Seperlima pasien kanker 'alami diskriminasi'

Terry Foster
Image caption Mantan penderita kanker Terry Foster mengatakan ia kehilangan pekerjaannya lantaran menderita kanker.

Penelitian yang dilakukan oleh lembaga amal Inggris, Macmillan, menunjukkan bahwa hampir seperlima dari orang-orang (18%) yang didiagnosis kanker, menghadapi diskriminasi dari atasan atau rekan-reka mereka setelah kembali bekerja.

Survei dilakukan terhadap 1.009 pasien, kesemuanya didiagnosis penyakit kanker saat masih bekerja, sebanyak 15% karyawan merasa belum siap untuk kembali bekerja.

Lainnya mengatakan bahwa mereka merasa bersalah karena mengambil cuti kerja untuk berobat.

Liz Egan, seorang direktur di badan amal tersebut, mengatakan, "Ini mengerikan, begitu banyak perusahaan tidak memberi dukungan yang tepat."

Dipecat karena terkena kanker

Lembaga amal Macmillan Cancer Support memperingatkan bahwa hal itu penting - dengan satu dari tiga orang yang hidup dengan kanker di Inggris masih dalam usia produktif untuk bekerja - bahwa perusahaan memberikan dukungan yang lebih baik, termasuk menyediakan manajer dengan keterampilan yang tepat.

Survei menunjukkan bahwa 14% dari mereka yang didiagnosis dengan kanker menyerah untuk kembali bekerja atau merasa tidak dibutuhkan lagi.

Terry Foster, 58 tahun, dari Southport, Inggris barat laut, mengatakan kepada BBC bahwa ia "diperlakukan secara menjijikan" oleh atasannya.

Ia didiagnosis limfoma atau kanker kelenjar getah bening pada tahun 2010 dan dirawat intensif selama 19 hari, dan divonis hanya memiliki kesempatan hidup beberapa jam saja.

Para dokter dibuat terkejut olehnya, ia mulai pulih dan, seperti bayi yang baru lahir, ia berharap bisa kembali bekerja sebagai seorang insinyur pendingin.

Ia mengendarai mobilnya selama 2,5 jam untuk bertemu dengan manajernya, tetapi begitu ia sampai, ia diberitahu bahwa dirinya "akan dipecat", katanya.

"Tidak ada sedikitpun pengampunan, tidak ada, seolah-olah saya telah melakukan kesalahan."

Meningkatkan stres

Foster mengatakan bahwa manajernya "dengan gamblang mengatakan bahwa saya dipecat karena menderita kanker - karena mereka merasa saya tidak akan mampu menangani tekanan dalam pekerjaan.

"Itu benar-benar tidak logis, karena itu betul-betul bisa meningkatkan stres pada saya karena saya tidak akan mampu membayar hipotek."

Perusahaan mengirim surat lebih lanjut dan menjelaskan alasan pemecatan Foster. Ia takut mengatakan pada istrinya, dan khawatir mereka tidak mampu mengatasi masalah finansial.

Image caption Perusahaan mengirimkan surat ini kepada Terry bersamaan dengan pemecatannya.

Undang-undang Kesetaraan tahun 2010 dan Undang-Undang Diskriminasi Cacat 1995 di Irlandia Utara - melindungi karyawan dari perlakuan tidak adil karena diagnosis kanker yang dideritanya.

Mereka menyarankan perusahaan untuk membuat "penyesuaian yang wajar" bagi setiap elemen pekerjaan yang menempatkan karyawan pada kerugian yang cukup besar, seperti menampung kerja yang fleksibel untuk mengatasi kelelahan atau memungkinkan karyawan yang masih dalam keadaan belum stabil untuk bekerja.

Foster membawa perusahaan ke pengadilan karyawan, mewakili dirinya sendiri, dan ia memperoleh ganti rugi sebesar £62.000 (sekitar Rp1 miliar) atas pemecatannya yang tidak adil.

Namun, Egan, yang memimpin program Working Through Cancer di badan amal kanker Macmillan, mengatakan banyak orang yang menderita kanker "tidak menyadari bahwa mereka memiliki hak di bawah Undang-undang Kesetaraan.

"Jika orang tidak menyadari hak-hak ini, mereka tidak dapat meminta atasan mereka untuk melakukan penyesuaian bagi mereka. Bahkan, terkadang mereka tidak memberitahu atasannya bahwa mereka terkena kanker," tambahnya.

Topik terkait

Sekitar BBC