sebagai pegiat LSM, politisi, pemikir di bidang ekonomi, agama, hingga kemampuannya dalam dunia sastra.

Hak atas foto wimar witoelar
Image caption Dawam Rahardjo (kanan) di sebuah acara bersama mantan Ketua MK Mahfud MD dan mantan jubir Presiden Abdurrahman Wahid, Wimar Witoelar.

Dawam mengaku dirinya adalah sosok intelektual.

“Intelektual itu punya banyak dimensi, ada dimensi seni, dimensi rasional, dan ada dimensi komunikasi,” katanya.

Menurutnya, pemikiran-pemikirannya merupakan hasil refleksi dari aksi-aksinya.

“Jadi saya melakukan sesuatu dari aksi dahulu, baru kemudian timbul pemikiran,” katanya.

Ditanya apakah dia sempat mendalami hobi di tengah kesibukannya, Dawam mengaku suka mendengar musik klasik. “Terutama suara-suara sopran, seperti Pavarotti, yang paling saya sukai itu Carreras, Broseri,” ungkapnya.

“Suaranya paling empuk, enak sekali. Romantis,” jawabnya saat saya tanya kenapa dia “jatuh cinta” dengan suara Jose Carreras.

Menurutnya, aktivitas mendengar musik sangat penting saat dirinya menulis.

“Musik itu menggerakkan pikiran. Jadi, kalau saya ngetik, mengarang, tidak mendengar musik dengan mendengar musik, itu beda,” ujarnya, serius.

“Jadi, kalau ada suara musik, pikiran saya itu bergerak, ide saya lancar.”

Anda dikenal produktif menulis buku. Bagaimana Anda menjaga produktivitas? Tanya saya.

“Mungkin karena musik, ada rangsangan musik itu,” katanya, seraya menambahkan kegiatan menulis selalu dia lakukan di pagi hari.

Berita terkait