Kisah Najwa Shihab mengelola dialog televisi

  • 7 Maret 2014
Image copyright najwa shihab
Image caption Najwa Shihab ketika mewawancarai mantan Presiden BJ Habibie di acara Mata Najwa.

Pembawa acara dan wartawan stasiun televisi Metro TV, Najwa Shihab mengungkap 'rahasia' dalam mengelola acara dialog di televisi yang mampu menyedot perhatian masyarakat.

Tangisan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, berikut kisah di baliknya, menyedot perhatian masyarakat sedemikian besar sehingga membanjirlah simpati dan dukungan kepadanya -- serta doa, barangkali.

Disaksikan mungkin jutaan pemirsa melalui lacar kaca, Tri Risma mengungkapkan segala hal terkait persoalan politik yang melilitnya, melalui pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan pembawa acara Najwa Shihab dalam acara talkshow Mata Najwa di Metro TV, awal Februari 2014 lalu.

"Kita ingin 'mengawal' orang-orang baik," kata Najwa Shihab, dalam wawancara khusus dengan wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Selasa (18/02) di ruangan kerjanya di Metro TV, Jakarta.

Jawaban itu dia lontarkan saat saya menanyakan apa yang melatari pihaknya mengundang Tri Rismaharani dalam acara yang dipandunya.

Menurutnya, acara yang dipandunya ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa masih banyak pemimpin yang memiliki komitmen, kemampuan dan "cara berbeda" dalam mengatasi problem di kotanya.

Dalam wawancara itu, Nana memang menanyakan latar belakang yang membuat Tri Risma ingin mundur dari jabatannya.

Di sinilah, Walikota Surabaya itu tidak mampu menahan tangis serta "mencurahkan kegalauan dan tekanan yang dialaminya, "kata alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada tahun 2000 ini.

Image copyright najwa shihab
Image caption Najwa Shihab ketika meliput konflik perbatasan di wilayah perairan Ambalat di dekat Kalimantan Timur, 2005.

Saat itu kamera kemudian menyorot wajah Tri Risma. Tangisnya kemudian berubah menjadi simpati.

Lalu, "saya pun mendapatkan respon dari sosial media, dari sms, dari telepon, dari berbagai kalangan," aku Najwa.

Bahkan, "orang kemudian menghentikan saya di tengah jalan, menyapa bilang baru menonton Ibu Risma. Mereka merasa terinspirasi..."

Sebagaimana pengalamannya mewawancarai orang-orang lain, dia mengaku selalu memperoleh "pelajaran berbeda" -- tidak terkecuali dari Tri Rismaharani.

"Khusus Ibu Risma, saya mendapati pengalaman berhadapan dengan orang yang tulus dan tidak punya agenda apapun, kecuali memang ingin membantu dan mengangkat harkat warga Surabaya."

Mengapa 'menelanjangi'?

Dalam program Mata Najwa, cara dan gaya bertanya Najwa kepada sebagian nara sumbernya -- menurut sebagian orang -- dianggap terlalu "menghakimi" atau "menelanjangi" yang bersangkutan.

Sebagian orang tentu masih ingat tatkala acara bincang-bincang itu menampilkan pengacara Farhat Abbas, penyanyi dangdut terkenal Rhoma Irama, atau calon legislatif Angel Lelga.

Kenapa ketika Anda berdialog dengan Tri Rismaharani, Anda terlihat "bersimpati", namun sebaliknya saat mewawancarai pengacara Farhat Abas atau calon legislatif Angel Lelga terkesan "menelanjangi"? Tanya saya.

"Saya percaya talkshow itu bukan sekedar bertanya A menjawab B," kata Najwa. "Tapi, suatu dialog yang menarik."

Supaya dialog itu dapat tampil menarik, Najwa mengaku mengatur "strategi" dengan tujuan utama yaitu "apa manfaat utama yang didapatkan pemirsa."

Di sinilah, ungkapnya, cara menggali informasi dari nara sumber menjadi berbeda-beda, tergantung dari apa yang ingin didapatkan.

Dia kemudian mencontohkan: ketika tujuan utama dialog dengan seorang tokoh adalah untuk menggali inspirasi, maka cara menggali informasi harus disesuaikan dengan tujuan akhirnya.

Image copyright najwa shihab
Image caption Najwa Shihab dalam wawancara khusus dengan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo alias Jokowi.

"Atau kita ingin mengajak orang melihat dari sisi yang berbeda, kita ingin 'memprovok' orang untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu; kita ingin mengajak orang untuk mengkritisi ; kita ingin orang geram dan kemudian percaya atau justru tidak percaya terhadap suatu hal. Jadi, apa yang end goal yang ingin capai dari suatu talk show."

