Nenek usia 105 tahun pelopori pembangunan toilet di India

Image caption Kunwar Bai Yadav menjadi terkenal di desanya setelah membangun toilet di rumahnya.

Pada hari Selasa (1/11), Dhamtari menjadi distrik pertama di Negara Bagian Chhattisgarh, India tengah, yang dinyatakan bebas dari buang air besar sembarangan.

Dan penghargaan ini diberikan kepada Kunwar Bai Yadav, seorang perempuan yang mengaku usianya 105 tahun. Ia menjual beberapa ekor kambing peliharaannya yang merupakan aset satu-satunya untuk membangun toilet di rumahnya.

Wartawan BBC, Geeta Pandey mengunjungi kediamannya untuk mendengar kisah inspiratifnya.

Desa Kotabharri berjarak tak lebih dari 100 km dari Raipur, ibukota Chhattisgarh, dihuni oleh 18 keluarga, yang tergusur akibat pembangunan bendungan di sungai Mahanadi, akhir tahun 1970-an.

Desa kecil yang hampir tak terpetakan ini susah dibayangkan untuk menjadi lokasi dari suatu revolusi, dan warga tertua di desa ini, Kunwar Bai Yadav, sulit diandaikan sebagai seorang revolusioner.

Tapi, dalam satu tahun terakhir, nama Yadav dan desanya telah tercatat dengan huruf-huruf besar dalam perjalanan negara bagian itu untuk bebas dari kebiasaan buang air hajat di alam terbuka.

Image caption Toilet yang dibangun oleh Nyonya Yadav dengan biaya sekitar Rp4,2 juta.
Image caption Nyonya Yadav mengaku berusia 105 tahun.

Hari Selasa (1/11), ia menjadi seorang pesohor lokal, ia banyak dicari oleh sesama warga desa dan para pejabat penting pemerintahan yang menggambarkan dirinya sebagai 'maskot' mereka dalam kampanye untuk mengakhiri buang air besar di tempat terbuka di negara bagian itu.

Awal tahun ini, Perdana Menteri Narendra Modi membungkuk di hadapannya dan menyentuh kakinya untuk menunjukan penghargaan terhadap upayanya.

Pada hari Selasa, Modi kembali ke negara bagian itu untuk menyatakan bahwa distrik Dhamtari telah bebas dari kebiasaan buang air besar di tempat terbuka.

Jadi bagaimana Dhamtari, distrik dengan 800.000 penduduk, sampai kepada titik ini? Tanyakanlah hal ini kepada siapapun di negara bagian itu, dan mereka akan menunjuk Nyonya Yadav.

Dua tahun lalu, pemerintah Modi meluncurkan gerakan Swachh Bharat Abhiyan (Kampanye India Bersih), dengan tujuan utama menumpas kebiasaan buang hajat di alam terbuka di India itu.

Peluncuran kampanye ini berlangsung pada 2 Oktober 2019 bertepatan dengan ulang tahun kelahiran Mahatma Gandhi yang ke 150.

Hak atas foto PRESS TRUST OF INDIA
Image caption Awal tahun ini, Nyonya Yadav diberi ucapan selamat oleh Perdana Menteri Narendra Modi.
Image caption Kunwar Bai Yadav menjual tujuh kambingnya untuk membangun toilet.

India dibuat malu oleh angka resmi yang menunjukkan kebiasaan bahwa setengah penduduk India yaitu 550 juta rakyatnya, buang hajat sembarangan.

Ini dihadapkan pada fakta bahwa lebih banyak orang yang memiliki akses ke ponsel dibanding toilet -dan ini menjadi bahan ejekan tentang prioritas yang salah.

Pemerintah pun meluncurkan kampanye besar-besaran untuk mendorong orang-orang membangun toilet dan para pejabat dikirim ke berbagai daerah terpencil untuk memberitahu orang-orang tentang manfaat mengakhiri buang air besar di tempat terbuka.

Dan itulah saat Nyonya Yadav, yang sudah satu abad lamanya pergi ke hutan dekat desanya jika hendak buang hajat, mendengar tentang toilet untuk pertama kali dalam hidupnya.

"Pejabat distrik mengunjungi sekolah di sini untuk memberikan ceramah. Saya juga datang dan di sana ia berbicara tentang membangun toilet. Sampai saat itu, saya tidak tahu tentang toilet dan tidak pernah berpikir tentang hal itu," katanya.

"Tapi apa yang ia katakan membuat saya jadi berpikir. Sepertinya ini ide yang baik."

Image caption Nyonya Yadav terkenal atas kontribusinya terhadap Kampanye India Bersih.
Image caption Kunwar Bai Yadav lebih miskin dibanding para tetangganya.

Kunwar Bai Yadav tidak pernah menempuh pendidikan formal, ia pun tidak memiliki akte kelahiran, jadi tidak ada cara untuk mengukuhkan bahwa ia berusia 105 tahun, tapi guratan di wajahnya, punggungnya yang membungkuk dan penglihatannya yang sudah memudar, merupakan kesaksian atas panjangnya masa hidup yang telah ia lalui.

