Suara-suara lirih dari Festival Sastra Ubud 2016

UWRF 2016 Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption UWRF 2016: welas asih dan solidaritas dalam perbedaan.

Festival Penulis dan peminat sastra (UWRF) 2016 di Ubud, Bali, menyuarakan welas asih atau solidaritas dalam menerima perbedaan. Seperti apa ide yang digali dari tradisi kuno Bali itu tercermin dalam isi festival tersebut? Bagaimana mendamaikan modernitas dan tradisi?

"Saya masih menjalani tradisi, misalnya mengerjakan semuanya di rumah, tapi pikiran saya sangat terbuka (open minded)…"

Kalimat itu dilontarkan Jenar Mahesa Ayu, penulis dan sutradara yang karya-karyanya kerap memancing kontroversi.

Dia mengutarakan hal itu di salah-satu diskusi hari kedua Ubud Writers and Readers festival, Jumat (28/10). Bersama actor kawakan Rahmat Rahadrjo, sutradara Joko Anwar, serta Wregas Bhanuteja.

Yang disebut terakhir adalah sutradara film pendek Prenjak yang memenangi penghargaan bergengsi di Fetival film Cannes tahun lalu.

Di ujung diskusi, saya tidak terkejut, ketika mereka bersuara lantang menolak praktik sensor film. Tapi saya terus memikirkan kalimat Jenar di awal.

"Saya tidak menolak beberapa tradisi, misalnya saya mengasuh dua anak saya, tidak pakai pembantu, tapi saya beruntung orang tua saya membiasakan untuk berpikir terbuka," papar Jenar.

Hal-hal yang berbau tradisi, seperti yang diucapkan Jenar, memang diberi tempat khusus dalam Ubud Writers and Readers Festival, atau selanjutnya disingkat UWRF, tahun ini.

Tema besar yang diusung festival tahunan itu, sebutlah, jelas-jelas merujuk pada nilai-nilai Hindu Bali kuno yaitu Tat Tvam Asi - artinya aku adalah engkau, engkau adalah aku' atau 'kita semua satu' atau solidaritas.

"Bali memiliki konsep solidaritas welas asih yang local genius," kata salah-seorang ketua program festival ini, I Wayan Juniartha, merujuk pada tema festival itu.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Pembukaan UWRF 2016: bukan hanya nilai tradisi Bali

Namun demikian, Juniartha menekankan, tidak berarti pihaknya hanya mengenalkan nilai-nilai kebajikan dari Bali semata.

"Tidak hanya untuk menarik perhatian dunia, bahwa Bali memiliki konsep, tapi juga untuk menunjukkan bahwa setiap bangsa di dunia memiliki prinsip yang sama," jelas Jun - panggilannya. Rupanya, di sini niat panitia untuk melihat persamaan di tengah perbedaan.

Ketika Jenar bersaksi seperti itu, diskusi di waktu yang sama tetapi ruang berbeda, membahas Mystical Bali.

Salah-satu pembicaranya adalah Sugi Lanus, sosok yang terus menggali nilai-nilai tradisi Bali yang dianggap relevan dalam situasi sekarang - diantaranya melalui upayanya membaca ulang pesan-pesan di dalam Lontar.

"Yang penting, bukan aksara atau materinya, tapi konten (isinya)," kata pria kelahiran 1972 ini.

"Ketika orang mengelu-elukan budi pekerti, terus di mana kita harus menggalinya?"

Dari temuannya, tidak sedikit nilai-nilai lama dalam tradisi Bali masih relevan untuk menjawab persoalan masa ini.

Namun demikian, tegas pendiri Hanacaraka Society (yang berusaha melidungi teks Bali dan Lombok kuno), dirinya tidak bertujuan memaksakan nilai-nilai itu kepada pihak lain. "Yang jadi masalah 'kan, kalau dipaksakan," kata filolog ini.

Begitulah. Dari kota kecil Ubud, yang berbukit-bukit dan selalu dibanjiri turis luar negeri, suara-suara dari masa lalu itu memang dihidupkan lagi - dan dianggap relevan sebagai opsi tawaran dalam situasi sekarang.

"Tema besar itu," kata salah-seorang manajer program Ubud Writers and readers festival (UWRF) 2016, I Wayan Juniartha, "kita anggap penting pada saat dunia sekarang menghadapi sejumlah isu besar."

Kepada saya, Juniartha lalu mengambil contoh kasus penolakan mayoritas warga Inggris yang menolak Uni Eropa, Pemilu Presiden AS, atau situasi terakhir di Suriah dan Irak.