Dari situlah, lanjutnya, semua dipikirkan. "Cara menggali informasi, pendekatan show-nya juga dibangun seperti apa..." kata Najwa, menjelaskan.

Secara khusus Najwa lantas mencontohkan ketika tamunya adalah calon legislatif alias caleg atau orang-orang yang ingin menjadi Presiden.

Berangkat dari tujuan utama mengajak berpikir kritis dan mengajak orang menyadari suaranya sedemikan berharga, peraih berbagai penghargaan jurnalistik ini lantas mengajuan pertanyaan:

Image copyright najwa shihab
Image caption Najwa Shihab dalam acara Mata Najwa bersama Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Purnama alias Ahok.

"Apa agendanya sehingga dia berani menjadi wakil publik, apa yang akan dia lakukan sehingga dia harus memilih dia menjadi Presiden atau menjadi pejabat... Ini jabatan yang tidak main-main."

"Kita ingin mengajak orang kritis, dan cara mengajak orang kritis adalah dengan menjadi wakil suara publik dan bertanya: apa yang sudah Anda lakukan, kenapa suara saya yang sedemikian berharga harus saya berikan kepada kamu, dan apa yang akan kamu lakukan ketika kamu betul-betul menduduki posisi publik itu."

Jilbab bukan kewajiban

Najwa Shihab, kelahiran 1977, adalah putri kedua Quraish Shihab, ulama yang pendapatnya banyak didengar masyarakat.

Sang ayah, yang dikenal sebagai pakar tafsir Al-Quran dan tokoh Islam moderat, banyak mempengaruhi pemahaman Najwa terhadap nilai-nilai agama, termasuk tentang jilbab.

Image caption Najwa Shihab mengatakan, ayahnya menyebut bahwa mengenakan jilbab bukanlah kewajiban.

Namun demikian, Nana (dan dua adik perempuannya) memilih tidak mengenakannya, walaupun ibu dan kakak sulungnya mengenakan jilbab.

Sikap Najwa yang menolak mengenakan jilbab ini, pada masanya, menimbulkan kritikan sejumlah kalangan.

Menyitir pendapat ayahnya, Najwa mengatakan, jilbab bukanlah kewajiban.

"Untuk Abi (ayah), memakai jilbab yang menutup rapat seluruh rambut dan juga tangan hingga pergelangan tangan itu bukan menjadi kewajiban," katanya.

Tapi, sambutnya cepat-cepatnya, "Itu bukan berarti yang tidak disarankan dilakukan. Buktinya kakak saya menutup rambutnya dan ibu saya juga memakai jilbab.

"Tetapi memang kebebasan itu diserahkan kepada anak-anaknya untuk memilih, karena ayah merasa itu bukan suatu kewajiban," kata Najwa.

Image copyright najwa shihab
Image caption Najwa Shihab mewawancarai seorang pilot pesawat tempur, saat HUT TNI pada 2012.

Dari pemahaman itulah, Najwa menyatakan: "Karena itu memang kebebasan yang diberikan oleh ayah kepada saya sebagai pribadi, dan saya memaknainya karena tidak wajib, saya tidak mengenakan jilbab saat ini."

Tsunami Aceh dan linangan air mata

Hampir lima 15 tahun menjalani profesi wartawan di Metro TV, Najwa mengatakan liputan tsunami Aceh pada akhir 2004 merupakan "liputan yang selalu saya ingat".

"Karena itu mengubah saya, bukan saya sebagai wartawan, tetapi terlebih saya sebagai manusia," katanya.

Hal ini dia utarakan ketika saya bertanya: bagaimana dia saat ini memaknai ketika dia tak kuasa menahan tangis saat melaporkan kondisi Aceh tidak lama setelah diterjang tsunami.

Image copyright najwa shihab
Image caption Najwa Shihab mengaku tidak menyesal "menangis" saat melaporkan dampak tsunami Aceh pada 2004.

Peristiwa "linangan air mata" Najwa ini, kala itu, memang menimbulkan pro dan kontra di kalangan jurnalis.

Pihak yang mengkritiknya mengatakan, seharusnya wartawan tidak terlibat secara emosional sedemikan jauh sehingga dikhawatirkan mempengaruhi laporannya.

"Tapi sampai sekarang pun, ketika saya kilas balik, saya tidak pernah menyesal ketika melibatkan seluruh indra saya untuk melaporkan."

Menurutnya, apabila saat itu dia melaporkan semata berdasarkan indera penglihatannya, tidak cukup menggambarkan betapa dahsyatnya bencana tsunami Aceh.

"Karenanya saya menggunakan seluruh indera, termasuk saya menggunakan hati saya untuk melaporkan apa yang ketika itu saya lihat," kata Najwa, yang beberapa bulan kemudian dia meraih penghargaan PWI Jaya Award atas liputannya selama di Aceh.

