Mendobrak tabu dan seks dalam 'hUSh' dan 'Jakarta Undercover'

Hak atas foto Rumah Karya Sjuman / Demi Istri Production

Dalam festival film internasional Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-11 di Yogyakarta, ditayangkan dua film yang berbicara seputar seks dan isu-isu perempuan yang kerap dianggap tabu: 'hUSh' karya kolaborasi Djenar Maesa Ayu-Kan Lume dan 'Jakarta Undercover' buatan Fajar Nugros.

Meskipun berbeda dalam cara menggambarkan perempuan, kedua film ini seakan saling membantu menjelaskan apa yang menjadi latar belakang masing-masing kisah.

Mendobrak tabu dalam 'hUSh'

'hUSh' adalah film keempat Djenar Maesa Ayu ('Mereka Bilang, Saya Monyet!', 'Nay'), sutradara dan penulis yang populer dengan karya-karya 'melawan' tabu; perempuan bebas berbicara seks, kuat dan menolak dijadikan objek.

Image caption Djenar Maesa Ayu bersama sutradara asal Singapura, Kan Lume.

Berkolaborasi dengan sutradara Singapura, Kan Lume ('The Naked DJ'), suara itu kini diwakilkan oleh musisi Cinta Ramlan yang memerankan karakter Cinta, yang dipotret kedua sineas tersebut dengan gaya bertutur seperti film dokumenter.

'hUSh' dimulai dengan berbagai cuplikan berita televisi tentang beragam tindak kekerasan dan perkosaan pada perempuan.

"Mayoritas laki-laki melihat perempuan sebagai objek seksual. Perempuan adalah milik laki-laki dan ketika sudah menjadi hak milik, laki-laki pun menjadi berhak melakukan apa saja," tutur sebuah narasi berita di menit-menit awal 'hUSh'.

Image caption Penonton saat pemutaran film di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-11 di Yogyakarta.

Cinta yang berprofesi sebagai penyanyi yang sedang jengah dengan rutinitas di Jakarta, dan terbang mencari kesegaran di Gili, Lombok, digambarkan sebagai perempuan yang bertolak belakang dengan persepsi mayoritas laki-laki itu.

Cinta merdeka dengan tubuhnya dan tidak segan-segan mengungkapkan kesukaannya pada seks.

"Masyarakat menghakimi kita, tapi saya nggak peduli karena semua orang itu suka seks. Laki-laki atau perempuan, seks itu sama-sama dibutuhkan," tutur Cinta yang di hampir sepanjang film berbicara dalam bahasa Inggris.

Image caption Cinta Ramlan berbicara dengan salah seorang penonton usai pemutaran 'hUSh'.

Lebih jauh lagi, bercerita kepada penonton, Cinta menilai "Di Indonesia itu, kalau laki-laki berhubungan seks dengan banyak orang, dinilai maskulin, mereka bangga. Tapi kalau perempuan yang begitu, perempuan itu, kami, dianggap pelacur. Ini nggak adil."

Dengan terbuka Cinta pun bercerita tentang pengalamannya melakukan threesome (hubungan seks yang dilakukan tiga orang secara bersama) dan dalam sebuah adegan, dia bahkan berenang di kolam tanpa sehelai benang.

'Bukan salah lelaki dan perempuan'

Namun, ketika film berjalan, penonton perlahan-lahan diberi tahu bahwa bagaimana Cinta bersikap tentang seksualitasnya saat ini, ternyata dipengaruhi berbagai pengalaman hidupnya yang bisa disebut 'berat'.

Hak atas foto Instagram Djenar Maesa Ayu
Image caption Poster film 'hUSh' di Instagram Djenar Maesa Ayu.

Dengan menahan hingga berderai air mata, Cinta mengaku pernah dijadikan objek, diperkosa saat masih kanak-kanak dan pernah dua kali aborsi - topik yang akrab dengan Djenar.

Saat film berakhir dan sesi tanya jawab berlangsung, Djenar tampak 'tergelitik' saat menjawab pertanyaan salah seorang penonton perempuan yang penasaran "dari mana inspirasi film berasal, apakah Djenar melihat perkosaan dan aborsi dalam kehidupan sehari-hari sehingga tertarik mengangkatnya?"

Image caption Penonton film 'hUSh' saat sesi tanya jawab usai pemutaran film.

Dengan suara lantang, Djenar menjawab, "Saya selalu tertarik dengan pertanyaan seperti ini, tampaknya hal seperti di film ini (perempuan dijadikan objek, perkosaan, aborsi) tidak pernah terjadi.

"Itulah kenapa saya merasa isu ini harus terus diangkat, karena kita tak peduli. Kita saja yang perempuan, kita seakan pura-pura tidak tahu isu ini ada. Sekarang, itu sedang terjadi, pasti sedang terjadi. Dan orang di dalamnya tidak bisa berkata apa-apa. Tidak hanya itu, orang di luarnya juga tidak peduli."

Hak atas foto Instagram Djenar Maesa Ayu
Image caption Film-film karya Djenar diputar di JAFF.

Meskipun juga menggambarkan perempuan sebagai korban, Djenar menegaskan dirinya tidak bermaksud menjatuhkan kesalahan yang terjadi kepada lelaki.

"Ini karena sistem dan konstruksi di masyarakat yang tidak benar. Baik perempuan dan laki-laki, keduanya adalah korban dari konstruksi itu. Misalnya di keluarga saja, perempuan diajarkan, ya nanti masak ya buat suami, cari suami yang mapan. Lalu yang laki-lakinya disuruh cari uang untuk menghidupi istri. Itu sudah konstruksi yang salah, laki-laki seakan bisa membeli istrinya."

