Jembatan kokoh itu bernama Marina Kusumawardhani

Marina Kusumawardhani Hak atas foto Evans Picture Library
Image caption Marina Kusumawardhani terpanggil untuk membantu orang-orang miskin ekstrim dengan berusaha menghubungkannya dengan program pemerintah dan pihak bisnis sosial.

Melalui program bisnis sosial, Marina Kusumawardhani memerankan sebagai jembatan untuk menghubungkan pemerintah dan pemilik modal dengan kaum miskin yang membutuhkan pendampingan dan uluran tangan.

Di sebuah malam, di stasiun kereta api di kota Kalkuta, India, Marina Kusumawardhani mengalami kejadian yang kelak makin meneguhkan pilihan hidupnya untuk membantu orang-orang miskin.

Ketika itu, kira-kira empat tahun silam, perempuan asal Bandung, Jawa Barat ini melihat seekor anjing liar terkapar dan nyaris sekarat tidak jauh dari rel kereta - tempat dia menunggu kereta yang akan membawanya ke kota kecil di dekat punggung pegunungan Himalaya.

"Saya langsung mencari air untuk dikasih ke anjing itu, soalnya dia haus banget," ungkap Marina dalam wawancara khusus dengan BBC Indonesia, Selasa, 18 Oktober 2016.

Dan, saat menuangkan air minum ke mulut anjing nan malang itu, Marina melihat orang-orang yang berada di sekitarnya tertegun dan bahkan ada diantaranya terlihat menangis.

Orang-orang itu, ungkapnya, adalah gelandangan dan kaum miskin yang tinggal di emperan bangunan stasiun. "Bisa dibayangkan kehidupan macam apa yang mereka lalui, kalau mereka menangis melihat itu."

Di titik itulah, Marina mengalami apa yang disebutnya sebagai semacam kesadaran. Dia kemudian terus bertanya-tanya, dan gelisah, dihadapkan kenyataan bahwa di tengah kemajuan teknologi masih ada orang-orang yang "hidup di dunia lain".

Keluar dari stasiun kereta, perempuan kelahiran 1983 ini tak kuasa menahan tangis. Sambil terisak, Marina lantas teringat sosok Mahatma Gandhi.

"Kata Gandhi," ungkapnya dengan nada agak tercekat, "kemiskinan adalah kekerasan paling brutal. "

Dalam cengkeraman kemiskinan itulah, orang-orang yang terjebak di dalamnya sama-sekali tidak memiliki harga diri. "Apapun menjadi budak untuk sepeser atau dua Rupee itu dilakukan. Itu sangat menyedihkan."

Hak atas foto Evans Picture Library
Image caption Pertemuannya dengan peraih Nobel Perdamaian 2006, Muhammad Yunus (kiri), yang dikenal melalui konsep Grameen Bank untuk kaum miskin, makin menebalkan tekad Marina.

Melanglang buana

Lulus dari Teknik Industri ITB Bandung, Marina meneruskan studi ke jenjang berikutnya di Universitas Teknik Wina, Austria. Di negeri itu, dia kemudian bersentuhan langsung dengan ide dan program pengentasan kemiskinan.

Setelah selesai studi, Marina bergabung dalam sejumlah lembaga internasional yang peduli tentang masalah yang sama. Dia mempelajari dan mempraktekkan pendekatan alternatif penyelesaian persoalan kemiskinan di negara-negara terbelakang.

Pengalamannya menolong anjing sekarat di Kalkuta, lalu persentuhannya langsung orang-orang miskin di berbagai negara di Timur Tengah dan Afrika, membuatnya makin sadar untuk berbuat kongkrit - tak hanya studi di belakang meja.

Tetapi, pertemuannya langsung dengan peraih Nobel Perdamaian 2006, Muhammad Yunus, asal Bangladesh, yang dikenal melalui konsep Grameen Bank untuk kaum miskin, makin menebalkan tekadnya.

Seperti diketahui, Muhammad Yunus telah mengembangkan konsep kredit mikro. Ini adalah pinjaman skala kecil untuk orang-orang yang tidak mampu meminjam uang dari bank umum. Yunus mengimplementasikan gagasan ini dengan mendirikan Grameen Bank.

Hak atas foto Marina Kusumawardhani
Image caption Selama di Wina, Marina bersama sejumlah konsultan senior di PBB dan beberapa menteri Austria mendirikan semacam lembaga pelatihan terkait social entrepreneurship bernama Generation Social.

