Berdialog dengan indera: Sebuah dialog seni rupa Korea-Indonesia

Dialogue with the senses Hak atas foto BBC INDONESIA

Sejumlah perupa Indonesia dan Korea memajang karya-karya yang melintasi batas seni rupa dan menjelajahi wilayah-wilayah bermacam panca indera.

Berlangsung di Galeria Fatahillah, Kota Tua, Jakarta sejak 21 Oktober hingga 3 November, melibatkan lima seniman Indonesia dan empat seniman Korea, ini pameran kerjasama Korea-Indonesia ke-empat, sejak 2013.

Kurator andal Korea, Jeong-ok Jeon menyebut, kali ini pameran berangkat dari pikiran bahwa kehidupan modern mengutamakan pikiran dan logika, namun kurang memberi tempat dan nilai yang sepantasnya pada indera, dan bahwa seni kontemporer cenderung sulit dicerna.

"Jadi juga berpikir, bagaimana membuat pameran yang membuat publik bisa mengakses seni kontemporer dengan mudah, asyik dan menyenangkan," kata perempuan kurator ini.

"Maka dipilihlah sembilan seniman ini, yang karya-karyanya belum sepenuhnya jadi atau tuntas kalau belum ada keterlibatan publik, Jadi karya-karya mereka baru akan benar-benar jadi karya yang tuntas, kalau audiens sudah berpartisipasi, dengan menyentuh, dengan menyalakan sesuatu, dll," papar Jeong-ok Jeon pula.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Karya Anang Saptoto, membaurkan wujud nyata peralatan bulutangkis dengan gambar dua dimensi dan efek optik.

Sejak masuk ruang pameran, kita langsung ditawari suasana penjelajahan inderawi itu, seperti pada beberapa karya Anang Saptono, yang berangkat dari tema olah raga. Ia mengeksplorasi pendekatan anamorfik, atau proyeksi perspektif. Kita dipersilakan untuk bergerak dan di beberapa titik yang disiapkan, kita bisa melihat efek-efek itu.

'Dialogue with the Senses' atau dialog dengan panca indera, begitulah tema pameran tahun ini, kadang mengeksplorasi berbagai wilayah penginderaan yang berbeda secara bersamaan.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Karya Heri Dono: Trio Angels (2014)

Seniman terkemuka Heri Dono menampilkan karya lamanya, Trio Angels, Tiga Malaikat, yang dibuatnya tahun 2014. Sebagaimana karya-karyanya yang lain, tiga sosok boneka kayu bersayap bercita rasa tradisional ini dibenturkan dengan peralatan elektronik dasar, dengan kapel dan lampu, dan bunyi-bunyi elektronik dari masa teknologi lampau. Penonton perlu menginjak pedal untuk menghidupkan karya ini dan memperoleh sensasinya.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Ella Nurvista: Opposite - Sucker Zucker

Ella Nurvista membenturkan kita dengan cara yang sedikit jahil. Seniman Yogyakarta ini memang belakangan banyak mengeksplorasi ihwal makanan dengan kelompoknya, Bakudapa. Dan melalui karyanya Opposite- Sucker Zucker, ia menghadapkan kita pada rasa yang kaya perspektif. Ia membentuk kembang gula bagai berlian permata mahal. Sebagian dalam potongan-potongan kecil dikemas secara rapi -dijual pula, dan mahal. Dan cicipilah kembang gula itu: manis di awal, dan pada ujung rasa, pahitnya minta ampun.

Ia rupanya membawa kita pada perspektif sejarah: bagaimana pada masanya dulu, Belanda dengan tanam paksa membuka perkebunan tebu -tanaman berasa manis itu, dan para buruhnya, para inlander, hidup dalam pahit dan getir.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Park Seung Soon: Symphonie Aquatique

Seniman Korea Selatan, Park Seung Soon: Symphonie Aquatique membangun karyanya sebagai suatu peristiwa. Kita harus masuk suatu ruangan gelap, berlampu biru. Dengan meja panjang penuh cawan air, yang terhubung dengan pembangkit bunyi melalui suatu sensor. Saya memainkan semua cawan berbagai irama, berbagai kecepatan, dan muncul bebunyian musik Indonesia -yang saya ciptakan melalui percikan dan kocokan air di mangkuk.

Hak atas foto Ging Ginanjar
Image caption Hye Rim Lee: Obsession / Love Forever

Seniman korea Hye Rim Lee menampilkan karya yang'cantik' penampakannya: Obsession / Love Forever. Berupa tiga bidang animasi atas tiga bentuk botol parfum yang menyertakan di dalamnya bola-biola warna-warni dan tiga peralatan pengindar manusia: mulut, tangan, mata.

Penampakan yang cantik juga muncul dari Jangdna, karya Kim Hyung Joong, yang juga disiapkan di suatu ruangan gelap. Kita dipersilakan mengucapkan apapun minimun enam detik pada mikrofon, yang lalu diterjemahkan menjadi gambar-gambar di layar dalam konsep DNA.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Ricky Janitra: Illogical Room

Seniman asal Bandung, Ricky Janitra melalui Illogical Room, menghadirkan sebentuk ruangan juga, namun dibentuk dengan bentangan-bentangan kain dari kain kelambu bagai labirin mini, dengan video map yang menampilkan jutaan angka-angka biner: 0 dan 1.

Fajar Abadi menampilan instalasi berbasis makanan: aromaterapi yang membawa harum masakan rumah, makanan kampung Korea dan makanan kampung Indonesia.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Kurator Jeong-Ok Jeon dan karya Choi Suk Young: Interactive Sea Drawing

Pameran ini juga menyediakan ruang bagi keterlibatan anak-anak, melalui karya Choi Suk Young: Interactive Sea Drawing. Yang unik, karya ini dibuat pertama-tama di dalam laut, oleh Choi Suk Young yang justru tak bisa berenang. Dipapar kurator Jeong-Ok Jeon: "Dia ini terpesona oleh keindahan laut di Cebu Filipina, lalu menyelam dan membuat film, yang dirancang untuk karrya tiga dimensi," kata Jeong-Ok Jeon, sambil mempersilakan penggunaan headset video, yang mengubah pandangan jadi seakan berada dalam laut.

Lalu sang seniman mengembangkan pula partisipasi publik, terutama anak, dengan mempersilakan mereka melukis hewan-hewan laut, yang lalu dipindai. Dan hasil pindaian itu akan muncu di layar besar, bergerak, bersama hewan-hewan laut asli yang direkam sang seniman di kedalaman laut Cebu.

Kurator Jeong-Ok Jeon menegaskan, pameran ini juga mempertanyakan kedudukan indera penglihatan, mata, dalam apresiasi seni rupa. "Kami menggugatnya, dan ingin agar kita memberi kedudukan yang sama pada indera lain seperti pendengaran, penciuman, rasa dan sentuhan, sebagai dasar nalar yang sama dalam penciptaan dan penikmatan seni."

Berita terkait