Tubuh perempuan dalam 'Jakarta Undercover'

Berbeda dengan 'hUSh' di mana perempuan digambarkan menolak untuk dijadikan objek, 'Jakarta Undercover' bertutur sebaliknya.

Hak atas foto Demi Istri Production
Image caption Di 'Jakarta Undercover' Laura (Tiara Eve) yang merupakan seorang model juga berprofesi sebagai PSK untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya.

Diangkat dari buku karya Moammar Emka, 'Jakarta Undercover' menceritakan dunia malam kota Jakarta, yang mencakup ambisi-ambisi warganya, beragam bentuk prostitusi yang diklaim tak banyak diketahui, hingga narkoba.

Di salah satu plot yang diangkat, penonton bisa melihat bagaimana sejumlah perempuan pekerja seks komersial (PSK) 'kelas atas' yang dipimpin seorang germo bernama Mama San (Agus Kuncoro) bekerja memenuhi imajinasi seks pelanggannya.

Hak atas foto Demi Istri Production
Image caption Salah satu adegan film 'Jakarta Undercover'.

Misalnya adegan ketika seorang Bapak-bapak yang kebutuhan seksualnya baru terpenuhi jika melihat dua orang perempuan berkelahi dengan pakaian minim. Dia pun 'menggunakan jasa' dua PSK Mama San.

"Kalian ada di sini untuk memvisualisasikan imajinasi saya waktu SMP," tuturnya sambil duduk di sofa sebuah kamar hotel, dengan dua perempuan dengan pakaian seperti petarung dalam film silat lawas Indonesia.

"Dua pendekar wanita cakar-cakaran dan saya dengarkan suaranya lirih," lanjut si lelaki dengan nada suara memerintah. Kedua perempuan itu pun kemudian bergumul di kasur, yang kemudian diiringi desah suara si Bapak yang masih duduk di sofa.

Hak atas foto Demi Istri Production
Image caption Poster film Jakarta Undercover.

Perempuan yang dideskripsikan sebagai pemuas nafsu lelaki juga terlihat saat karakter Yoga (Baim Wong) yang merupakan pemimpin bisnis seks bawah tanah, menjamu Pras (Oka Antara), seorang wartawan yang pernah menyelamatkan hidupnya.

Jamuan terima kasih untuk Pras adalah sajian makanan Jepang, sashimi, yang disajikan di atas tubuh seorang perempuan telanjang. Sashimi itu pun mereka makan langsung dengan mulut, tanpa menggunakan sendok.

Tetap diberi suara

Meskipun menggambarkan perempuan dengan cara berbeda, penggambaran yang dilakukan oleh 'Jakarta Undercover' pada dasarnya adalah realita-realita yang disinggung di film 'hUSh'.

Terutama bagian di film 'hUSh' yang menyebut "mayoritas laki-laki melihat perempuan sebagai objek", "karena perempuan dilihat sebagai hak milik, laki-laki berhak melakukan apapun", "laki-laki yang berhubungan seks dengan banyak orang dinilai maskulin, sementara perempuan disebut pelacur".

Image caption Fajar Nugros menegaskan dia tetap berusaha memberikan suara kepada karakter-karakter perempuan di 'Jakarta Undercover'.

Namun, sutradara 'Jakarta Undercover', Fajar Nugros menegaskan di film ini dirinya tidak melulu menggambarkan relita bahwa perempuan dijadikan objek, tetapi dia juga memberikan karakter-karakter perempuan PSK tersebut suara.

"Setidaknya karakter perempuan di sini dia punya visi, saya buat mereka ngomong bahwa "gue pengen menjadi signifikan, dan signifikansi gue adalah punya tujuan untuk membahagiakan orang tua", dan caranya memang apa yang kita lihat di film ini. Paling nggak dia sudah diberi suara dulu," jelas Fajar.

Image caption Nikita Mirzani (kiri) dan Tiara Eve usai pemutaran perdana 'Jakarta Undercover'.

Ini terlihat dari karakter Laura (Tiara Eve), salah seorang PSK Mama San, yang memilih pekerjaan tersebut untuk menghidupi keluarganya. Dia harus bekerja lebih keras ketika ayahnya yang merupakan pejabat tersandung kasus korupsi dan ditangkap polisi.

Begitu pula dengan PSK lain bernama Sasha yang diperankan Nikita Mirzani. Dalam sebuah adegan di dalam kamar, Sasha yang hanya menggunakan bra dan celana pendek berujar kepada seorang lelaki bahwa, "yang lo lihat di badan gue ini semuanya adalah investasi gue. Ini investasi gue. Lo megang badan gue gak ada yang gratis. Lo bayar," tutur Sasha.

Image caption Pemeran dan kru film 'Jakarta Undercover' berfoto bersama setelah pemutaran.

Jadi, menurut Fajar, meskipun perempuan di filmnya digambarkan sebagai objek, "mereka melakukannya dengan tujuan. Itu pilihan mereka. Baik itu untuk keluarga atau kebutuhan keuangan. Mereka bukan hanya diam, lalu terseret ke sana kemari oleh keadaan," pungkasnya.

'Jakarta Undercover' akan ditayangkan di bioskop secara luas pada Februari 2017, sementara 'hUSh' akan ditayangkan secara independen di berbagai forum dan festival mulai Desember ini.

Berita terkait