"Mengobrol lima menit (dengan Muhammad Yunus), rasanya langsung klik banget," ungkap Marina, agak tersipu.

Yunus kemudian menyarankan agar dirinya berangkat ke Bangladesh untuk melakukan penelitian sekaligus mempraktekkan segala hal terkait tekadnya itu.

Marina pun mengiyakan. Dan, "Setelah lulus S2, saya langsung ke Bangladesh dan riset di pedalaman-pedalaman, ke desa-desa tertinggal di Bangladesh, hidup di rumah-rumah warga di desa-desa."

Selama itu pula, dia bersama sejumlah konsultan senior di PBB dan beberapa menteri Austria, dia mendirikan semacam lembaga pelatihan terkait social entrepreneurship bernama Generation Social.

Kembali ke Indonesia

Dua tahun lalu, penyuka aktivitas traveling ini kembali ke Indonesia karena menyadari program bisnis sosial yang didalaminya selama di luar negeri cocok untuk diterapkan di Indonesia.

Sesuai dengan keberpihakannya pada isu pengentasan kemiskinan dengan program social entrepreneur, Marina sempat menjadi tim sukses calon Presiden Joko Widodo dalam Pemilu presiden 2014.

Mengapa Anda mendukung Jokowi? Tanya saya. "Saat itu, saya melihat Pak Jokowi konsisten dengan apa yang saya lakukan selama beberapa tahun dengan bisnis sosial," jawabnya.

Hak atas foto Marina Kusumawardhani
Image caption Sesuai dengan keberpihakannya pada isu pengentasan kemiskinan dengan program social entrepreneur, Marina (tengah, berkerudung) sempat menjadi tim sukses calon Presiden Joko Widodo dalam Pemilu presiden 2014.

Menurutnya, komitmennya itu sesuai kebijakan Jokowi untuk membangun Indonesia dari pinggiran. "Track recordnya juga bersih, enggak ada korupsi, dan dia memulai sebagai entrepreneur..."

Dan ketika pemilu berakhir, penyuka kegiatan membaca ini kemudian bergabung dengan Asian Development Bank, ADB. Dia ditunjuk sebagai konsultan karena pengalamannya dalam bersentuhan dengan bisnis sosial atau social entrepreneur.

Marina mengawalinya dengan menggelar latihan bagi anak-anak muda di dunia bisnis sosial.

"Bikin semacam start-up mengenai training dan konsultasi bisnis sosial, dan sampai sekarang jalan terus," papar Marina yang pernah menulis sejumlah buku perjalanan (travelling) ini.

Advokasi bisnis sosial

Melalui Kementerian koordinator bidang perekonomian dan sejumlah pemerintah kota, Marina kini melakukan apa yang disebutnya sebagai advokasi mengenai bisnis sosial.

"Sederhananya, bisnis sosial itu adalah bisnis-bisnis yang memiliki dampak sosial. Dia harus sustainable (berkelanjutan), bisa menghidupi diri sendiri dan tidak tergantung pada sumbangan, kadang-kadang dia non profit, kadang-kadang profit (mencari keuntungan). Dia sebuah bisnis, tapi dampak sosialnya besar," jelasnya saat saya tanyakan definisi umum bisnis sosial.

Ada pula yang menyebutnya sebagai bisnis inklusif, karena "bisnis yang mengambil sebanyak mungkin orang-orang dari di bawah garis kemiskinan".

Hak atas foto Marina Kusumawardhani
Image caption Marina Kusumawardhani bersama Muhammad Yunus, peraih Nobel Perdamaian 2006, asal Bangladesh.

"Bagaimana bisnis ini mengikutsertakan orang-orang di bawah garis kemiskinan ini di dalam mata rantai bisnisnya," jelas Marina, panjang lebar.

Bisnis sosial seperti ini menurutnya sudah banyak dipraktekkan di Indonesia. "Contohnya, Gojek, dia bisnis, tetapi dampak sosialnya besar sekali, sampai ratusan ribu orang memiliki pekerjaan baru," katanya memberi contoh.

Kemunculan situs jual-beli online Tokopedia atau e-commerce lainnya, imbuhnya, secara tidak langsung mengangkat kehidupan UKM di seluruh Indonesia. "Dan dampak sosialnya mengurangi pengangguran, mengurangi tingkat kemiskinan."

Menjadi jembatan

Di sinilah, menurutnya, tujuan seperti itu sesuai dengan program pemerintah yang juga berusaha untuk mengentaskan kemiskinan.

