Apakah pernikahan anak di bawah umur benar-benar terjadi setiap tujuh detik?

Penikahan anak di bawah umur Hak atas foto Getty Images
Image caption India adalah negara penyumbang terbesar dalam pernikahan anak di bawah umur.

Dalam setiap tujuh detik, setidaknya ada satu gadis cilik berusia di bawah 15 tahun menikah, demikian ungkap kelompok pegiat hak anak Save the Children dalam laporan terbarunya.

Apakah statistik yang mengejutkan ini benar adanya?

Laporan kelompok pegiat tentang pernikahan anak tersebut dimuat oleh media-media berita di seluruh dunia seperti BBC, CNN, Pakistan Tribune Express, The Australian, dan masih banyak lagi.

Jika itu benar, berarti ada sekitar 4,5 juta anak perempuan menikah setiap tahunnya.

Pernikahan anak merupakan hal buruk. Jadi apakah angka pernikahan anak ini akurat?

Mengumpulkan data tentang pernikahan anak bukan hal mudah, paling tidak karena di berbagai belahan dunia hal itu merupakan tindakan ilegal.

Laporan kelompok pegiat hak anak-anak Save the Children menggunakan angka-angka ini dari Badan Anak-anak PBB (UNICEF).

Ini, pada gilirannya, digunakan sebagai survei rumah tangga internasional, yang membantu mendanai di lebih dari 100 negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

UNICEF berfokus pada tanggapan dari perempuan berusia antara 20 dan 24 tahun. Mereka terdiri dari orang-orang yang sudah menikah secara resmi maupun yang belum menikah resmi atau tinggal dengan pasangan.

Republik Afrika Tengah dan Chad memiliki tingkat perkawinan anak tertinggi, di setiap negara sekitar sepertiga dari perempuan yang berusia 20-24 tahun mengatakan mereka telah menikah sebelum usia mereka mencapai 15 tahun.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Mengakhiri pernikahan anak pada tahun 2030 adalah salah satu target pembangunan berkelanjutan PBB.

Pendekatan model 'bermasalah'

UNICEF mengambil survei ini sebagai titik awal, badan ini memperkirakan bahwa secara global, pada tahun 2015, sebanyak 7,5% wanita berusia 20-24 tahun telah menikah sebelum usia 15 tahun.

Kelompok Save The Children menggunakan persentase ini untuk menyusun jumlah perempuan yang terdampak di seluruh dunia, dan kemudian membaginya ke dalam hitungan tahun kemudian detik, hingga mencapai angka anak berusia di bawah 15 tahun menikah setiap tujuh detik.

Kini, ada banyak masalah dengan model pendekatan ini, misalnya, risiko bahwa para responden yang terlibat dalam survei tidak akan memberikan jawaban yang jujur.

"Sebagai pemerintah, masyarakat sipil dan lain-lain menyebarkan pesan bahwa pernikahan anak tidak dapat diterima -dan dalam banyak kasus, hal ini melawan hukum- dan hanya sedikit orang-orang yang mengakui hal itu," kata Suzanne Petroni, direktur senior di Pusat Internasional untuk Penelitian Perempuan.

Lalu ada tempat-tempat di mana data survei tidak tersedia; para peneliti harus membuat perkiraan terbaik yang bisa mereka gunakan untuk beberapa negara. Dan kemudian ada masalah yang populasi global sangat sulit untuk diperkirakan.

Tapi terlepas dari semua itu, data perkiraan yang dihimpun organisasi Save the Children berdasarkan pada data termutakhir.

Namun, ada beberapa kabar baik

"Secara keseluruhan kita bisa mengatakan bahwa prevalensi pernikahan anak menurun," kata Claudia Cappa, spesialis data di UNICEF. "Ini tidak secepat yang kita inginkan, tapi secara keseluruhan sudah ada penurunan."

Penurunan tersebut dari angka sekitar 12% pada tahun 1985 menjadi sekitar 7,5% hari ini (ingatlah bahwa ini adalah proporsi perempuan yang berusia antara 20-24 tahun yang mengatakan mereka menikah sebelum usia 15 tahun).

Perbedaan kawasan

Ada perbedaan besar di tingkat regional. Ada penurunan di wilayah Asia dan Timur Tengah, namun tingkat perkawinan anak masih di atas rata-rata global yang ada.

Ada berbagai variasi di antara berbagai benua, dan bahkan di banyak negara.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Para demonstran di Ankara, Turki berunjuk rasa dengan membawa spanduk bertuliskan "Cukup, kami tidak ingin ada pernikahan anak."

"Sejak tahun 1990, prevalensi pernikahan anak di Afrika terbagi dua di antara negara-negara terkaya, tapi sayangnya, di antara negara-negara termiskin tingkat permikahan anak ini tetap tidak berubah," kata Cappa.

"Jadi jelas kemiskinan merupakan variabel penting, bersama-sama dengan praktik-praktik budaya."

Mengakhiri pernikahan anak pada tahun 2030 adalah salah satu target pembangunan berkelanjutan PBB. Dan jika hal itu tercapa, perubahan dramatis dibutuhkan di satu negara lebih dari yang lain yakni India.

Data terakhir menunjukkan bahwa India menyumbang hampir setengah dari semua gadis muda yang menikah sebelum ulang tahun mereka yang ke-15, secara global.

Tapi data "terbaru" menunjukkan anak-anak gadis itu menikah pada usia 10 tahun, yang berarti beberapa gadis menikah pada tahun 1990-an.

"Indikasi awal dari data di distrik dan tingkat negara di India menunjukkan bahwa kita dapat mengharapkan untuk melihat penurunan signifikan dalam tingkat perkawinan anak ketika Survei Kesehatan Keluarga Nasional yang diterbitkan di tahun depan," kata Petroni.

Dan jika itu terjadi, artinya ada pengurangan besar dalam angka global.

Topik terkait

Berita terkait