Menikmati seni kontemporer di Festival Internasional Seni Pertunjukan Salihara 2016

seni Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Speak Percussion menggunakan elemen audio dari pencahayaan

Festival Internasional Seni Pertunjukan Salihara (SIPFest 2016) berlangsung di Jakarta sejak awal bulan Oktober hingga awal bulan November. Menampilkan berbagai karya seni kontemporer di bidang tari, teater dan musik terbaru dari berbagai negara.

SIPFest 2016 ditutup dengan menampilkan tari Eko Supriyanto (EkosDance Company) yang berjudul 'Balabala' pada Minggu (6/11).

Dalam Balabala, lima penari asal Jailolo, Maluku Utara membongkar irama dan bentuk tarian perang Cakalele dan Soya-soya yang biasanya dilakukan oleh laki-laki.

Pentas ini pertunjukan perdana yang akan siap dipentaskan ke sejumlah negara seperti Australia, Jepang, Belgia, Jerman, Belanda dan Taiwan.

Eko Supriyanto merupakan koreografer Indonesia yang telah meraih pengakuan internasional. Ia juga pernah menjadi penari Drowned World Tour untuk Madonna (2001) dan konsultan untuk musikal The Lion King (2000).

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Penampilan 'Balabala' mendapat sambutan meriah dari para penonton

Pada Sabtu (1/10), festival dua tahunan ini dibuka oleh kelompok She She Pop dari Jerman.

Nomor 'The Rite of Spring' akan membuat banyak orang bertanya: apakah ini tari -tapi sedikit sekali unsur gerakan yang tertata di sini- dan perilaku para penampil begitu keseharian; apakah ini teater -tapi tak ada cerita yang ajeg, nyaris tak ada plot.

Ternyata karya ini berangkat dari sebuah karya besar komposer klasik Igor Stravinsky dengan judul yang sama. Tapi jelas ini bukan karya musik.

Nomor Praeamboulum lebih terasa warna tarinya, tata geraknya, sebuah karya koreografi Ingun Bjorngaard dari Norwegia. Tapi tetap saja, batas-batas disiplin seni dijelajahi, dan diuji.

Begitulah warna umum Salihara International Performing Arts Festival ini; karya-karya kontemporer yang bisa susah digolongkan, atau menerabas berbagai batas.

Selain itu ada juga kelompok musik Speak Percussion dari Australia,

Komposisi musik mereka terdengar asing di telinga. Mereka menggunakan elemen-elemen audio baru dan mengolahnya menjadi sebuah aransemen.

Direktur artistik kelompok Speak Percussion Eugene Ughetti berkata tujuannya menciptakan musik agar dapat memikirkan suara dan seni dengan cara-cara baru.

"Saya selalu tertarik pada karya-karya yang membawa saya ke tempat-tempat baru dan membuat saya berpikir tentang bunyi dan seni dengan cara pandang baru", kata Eugene.

"Jadi, aslinya ini adalah perasaan tentang menyimak suatu komposisi dan bukan memahaminya, dan merasa tergugah oleh kemungkinan-kemungkinan bahwa begitu banyak makna dan lapisan kerumitan yang perlu saya latih dari dalam, agar bisa memahami dan mengurai suatu karya. Jadi ini semacam olah intelektual bagi saya."

Speak Percussion adalah salah satu pengusung musik kontemporer terdepan di dunia. Tony Prabowo, kurator SIPFest2016 berkata kehadiran Speak Percussion penting untuk memperkenalkan lebih dalam musik kontemporer kepada segelintir penikmat seni Indonesia, yang kebanyakan berada di Jakarta dan Jogjakarta.

"Penting karena ini adalah musik yang berkaitan langsung dengan teknologi. Digital dan diolah menjadi bunyi baru, bukan lagi bunyi akustik yang tadi dimainkan: Beginilah musik baru itu", kata Toni.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Nyala api dari korek api menjadi elemen audio yang digunakan Speak Percussion
Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Musik kontemporer tidak selalu susah dinikmati penikmat awam

Betapapun, tidak selalu seni kontemporer susah dinikmati atau diikuti oleh penikmat awam.

Salah satu yang cukup berhasil memadukan ekspresi dan penjelajahan baru dengan selera agak umum adalah Tesla Manaf.

Musisi kontemporer muda Indonesia ini bahkan sudah menjalin kontrak dengan sebuah perusahaan rekaman berbasis di New York.

Tesla Manaf lebih banyak dikenal sebagai musisi jazz karena sering tampil di pertunjukan musik jazz. Namun, Tesla yang besar dengan mendengarkan lagu-lagu jazz mantap melabel dirinya sebagai seorang gitaris kontemporer.

Dia berkata pemilihan musik kontemporer muncul dengan alami dalam dirinya.

"Semua yang tiba-tiba muncul bunyinya aneh semua. Tanpa dibuat-buat. Berusaha se-pop apapun saya berkarya, ujung-ujungnya aneh. Ternyata itu adalah musik kontemporer", ujar Tesla.

Sebelum menjalin kontrak dengan MoonJune Records pada November 2012, Tesla bermain musik klasik selama 10 tahun. Begitupun para personil Speak Percussion, sebelumnya mereka fokus bermain di musik klasik.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Tesla Manaf sudah menjalin kontrak dengan sebuah perusahaan rekaman berbasis di New York
Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Tony Prabowo, kurator SPIFest yang juga adalah komponis kontemporer terkemuka

"Rata-rata musik yang dibuat ini kan seperti ngasal yah. Ini apa sih kok mukul-mukul ngasal, bunyi-bunyi ngasal, tapi bagi kita orang klasik, kita bisa pertanggungjawabkan apa yang kita bunyikan. Kita bisa kasih tahu, ini ada artinya lho, ada partiturnya lho. Tapi kalau orang awam dengar, ah ini mah ngasal doang, tapi kita bisa pertanggungakawabkan."

Bersama perusahaan rekamannya, Tesla sudah tur ke Turki, Jepang dan akan tur ke Eropa tahun depan.

Tesla adalah satu dari sedikit seniman kontemporer Indonesia yang bisa berbicara dengan khalayak populer. Salah satu seniman jenis ini yang berhasil adalah mendiang Harry Roesli.

Musik kontemporer, sebagaimana seni kontemporer modern lain, memang merupakan aliran musik yang masih mencari tempatnya di antara para penikmat musik.

Indonesia sebenarnya sudah memiliki tradisi musik kontemporer yang cukup panjang,setidaknya sejak akhir tahun 1970an. Seperti dijelaskan Tony Prabowo, kurator SIPF 2016 yang juga adalah seorang komponis kontemporer terkemuka.

"Ada musisi kontemporer yang berangkat dari musik klasik barat seperti saya dan Otto Sidharta. Ada yang berangkat dari musik tradisi seperti Iwan Gunawan. Ada juga yang berangkat dari world music seperti Ubiet (Nyak Ina Raseuki)", kata Tony.

Berita terkait