"Jadi, yang saya lakukan di sini sebetulnya hanya menjembatani antara kedua ini, yaitu dunia bisnis yang ternyata dampak sosialnya besar dengan dunia pemerintahan yang sebetulnya memiliki tujuansosial yang sama," papar Marina.

"Dan mereka ini," imbuhnya cepat-cepat," dikawinkan intinya.. ha, ha, ha... di sebuah tim di dalam Kementerian koordinator perekonomian."

Hak atas foto Paolo D. Pangan
Image caption Marina Kusumawardhani bergabung dengan Asian Development Bank, ADB, dan ditunjuk sebagai konsultan karena pengalamannya dalam bersentuhan dengan bisnis sosial atau social entrepreneur.

Salah-satu jalan yang dirintis Marina adalah menghubungkan antara pemerintah Kota Bandung, pengelola situs belanja online Tokopedia dengan pelaku usaha kecil menengah di kota tersebut, Agustus 2016 lalu.

"Jadi Tokopedia itu membikin sebuah halaman khusus untuk kota Bandung, yang isinya adalah produk-produk kota Bandung dan terutama diutamakan produk kerajinan lokal dan produk UMKM yang miko banget.

"Jadi semuanya bisa terangkat ke seluruh Indonesia," jelasnya lebih lanjut.

Adapun pemerintah kota Bandung menyediakan daftar UMKM yang bisa diajak dalam e-commerce atau orang-orang yang tidak bersentuhan dengan e-commerce. "Sehingga mereka bisa diberi pelatihan untuk bisa masuk ke e commerce," ungkap Marina.

Memotong mata rantai

Dalam waktu hampir bersamaan, Marina juga membantu Kemenko-perekomian untuk menghubungkan para petani, pengusaha kecil, komunitas lokal di sektor kehutanan serta kaum papa lainnya, dengan pemodal yang memiliki bisnis sosial.

Untuk membantu petani, pihak lain yang digandeng oleh Marina dan kawan-kawan adalah situs online Limakilo yang selama ini menjual hasil pertanian melalui situs internet, sejak sekitar lima bulan lalu.

"Untuk barang-barang yang banyak menyebabkan inflasi, seperti bawang, cabe, ikan, daging, beras, dan jagung," ungkapnya.

Hak atas foto Marina Kusumawardhani
Image caption Marina Kusumawardhani (kiri) dan rekan-rekannya bertemu Presiden Joko Widodo.

Menurutnya, kerja sama ini dapat memotong rantai distribusi yang terlalu panjang dan merugikan petani.

Ditanya apakah program ini bisa berdampak terhadap masalah yang selama ini dialami petani, Marina mengatakan:

"Ternyata kemampuan start up masih terbatas, karena dia sendiri membeli barang hanya beberapa ton saja 'kan, apalagi masih baru sekitar lima bulan."

'Selalu memperbaiki diri'

Bagaimanapun, Marina Kusumawardhani mengakui apa yang dia kerjakan bersama pemerintah dan pelaku bisnis sosial barulah sebuah awalan.

"Tapi kita harapkan mungkin beberapa bulan ke depan, bisa eksponensial. Dan menurut kami yang lebih penting itu adalah mensecure (mengamankan) akses pasar di akhir ini. Jadi bagaimana caranya produk-produk yang lebih murah ini itu distribusinya sebesar mungkin," paparnya.

"Bagamana caranya konsumen akhir ini, dia tahu ada keberadaan aplikasi ini. Jadi ini yang dibutuhkan," tandas Marina.

Sambil menarik nafas dalam-dalam, penggemar musik tahun 1960-an ini mengaku apa yang tengah dia geluti saat ini merupakan impiannya selama ini.

"Tapi apakah sudah mencapai apa yang saya impikan, itu belum, dan tidak mungkin pernah (tercapai), karena sebaiknya 'kan selalu memperbaiki diri, selalu belajar," ungkapnya.

"Tidak puas dengan dampak sosial yang dicapai. Jadi, stay hungry stay foolish, karena untuk mencapai sesuatu (secara sempurna) itu tidak akan pernah. Akan selalu ada milestones baru. Kemudian, apa target berikutnya," tandasnya.

Begitulah Marina. Dia bersama teman-temannya - yang memiliki komitmen yang sama - terus mencari jalan dan memperbaiki jembatan kokoh agar kaum papa yang terpinggirkan itu dapat terbantu.