Suriah harapkan Donald Trump menjadi sekutu

Pemimpin Suriah mengatakan ia berharap Donald Trump akan menjadi sekutunya dalam memerangi terorisme, tetapi tetap "berhati-hati dalam menilai" sang presiden terpilih AS.

Hak atas foto AFP
Image caption Presiden Bashar al-Assad mengatakan Donald Trump bisa menjadi 'sekutu alami' Suriah.

Bashar al-Assad mengatakan Trump akan menjadi "sekutu alami" jika ia memenuhi janji kampanye untuk memerangi terorisme.

Tapi dia mengungkapkan kesangsiannya bahwa Trump bisa "menepati janjinya."

Sebelumnya Trump mengatakan, merupakan hal yang 'sinting' untuk memusuhi dua belah pihak yang berperang di Suriah: pasukan pemerintah dan kaum militan, dan bahwa memerangi pemerintah Suriah bisa mengakibatkan perang dengan Rusia.

Konflik di Suriah kembali marak setelah militer Suriah dan Rusia kembali melancarkan serangan.

Para pegiat hak asasi melaporkan, Selasa (17/11) kemarin untuk pertama kalinya dalam tiga pekan, pesawat-pesawat pemerintah membombardir wilayah timur Aleppo yang dikuasai pemberontak.

Sejak perang saudara Suriah dimulai Maret 2011, lebih dari 300.000 orang tewas.

Hak atas foto Kementerian Pertahanan Rusia / AFP
Image caption Kapal perang Rusia Admiral Grigorovich meluncurkan rudal dari lepas pantai Suriah, 15 November 2016, dalam serangan pertama sejak jeda keamnusiaan tiga pekan lalu.

Sangat waspada

Dalam wawancara dengan televisi Portugal, RTP Assad mengatakan: "Kami tidak bisa berbicara apa pun tentang apa yang akan dia lakukan, tetapi jika ... ia akan memerangi teroris, tentu saja kita akan menjadi sekutu, sekutu alami sebagaimana halnya dengan Rusia, dengan Iran, dengan banyak negara lain."

Assad mengatakan bahwa janji Trump untuk memfokuskan peperangan hanya pada kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS adalah hal yang 'menjanjikan,' namun ia menambahkan: "Bisakah dia menepatinya?"

"Bagaimana dengan kekuatan penentangnya dalam pemerintahan, media arus utama yang menentangnya? Bagaimana dia bisa menghadapinya? Itu sebabnya bagi kami hal itu masih ragu... Itu sebabnya kami sangat berhati-hati dalam menilai dirinya."

Hak atas foto Reuters
Image caption Sebuah ambulans yang rusak akibat serangan udara di Atareb, barat Aleppo, yang dikuasai pemberontak.

Kebijakan AS saat ini adalah memerangi ISIS dan kelompok pejihad lainnya sambil mendukung pemberontak moderat yang menentang Presiden Assad.

Assad menganggap kelompok-kelompok itu sebagai teroris.

Beberapa media AS, termasuk New York Times, mengisyaratkan bahwa Trump kemungkinan akan mengakhiri bantuan bagi pemberontak yang memerangi Assad karena "kita tidak tahu siapa orang-orang ini."

Dia mengatakan memerangi Suriah dapat mengarah ke perang dengan Rusia dan selama kampanye ia mengungkapkan kekaguman kepada Presiden Rusia Vladimir Putin.

Tokoh Partai Republik John McCain, Senin lalu mengecam rencana Trump untuk menata ulang hubungan dengan Rusia, dan menyebut bahwa hal itu akan menyebabkan "penjagalan rakyat Suriah."

Hak atas foto AFP
Image caption Dalam wawancara dengan stasiun Portugal, Presiden Al-Assad menyambut janji kebijakan baru AS tentang Suriah di bawah Trump, namun meragukan pelaksanaannya.

'Megalomania'

Dalam wawancara terbaru dengan stasiun Portugal itu, Presiden Assad mengutuk lagi kebijakan AS saat ini dengan mengatakan: "Mereka berpikir bahwa mereka adalah polisi dunia, mereka berpikir mereka adalah hakim dunia. Padahal bukan"

Dia juga menyebut Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebagai 'orang sakit' dan 'megalomaniak... hidup di luar dunia nyata.'

Pasukan Turki melakukan operasi militer di Suriah untuk mendukung pemberontak yang menentang Assad.

Sementara itu, kekerasan kembali marak di Aleppo, setelah jeda tiga minggu oleh pasukan pemerintah dan sekutunya, Rusia, mereka untuk memungkinkan pengungsian warga sipil dan pemberontak.

Kelompok pemantau HAM SUriah melaporkan bahwa sedikitnya lima orang tewas.

Berita terkait