"Di Indonesia, kita juga berhadapan dengan isu-isu perpecahan, yang memecah komunitas dan bukannya menyatukan," tambahnya.

Isu migrasi, identitas

Tapi Anda salah jika menganggap festival ini semata memberi panggung kepada nilai-nilai tradisi.

Walaupun tema besarnya tentang solidaritas, seperti yang dinyatakan pendiri dan direktur UWRF, Janet DeNeefe, saat pembukaan, festival ini juga membahas isu migrasi, identitas, serta persatuan.

"Salah satu tajuk besar seputar Tat Tvam Asi yang akan dibahas di UWRF adalah mengenai pembatas dalam suatu bangsa," jelas Janet.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Anastasia Lin, pesohor Kanada berdarah Cina yang pernah dicekal Cina karena sikap kritisnya.

Itulah sebabnya ditampilkan aktris dan pegiat HAM asal Kanada, Anastasia Lin dalam pembicara kunci saat pembukaan festival. Dia mengkritik dugaan praktik pelanggaran HAM di Cina, negara asal nenek moyangnya.

Masalah perdagangan manusia juga disorot dalam festival ke-13 ini, yang menghadirkan Shandra Woworuntu.

Dia adalah warga Indonesia yang dipaksa menjadi pekerja seks di AS. Belakangan dia mendirikan Yayasan Mentari untuk mendampingi orang-orang yang menjadi korban.

"Ini proses panjang, saya tidak langsung bisa menjadi penyintas," kata Shandra dalam diskusi bertema Surviving Slavery.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Eko Kurniawan, salah satu sastrawan bintang UWRF 2016

Di hari kedua, peserta festival juga telah mendengarkan langsung orang-orang yang meninggalkan negaranya yang hancur karena konflik. Mereka kemudian menjadi penulis atau aktivis.

Di hadapan peserta, komponis dan pianis Indonesia, Ananda Sukarlan juga berbagi pengalamannya dalam 'bersentuhan' dengan karya-karya penulis Spanyol Miguel de Cervantes dan Federico Garcia Lorca.

"Buat saya, pembatas itu tidak ada lagi," katanya kepada saya usai tampil sebagai pembicara.

Walaupun lama tinggal di Spanyol (dan terpengaruh kuat oleh puisi-puisi Lorca dalam karya musiknya), toh Ananda mengatakan justru itu memperkokoh identitasnya sebagai orang Indonesia.

"Justru saat kita go global, kita harus semakin kuat identitasnya. Kalau nggak, kita akan menjadi kuman di dunia yang begitu luas," tegasnya.

Kembali lagi ke tema besar festival ini. Usai tampil sebagai pembicara kunci (key note speaker), penulis dan wartawan Seno Gumira Ajidarma ditanya wartawan tentang istilah solidaritas di tengah keberagaman yang diberi posisi penting dalam UWRF tahun ini.

"Kita jangan mimpi besar bahwa dengan Tat Tvam Asi, dengan sendirinya semua beres," tegas Seno.

Dia juga membayangkan, festival ini bisa menjadi semacam oase ketika di berbagai sudut dunia masih dihantui kekerasan dan kebencian.

"Banyak orang-orang yang sudah lama tersingkir, karena menolak apa yang dipaksakan. Dan mereka mendapat tempat di sini," katanya.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Jenar Mahesa Ayu, Slamet Rahardjo, Wregas, Joko Anwar : para sineas berbagai generasi

Ditanya upayanya agar suara-suara itu bisa bergaung ke luar, Seno mengatakan ini hanya soal kemampuan untuk membaginya.

"Ya tugas media, menjadikannya bergaung," katanya.

Soal seberapa besar gaung itu, saya lantas menghubungi novelis Eka Kurniawan, yang telah melahirkan beberapa enam novel yang salah-satu diantaranya telah meraih penghargaan dunia.

"Karya sastra secara umum selalu mencoba merebos perbedaan-perbedaan itu," kata Eka, yang juga menjadi pembicara dalam festival Ubud.

Dia juga tidak memasalahkan seberapa besar dampak yang dihasilkan karya sastra untuk melakukan perubahan.

"Suara-suara kita bukan suara yang sangat keras dan bising," kata Eka, perlahan.

"Tapi semacam suara bisikan yang lembut yang, siapa tahu, suara bisikan itu jauh lebih penting masuk dalam kepala kita".

Berita terkait