Pedagang makanan di Bandung ikuti larangan styrofoam

styrofoam, lingkungan, sampah Hak atas foto Spencer Platt/Getty Images
Image caption Wadah styrofoam untuk makanan tidak boleh digunakan lagi di Kota Bandung, Jawa Barat (ilustrasi).

Pelarangan penggunaan styrofoam di Kota Bandung, Jawa Barat, mulai berlaku 1 November lalu. Pada Rabu (2/11), aturan itu tampak dipatuhi sejumlah pedagang.

Ida, seorang pedagang makanan, mengaku menerima surat edaran tentang larangan itu dari Kelurahan Jatisari, wilayah tempat ia berjualan.

"Tadi siang (Rabu 2 November 2016) saya terima surat edarannya. Surat larangan styrofoam," kata Ida saat ditemui Julia Alazka, wartawan di Bandung yang melaporkan untuk BBC Indonesia.

Ida mengaku telah berhenti menggunakan styrofoam sebagai wadah makanan, pekan lalu. Perempuan itu mengganti kemasan styrofoam dengan kertas nasi untuk makanan kering dan kantong plastik tahan panas untuk makanan berkuah.

Ida menyatakan tidak keberatan dengan pelarangan itu.

"Biar praktis aja tadinya. Kalau orang kantoran beli kan biar pantas dibawanya," ujar perempuan 38 tahun itu.

Berdampak pada harga makanan

Mengganti kemasan Styrofoam dengan kemasan lain juga dilakukan warung bubur ayam Mang Oyo.

Ivan Firmansyah, sosok pengembang bisnis warung tersebutg H. Oyo, mengatakan, pihaknya sudah mengganti kemasan styrofoam dengan kertas dan wadah plastic foodgrade per 1 November 2016.

Penggantian kemasan itu, diakui Ivan, berdampak signifikan pada kenaikan harga bubur. Pasalnya, harga wadah plastik lima kali lipat lebih mahal dari styrofoam.

"Kenaikan harga mencapai dua ribu rupiah untuk setiap menunya," katanya.

Hak atas foto Julia Alazka
Image caption Sebelum larangan styrofoam diberlakukan di Kota Bandung, Fitri biasa memakai wadah tersebut untuk membungkus seblak.

Meski demikian, Ivan mengaku tidak khawatir karena sejauh ini respons konsumen tetap positif.

"Pembeli juga sepertinya sudah tahu dan paham tentang adanya larangan menggunakan styrofoam," ujar Ivan.

Sementara itu, Fitri, seorang penjual makanan seblak, pasrah dan terpaksa mengikuti kebijakan tersebut. Sebelumnya, sebagai penjual kuliner khas Bandung itu, Fitri kerap menggunakan styrofoam untuk membungkus makanannya.

"Ya mau bagaimana lagi? Kalau saya tidak patuhi, saya bakal kena denda. Percuma dong saya berdagang karena hasilnya buat bayar denda," ujar Fitri.

Bahayakan kesehatan

Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, menyatakan ada setidaknya tiga alasan di balik kebijakan pelarangan styrofoam.

"Satu, membahayakan kesehatan. Dua, tidak bisa terurai di lingkungan. Yang ketiga, sumber banjir di Bandung ternyata ditemukan kantong plastik dan styrofoam. Nah, alasan-alasan prolingkungan membuat kita mengeluarkan pelarangan styrofoam," kata Ridwan kepada Julia Alazka, yang melaporkan untuk BBC Indonesia.

Ridwan Kamil berdalih bahwa sejatinya ada banyak pengganti styrofoam. Menurutnya, pembeli makanan bisa membawa wadah sendiri, lalu ada wadah yang terbuat dari bambu.

"Kenapa styrofoam populer? Karena harganya murah, Cuma Rp250. Sekarang saatnya mengubah kemalasan yang membahayakan menjadi lebih repot sedikit, tapi ramah lingkungan.

Hak atas foto Julia Alazka
Image caption Sampah plastik dan styrofoam, menurut Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, merupakan sumber utama banjir.

Kebijakan pelarangan styrofoam sejauh ini menuai apresiasi dari kalangan masyarakat Bandung dan lembaga Wahana Lingkungan Hidup atau Walhi. Namun, Walhi menyayangkan belum ada payung hukum yang kuat untuk pelarangan styrofoam.

"Semestinya ada aturan khusus yang melarang styrofoam, apakah itu peraturan wali kota atau apapun itu, yang memiliki kekuatan hukum. Sehingga tiada lagi orang yang melanggar dan mencari celah-celah hukum," kata Deputi Walhi Jawa Barat, Dwi Retnastuti.

Kritik bahwa larangan styrofoam tidak memiliki payung hukum dan tiada sanksi tegas ditepis Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil.

Dia mengaku memang tiada aturan khusus pelarangan styrofoam, namun dia masih berpegang pada Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Sampah Kota Bandung

Lepas dari perdebatan mengenai unsur hukum, pelarangan styrofoam sebagai wadah makanan akan berimbas positif untuk kesehatan masyarakat.

Berdasarkan penelitian jurusan Teknik Lingkungan ITB pada 2011, jumlah sampah Styrofoam setiap bulan di Bandung mencapai 27 ton. Dari jumlah itu, 9,8 ton di antaranya berasal dari rumah tangga.

Namun, dengan volume sebesar itu, styrofoam tidak bisa didaur ulang.

"Dalam proses pembuatan styrofoam, zat chlorofluorocarbon atau CFC ikut terlibat. Zat itu bermasalah bagi lingkungan. Setelah jadi pun, styrofoam tidak bisa terurai. Ini tambah masalah lagi," ujar Enri Damanhuri, dosen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung

Bandung adalah kota pertama di Indonesia yang melarang styrofoam. Sebelumnya, Kota New York di Amerika Serikat dan Kota Oxford di Inggris menerapkan langkah serupa.

Topik terkait