Dalam beberapa tahun terakhir, ia merasa kesulitan untuk menempuh perjalanan sehari-hari ke hutan untuk buang hajat, dan sudah dua kali ia jatuh dan terluka.

"Saya pikir saya akan terlepas dari semua masalah jika membangun toilet di rumah sendiri," katanya.

"Tapi saya tidak punya uang, jadi saya mulai berpikir bagaimana saya akan mendanainya. Modal saya hanya 20-25 ekor kambing, jadi saya menjual tujuh ekor seharga 18.000 rupee (atau sekitar Rp3 juta). Mengingat saya masih kekurangan dana, menantu saya yang bekerja sebagai buruh harian menyisihkan uangnya untuk membantu saya dan kami berhasil mengumpulkan cukup uang untuk membangun toilet," jelasnya.

Ia memperkerjakan empat orang buruh untuk membangun toilet senilai 22.000 rupee (atau sekitar Rp4,2 juta) selama 15 hari.

Image caption Nyonya Yadav tinggal bersama menantu dan anggota keluarga lainnya.
Image caption Nyonya Yadav sudah banyak menerima penghargaan atas upayanya dalam membangun toilet di rumah.

Toilet yang pertama kali dibangun di desanya itu, langsung menjadi buah bibir.

Para tetangga berdatangan melihat toilet itu. Dalam beberapa minggu, petani-petani dari desa-desa terdekat juga mulai mencobanya, banyak dari mereka yang mulai membangun toilet sendiri. Dalam tempo setahun, setiap rumah di desa ini sudah memiliki toilet.

"Awalnya sebagian besar warga desa tidak mau membangun toilet di rumah karena mereka terbiasa buang hajat di tempat terbuka," kata Vatsala Yadav, kepala dewan untuk desa Kotabharri dan Barari.

"Kunwar Bai mempeloporinya dan semua orang di desa mengikutinya. Dan kemudian, menyebar ke seluruh Barari, yang sampai tahun lalu, hanya 60 dari 338 rumah yang memiliki toilet. Sekarang setiap rumah telah membangun toilet sendiri," tambahnya.

Image caption Di desa tempat Nyonya Yadav tinggal, orang-orang yang kedapatan buang air besar di tempat terbuka dikenakan denda seharga Rp97.000.

"Sebelum ini, orang-orang akan mengatakan, 'Kami terlalu miskin, bagaimana kami bisa membangun toilet'," kata Johan Singh Yadav, agen asuransi dan suami sang kepaal dewan, Vatsala Yadav ini.

"Tapi Kunwar Bai membungkam semuanya. Ia lebih miskin dari kebanyakan orang lain di sini dan sekarang orang-orang mengatakan, 'jika ia bisa melakukannya, kita juga bisa. Ia telah memberikan solusi."

Namun, membangun toilet-toilet itu bukan jaminan orang-orang akan menggunakannya dan tantangan terbesar, kata pejabat distrik Dhamtari CR Prasanna, adalah mengubah pola pikir.

"Orang-orang terbiasa buang air besar di tempat terbuka dan sulit untuk mengubahnya. Saya bisa membangun toilet, itu memang mudah, tetapi mengubah pola pikir jauh lebih sulit."

Image caption Kuwar Bai memimpin upaya pembangunan toilet dan semua orang mengikuti jejaknya.

Untuk mengatasi masalah itu, pemerintah telah membentuk "pasukan hijau," yakni kelompok-kelompok laki-laki dan perempuan yang bergerak di pagi dan malam hari -ketika sebagian besar warga desa menuju ke ladang dan hutan- untuk memeriksa apakah mereka buang hajat di tempat terbuka.

Diselenggarakan juga permainan jalanan untuk mengajarkan orang tentang sanitasi, dan orang-orang seperti Nyonya Yadav juga diikutsertakan untuk mendorong agar orang-orang mencontohnya.

Kunwar Bai Yadav, yang menghabiskan sepanjang hidupnya dalam ketidak-pastian nasib dan tidak pernah keluar dari desanya sampai awal tahun ini, diundang untuk bertemu perdana menteri dan menjadi semacam selebriti baru.

Image caption Para pejabat mengatakan sekarang setiap rumah di distrik Dhamtari memiliki toilet sendiri.

"Sepanjang hidup saya, saya meninggalkan rumah di pagi hari untuk menggembala kambing atau bekerja sebagai buruh dengan upah harian. Saya sudah melahirkan 12 anak, banyak dari mereka meninggal saat masih muda. Selama bertahun-tahun, saya sudah kehilangan delapan anak dan suami saya. Kemiskinan telah melumpuhkan kami, kami berjuang setiap hari dengan kelaparan untuk bertahan hidup," katanya.

"Saya tidak pernah membayangkan suatu hari saya akan menjadi begitu terkenal. "

Bagaimana pun, ia pantas untuk menyandang ketenaran itu, kata Prasanna, sang pejabat distrik.

"Ia telah menginspirasi seluruh negeri. Dan karena perdana menteri membungkuk di hadapannya, ia menjadi nama yang dikenal di seantero Chhattisgarh.

"Ia menjadi maskot untuk kampanye Swachh Bharat. Ia menjadi poster girl, gadis teladan kami," katanya.