Starbucks mengejar pasar kafein di Cina

starbucks Hak atas foto Getty Images
Image caption Keuntungan Starbucks naik menjadi sekitar Rp54 triliun dalam setahun ini.

Pimpinan Starbucks, Howard Schultz, mengatakan perluasan di Cina akan mengamankan masa depannya selama "puluhan tahun ke depan".

Meskipun Starbucks masih mendapatkan sebagian besar keuntungannya di Amerika Serikat, Schultz mengatakan kafe-kafenya di Cina adalah yang paling efisien dan menguntungkan.

Hal ini dinyatakan sementara sebagai jaringan kafe kopi terbesar dunia tersebut mengumumkan "kuartal paling menguntungkan, mengakhiri tahun paling menguntungkan".

Keuntungan operasi naik 16% menjadi US$4,2 miliar atau Rp54 triliun dalam setahun ini.

Bulan lalu, Starbucks mengumumkan sejumlah rencana untuk menggandakan kafenya di Cina menjadi 5.000 pada tahun 2021.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Schultz menggunakan kehausan Cina akan kopi untuk keuntungan perusahaannya.

Dalam kuartal keempatnya, keuntungan Starbucks di Cina dan Asia Pasifik meningkat 48% menjadi US$192 juta atau Rp2,5 triliun, dengan dukungan pembukaan hampir 100 kafe baru.

Meskipun demikian, penjualan di dunia lewat kafe yang ada meningkat hanya 4% pada kuartal tersebut, lebih rendah dari peningkatan 4,9% yang diperkirakan para pengamat.

Perusahaan tersebut menyatakan perubahan tingkah laku konsumen yang menjadi penyebab utamanya.

Lewat apa yang disebut Schultz sebagai "perubahan besar lalu lintas konsumen", kepopuleran belanja di internet membuat orang tetap berdiam di rumah, menjauh dari jalan dan mal.

Di Eropa, Timur Tengah dan Afrika, penjualan bahkan turun 1%, sementara di Cina dan Asia Pasifik terjadi peningkatan pada tingkat yang sama.

Perusahaan tersebut mengoperasikan 25.085 kafe di 75 negara, 690 kafe baru dibuka pada kuartal terakhir.

Topik terkait

Berita terkait