Kepada para yuniornya di Metro TV, Najwa kini selalu menekankan pentingnya apa yang disebutnya "jurnalisme empati" ketika meliput di lokasi bencana.

"Yaitu jurnalisme di mana ketika melihat bukan hanya sekedar dahsyatnya bencana dan dampaknya, tapi juga menempatkan diri kita menjadi bagian dari orang yang terkena dampak," katanya.

'Apakah Anda seorang teroris?'

Najwa tidak kuasa menahan tawa, ketika saya mengungkap pertanyaan pertama yang dia lontarkan saat mewawancarai Abubakar Ba'asyir, yang kini narapidana kasus terorisme, sekian tahun silam.

"Saya masih ingat, Anda saat itu bertanya 'apakah benar Anda seorang teroris'," ungkap saya.

Image copyright najwa shihab
Image caption Najwa Shihab memimpin dialog yang dihadiri sejumlah tokoh nasional di Solo, Jateng.

Najwa, yang pernah mengikuti program AFS (America Field Service) yaitu program pertukaran pelajar ke Amerika Serikat ketika di bangku SMA, tergelak kembali dan kemudian berkata: "Saya masih ingat, dan itu juga menimbulkan kehebohan..."

Ketika itu menurutnya Abubakar Ba'asyir belum menjadi tersangka dan belum ditahan, namun namanya sudah disebut-sebut sebagai pimpinan organisasi Jamaah Islamiyah.

Dia juga disebut-sebut sebagai otak berbagai kasus peledakan bom di Indonesia.

"Jadi, memang pertama di otak saya adalah, (pertanyaan) apakah Anda seorang teroris..."

Usai mewawancarai Ba'asyir, Najwa kemudian ditugaskan meliput peristiwa penangkapan Abubakar Ba'asyir di sebuah rumah sakit di Solo, Jawa Tengah, hingga dibawa ke rumah sakit polisi di Jakarta.

Dia kemudian meliput sejumlah kejadian yang melibatkan Ba'asyir, termasuk mewawancarainya kedua kalinya ketika namanya disebut-sebut dalam upaya pembunuhan Presiden Megawati Soekarnoputri.

"Saya ingat itu juga pengalaman yang mewarnai karir saya, bagaimana meliput Abubakar Ba'asyir ketika sejak awal sampai kemudian dia dijebloskan ke dalam penjara," katanya.

Pro-kontra Abubakar Ba'asyir

Wawancara Najwa Shihab dengan Abubakar Ba'asyir ini, ketika itu, sempat melahirkan sanjungan sekaligus kritikan.

Kritikan itu biasanya dikaitkan dengan anggapan bahwa Metro TV seolah-olah berkampanye untuk kegiatan teroris.

Image copyright najwa shihab
Image caption Najwa dikerubuti oleh para penggemarnya di sebuah acara di Solo, Jateng.

Apa komentar Najwa atas kritikan itu?

"Saya percaya, televisi itu sangat transparan. What you see is what you get," kata Najwa, kali ini dengan mimik yang terlihat serius.

Lagipula, wawancara itu disiarkan secara langsung tanpa "diedit untuk kepentingan tertentu", katanya.

"Saya bertanya, dia menjawab. Sama-sekali tidak ada sensor. Apa yang Anda lihat dan Anda dengar sama-sama, itulah yang kemudian dimaknai oleh pemirsa, apapun itu," jelasnya lebih lanjut.

Najwa mengatakan, wawancaranya dengan Abubakar Ba'asyir merupakan sesuatu yang "sehat" ketika "yang dimaknai adalah substansi dari wawancara".

Hal ini pula dia tekankan dalam pengalamannya mewawancarai sejumlah calon legislatif atau bakal calon presiden.

"Saya akan senang kalau diskursus itu tentang substansi apa yang dibahas, karena memang itu yang diperlukan sekarang, bahwa orang memang bergerak, berpikir, dan memaknai berbagai perbincangan yang ada."

Karir dari bawah

"Saya meniti karir dari bawah sekali di Metro TV," begitulah salah-satu kalimat yang terlontar dari Najwa, ketika saya menanyakan bagaimana dia memaknai posisinya sebagai Wakil Pemimpin Redaksi Metro TV, yang diembannya sejak dua tahun silam.

Pemenang kedua Asian Televison Award 2011 sebagai Best Current Affairs presenter ini kemudian berkata bahwa dia merupakan salah-seorang reporter pertama di Metro TV pada tahun 2000.

"Saya masih bertahan sebagai reporter pertama (di Metro TV)," katanya seraya menyebut nama seorang reporter pertama lainnya yang memilih pindah ke sebuah BUMN.

