Bisakah dongeng ilhami pemberantasan korupsi?

Dongeng Hak atas foto Getty Images
Image caption Dongeng

Kebiasaan mendongeng mulai luntur di tanah air. Berbagai upaya dilakukan seniman dongeng agar tradisi ini terus ada, karena dinilai dapat memperkaya imajinasi anak, bahkan bisa 'memberantas' korupsi.

Akilla dan Hatta, dua bocah yang saya temui di Festival Dongeng Internasional Indonesia 2016 di Jakarta beberapa waktu lalu, menyadarkan saya bahwa anak-anak sekarang ini jarang mendengar dongeng di rumahnya.

"Nggak pernah", sahut Hatta yang masih berusia empat tahun. Saya hanya bisa berbicara dengannya sebentar, karena dia 'sibuk' bermain game di telpon genggam orang tuanya.

Sementara Akilla, tujuh tahun, mengaku hanya "sekali-sekali" didongengkan oleh ibunya di rumah.

Kondisi itu diakui dan mendapat perhatian serius pendongeng kawakan asal Bali, I Made Taro, yang sudah berkecimpung di dunia dongeng lebih dari 43 tahun.

Image caption I Made Taro (kanan) dan anaknya, Gede Tarmada, kerap mendongeng menggunakan musik dan lagu.

"Dulu bercerita itu jadi tradisi lisan; dari orang tua ke anak, atau kakek-nenek ke cucunya. Dilakukan untuk mengantar tidur, atau dikenal sebagai penina bobo. Itu terjadi setiap hari. Nah, sekarang tradisi itu hilang," tutur Made Taro yang terkenal karena dongeng Bawang dan Kesuna serta Bebek Punyah.

Ibu Akilla, Nabilla, menuturkan meski sumber cerita disebutnya tidak sulit didapatkan, dia jarang mendongeng untuk putrinya karena terkadang sulit melawan "ego sendiri".

Image caption Anak-anak mendengarkan dongeng.

"Tinggal orang tuanya, mau atau tidak. Dan menghilangkan rasa lelah (yang sulit), apalagi kalau pulang kerja. Secapek apapun saya, saya harus ceria di hadapan anak. Meskipun hanya 15 menit untuk bercerita, itu butuh effort," ceritanya.

Imajinasi hingga korupsi

Alasan semakin berkurangnya minat orang tua mendongeng itulah yang membuat Ariyo Zidni menyelenggarakan Festival Dongeng Internasional Indonesia 2016.

Menurut pustakawan yang telah mendongeng ke Malaysia, Singapura hingga ke India itu, "siapapun bisa bercerita. Pada dasarnya semua orang senang mendengarkan cerita dan senang bercerita."

Image caption Ariyo Zidni di pembukaan Festival Dongeng Internasional Indonesia 2016.

Dia pun menghadirkan sejumlah pendongeng dari dalam negeri, termasuk I Made Taro, dan beberapa pendongeng asing, misalnya dari Inggris, Korea Selatan dan India. Dengan memperlihatkan bagaimana mereka bercerita, Ariyo ingin orang tua tahu bahwa "mendongeng itu tidak susah dan tidak membutuhkan waktu panjang."

"Tidak perlu harus pakai boneka, pakai nyanyian atau lagu, pakai kekuatan suara saja cukup," ceritanya.

Image caption Dongeng dinilai dapat menambah kosa kata dan memperkaya imajinasi anak.

Laki-laki yang ikut ambil bagian dalam kegiatan trauma healing usai bencana Tsunami Aceh 2004 dan Gempa Bantul Yogya 2006 itu pun menyebut bahwa orang tua harus terus mendongeng karena "banyak hal ajaib" yang bisa diperoleh.

Menurut Ariyo, "seorang anak bisa menambah kosa kata, belajar matematika, memperkuat logika, dan memperkaya imajinasi dari mendengarkan dongeng."

Berdasarkan penelitian, dengan mendengarkan cerita, anak akan menciptakan gambaran mental berbagai karakter dan situasi. Jika si anak diminta untuk menuliskan ceritanya sendiri, maka kemampuan visualisasi di otak tersebut akan menjadi bank ide yang akan membantunya berkarya.

Image caption Festival dongen disambut antusias orang tua dan anak.

"Selain itu dongeng, bahkan dongeng lokal, bisa digunakan orang tua untuk menanamkan nilai-nilai tertentu," lanjut Ario.

Misalnya nilai kejujuran, hormat kepada orang tua dan kerja keras, yang disebut Made Taro sebagai sejumlah sikap dasar "anti korupsi".

"Nilai kejujuran itu lewat cerita Bawang Merah dan Bawang Putih. Malin Kundang, yang menggambarkan kewajiban untuk menghormati orang tua. Dan Timun Mas yang memperlihatkan kerja keras melawan koruptor serakah yang digambarkan sebagai raksasa," sambung Made Taro.

Image caption Mendongeng dinilai bisa mengilhami pemberantasan korupsi.

Lebih jauh lagi, agar anak terhindar dari bibit-bibit sifat korupsi, pendongeng Bali tersebut menekankan orang tua Indonesia harus mulai mengurangi dongeng tentang "orang-orang yang pasrah menerima nasib, dan tiba-tiba diberi peruntungan".

"Misalnya cerita Si Penidur, yang tidak bekerja apa-apa, tahu-tahu ditimpa emas. Itu harus dihindari," cerita Made Taro sambil tergelak.

Melebur dengan gadget

Kepada I Made Taro saya menceritakan bagaimana anak-anak yang saya temui sebelumnya, seperti Hatta, jarang mendengar dongeng tetapi senang bermain gadget.

Menurut pendongeng gaek tersebut, "perkembangan zaman, teknologi itu tidak dapat ditolak, tidak dapat dibatalkan. Gadget itu seharusnya bisa dijadikan media mendongeng. Masukkan cerita ke gadget," tuturnya.

Image caption Jarang mendengarkan dongeng di rumah, Hatta (kanan), tampak antusias saat mendengarkan dongeng di festival dongeng.

Setidaknya tujuh buah dongeng karya Made Taro telah disadur dalam bentuk audio-visual sehingga bisa diakses anak menggunakan berbagai teknologi seperti telepon pintar.

Namun, ketika ide itu saya tanyakan ke sejumlah orang tua yang hadir di festival dongeng, ternyata tidak sedikit yang menolak. Misalnya Septi, yang mengaku masih senang mendongeng langsung untuk anaknya.

"Kalau gadget itu untuk anak lihat gambar-gambar aja lah. Kalau untuk dongeng, mending langsung dari kita, sekalian quality time. Jadi semakin erat, semakin akrab sama anak. Ada ikatannya. Jadi kalau ada apa-apa mau langsung cari kita buat cerita," ceritanya.

Namun, bagaimanapun caranya, menurut Ariyo Zidni, yang penting anak tetap mendengarkan cerita.

Image caption Ternyata ide menggunakan gadget untuk mendongeng, mendapat kritikan sejumlah orang tua.

"Cerita tak harus pilih cerita yang bagus-bagus. Pilih yang kita kuasai. Jadi, nggak perlu meniru pak Made Taro, yang kadang mendongeng menggunakan alat musik. Karena anak tidak memperhatikan orang tuanya harus bercerita seperti apa. Yang penting bagi anak, ada orang tua di samping mereka, bercerita," pungkas Ariyo.

Berita terkait