Murid-murid di kawasan kumuh Kenya belajar Bahasa Cina

Cina, Afrika, Kenya
Image caption Liu Yimenghan bersama murid-muridnya di Mathare, kawasan kumuh di pinggiran Nairobi.

"Ni hao!" kata sekelompok murid sambil berjalan mendaki ke sebuah gubuk di perbukitan. Sapaan Bahasa Mandarin itu berarti "Apa kabar?"

"Mereka adalah beberapa murid baru saya. (Bahasa) Cina adalah kelas favorit mereka," kata Liu Yimenghan sambil tersenyum besar.

Pusat Chang Rong Light di kawasan kumuh Mathare bisa ditempuh sekitar 15 menit dengan mobil dari ibu kota Nairobi, namun sepertinya terasa amat jauh.

Warung-warung di Mathare menjual buku-buku mewarnai dari Cina, dim sum di atas pemanas, dan anak sekolah yang membawa tas kanvas dari Beijing.

Di sinilah -salah satu tempat termiskin di Kenya- perusahaan-perusahaan Cina menanam modal besar dengan membangun jalan maupun perumahan.

Image caption Ada harapan agar perusahaan-perusahaan Cina menjalin interaksi lebih baik dengan masyarakat setempat.

Banyak perusahaan tersebut juga memberikan perhatian kepada masalah pendudukan, dengan program pelajaran Bahasa Mandarin kepada kaum muda di kawasan pinggiran ibu kota.

"Itu merupakan cara untuk memahami budaya berbeda. Selain mengajari bahasa baru, kami juga memberi pelajaran tentang gaya hidup," kata Liu.

"Tahun depan, kami berharap membawa murid-murid Kenya ke Cina agar mereka bisa berlatih Bahasa Mandarin di sana."

Meningkatkan ketegangan

Bagaimanapun ada keraguan dari masyarakat setempat terhadap motivasi dari program pendidikan Cina ini.

Beberapa warga Mathare yakin bahwa program tersebut justru menciptakan ketergantungan dan bukan mendukung pengembangan kawasan kumuh, sehingga meningkatkan ketegangan dalam beberapa bulan belakangan.

Arting Luo dari Pusat Sino-Afrika, sebuah lembaga kajian- mengatakan investasi dalam pengajaran Bahasa Mandarin tersebut menjadi cerminan yang tidak adil atas keinginan Cina.

Image caption Martin, seorang kondektur, 'tidak suka' dengan kehadiran perusahaan Cina di tempatnya tinggal.

"Perusahaan-perusahaan Cina sering dituding sebagai pencaplok tanah internasional," jelasnya.

"Ada kesalahpahaman atas kepentingan bisnis mereka. Dan ada sejumlah faktor institusional, seperti korupsi, yang membuat komunikasi antara kedua komunitas menjadi lebih sulit."

Namun disadari oleh Luo bahwa ada banyak hal yang bisa dilakukan perusahaan-perusahaan Cina untuk berinteraksi dengan masyarakat setempat.

"Jika mereka lebih berpikiran terbuka dan berbicara dengan kelompok pemangku kepentingan yang lebih besar, maka mereka akan lebih berhasil dalam hubungan masyarakatnya."

Kepemilikan Cina

Di sebuah pasar dekat kantor Pusat Chang Rong Light, saya bertemu dengan Martin, seorang kondektur bus. Posnya terjepit antara dua warung sayur milik orang Cina.

Dia mengatakan baru saja pindah bekerja sebagai pemeriksa tiket bus setelah bertengkar dengan pengusaha Cina.

"Mereka merobohkan warung saya tanpa peringatan," tuturnya.

"Mereka ingin mengambil tanahnya untuk dibangun namun tidak bertanya kepada saya. Mereka datang begitu saja dan merusak warung saya dan menghancurkan usaha saya."

"Sekarang saya harus bekerja di bus."

Keluhan Martin ditanggapi oleh Perusahaan Jalan dan Jembatan Cina, sebuah badan yang bertanggung jawab atas kontrak-kontrak Cina di Afrika timur.

"Penguasaan tanah dan penghancuran sarana adalah tanggung jawab majikan, dan dalam banyak hal, majikan dari proyek prasarana adalah pemerintah," tulis badan itu dalam pernyataannya.

Perusahaan-perusahaan Cina kini menguasai 31% proyek prasarana di Kenya -menurut perusahaan konsultansi, Deloitte- dan angka itu bisa meningkat sampai 50% jika memasukkan program konstruksi dan pendidikan.

Hak atas foto AFP
Image caption Jurang budaya dan bahasa merupakan penghalang utama komunikasi.

Bersamaan dengan meningkatnya investasi Cina, ketegangan antara kontraktor asing dengan warga setempat juga meningkat.

Arting Luo berpendapat bahwa melatih para pekerja Kenya akan bisa membantu meredakan tekanan antara keduanya.

"Kami berharap di masa depan, para peserta latihan itu akan menjadi subkontraktor dari proyek-proyek Cina. Begitu mereka memiliki keterampilan manajemen dan teknologinya, maka beberapa pekerjaan konstruksi bisa diserahkan kepada perusahaan-perusahaan kecil Kenya."

Jurang budaya

Mengingat lebih dari 40.000 warga Cina kini tinggal dan bekerja di Kenya, perbedaan bahasa dan budaya terbukti menjadi salah satu halangan besar.

Lucy Liu dari China House -sebuah lembaga nirlaba yang mendorong keterlibatan perusahaan Cina dan masyarakat Kenya- menegaskan bahwa mengatasai halangan itu amat penting.

"Sulit untuk menjembatani jurangnya karena kedua budaya sangat berbeda, khususnya gagasan tentang batas-batas dan kerangka waktu. Kita melihat orang lain dari perspektif kita, jadi kadang sulit untuk berinteraksi. Semua orang membutuhkan kesabaran besar."

Masalah perlindungan kehidupan alam liar juga menjadi salah satu sumber ketegangan.

"Perdagangan gading membuat Cina memiliki citra yang buruk di Kenya, karena kami (Cina) masih merupakan pasar gading terbesar di dunia.

"Membujuk komunitas Cina di sini agar terlibat amat rumit. Kami berupaya untuk memberi informasi tentang mentalitas Kenya tentang perburuan dan juga berupaya untuk memperbaiki citra orang Cina di kalangan penduduk setempat."

Namun bagi Martin, kedatangan perusahan-perusahaan Cina di kawasan kumuh Mathare sudah berdampak besar, dan... buruk.

"Mereka tidak ingin membantu kami. Mereka mendapatkan banyak uang dari Kenya. Semuanya untuk bisnis."

Topik terkait

Berita terkait