Image caption Najwa Shihab di ruangan kerjanya di Metro TV.

Dari situlah, dia kemudian dipercaya menjadi presenter, assisten produser, producer dan executive producer, hingga program owner, sampai kemudian diangkat sebagai wakil pemimpin redaksi.

"Ada banyak kesempatan dan kepercayaan Metro yang diberikan kepada saya," katanya seraya menyebut, perjalanan liputan dan wawancara yang telah dia lakukan selama ini.

Itulah sebabnya dia memaknai posisinya sebagai Wakil pemimpin redaksi sebagai "kesempatan bagi saya untuk mengembalikan kepercayaan itu dan melaksanakan tugas sebaik-baiknya, karena ini kesempatan bagi saya untuk pay back apa yang selama ditanamkan dan diberikan Metro kepada saya."

Menjaga independensi

Ketika saya tanya bagaimana dia menjaga independensi dari kenyataan bahwa Metro TV dimiliki seorang pimpinan Partai Nasional Demokrat, Najwa mengatakan, bahwa pemilik partai tidak pernah mempengaruhi secara langsung aktivitas keredaksian.

Image copyright najwa shihab
Image caption Bersama mantan Presiden Megawati Soekarnoputri di acara Mata Najwa.

Menurutnya, kehadiran pemirsa yang makin kritis dan cerdas merupakan "pagar yang membentengi keredaksian untuk sangat berhati-hati tidak dinilai memihak salah-satu partai atau salah-satu kepentingan tertentu."

"Saya sering ditanya 'takut tidak sih pada pemilik yang juga ketua partai', dan jawaban saya selalu: itu hanya satu orang. Saya lebih takut pada pemirsa yang jumlahnya jutaan yang memilikii kemampuan memegang remote control dan memindahkan canel ketika dia melihat yang disaksikannya bukan tayangan yang fair atau yang dinilai cukup kredibel dan bisa memberikan sesuatu."

Dia kemudian mengatakan, kehadiran pemirsa kritis itu makin menjadi penting karena mereka memiliki saluran efektif untuk mengkritik melalui sosial media.

Image copyright najwa shihab
Image caption Najwa Shihab berulangkali mewawancarai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

"Tidak suka dengan satu tayangan, dilontarkan di sosial media, dibahas dan sebagainya. Jadi kanal untuk menyampaikan kritikan itu semakin besar," kata Najwa.

Dia juga menyatakan, kehadiran lembaga pengawas merupakan faktor penting untuk selalu mengingatkan agar "hei hati-hati, jangan sampai melenceng."

Lomba baca puisi

Najwa menyebut ayah dan ibunya sebagai dua orang yang paling berpengaruh terhadap perjalanan hidupnya.

Ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, Najwa selalu diantar oleh sang ibu, Fatmawaty Assegaf, untuk ikut lomba membaca puisi di tingkat RT hingga tingkat nasional.

Sang ibu juga mendorongnya untuk berprestasi di bidang akademis dan selalu aktif di organisasi ketika anaknya memasuki bangku sekolah menengah pertama hingga kuliah.

Image copyright najwa shihab
Image caption Najwa Shihab bersama ayah, ibu, suami, anak dan keluarga besarnya.

Dengan mata berbinar, Nana kemudian berkata bahwa dia selalu teringat kalimat yang acap terlontar dari ibunya: "Ayo dicoba, (kamu) pasti bisa..."

"If you want something, go get it," begitu Najwa memaknai dorongan ibunya, yang diakuinya kelak mewarnai perjalanan hidupnya.

"Dari mama, saya belajar tentang pentingnya punya cita-cita, ambisi dan mimpi, dan mengejar itu," ungkap ibu dari satu anak bernama Izzat, yang kini berusia 13 tahun.

Sementara dari sosok ayah, Quraish Shihab, Nana mengaku belajar kerja keras dan ketekunan.

"Saya belajar ketekunan dan kerja keras dari abi (ayah). Saya juga belajar kerendahan hari dan tawadu'abi," ungkap suami Ibrahim Assegaf ini.

Image copyright najwa shihab
Image caption Najwa bersama suaminya, Ibrahim Assegaf, dan putra tunggalnya, Izzat (13 tahun).

Dia kemudian mencontohkan, kerja keras ayahnya itu antara lain terlihat dari ketekunannya menulis yang dilakukan usai sholat subuh, nyaris saban hari.

Kesenangan ayahnya membaca buku juga menulari dirinya. "Saya ingat diajak perginya selalu ke toko buku untuk membaca. Hadiah ulang tahun selalu voucer di sebuah toko buku terbesar di Indonesia," kata Nana mengenang sambil tergelak.

Berita terkait