Farha Ciciek dan 20 tahun misi kemanusiaan

Farha Ciciek Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Farha Ciciek mengaku pernah mengalami diskriminasi yang memicunya terus melawan praktek diskriminasi terhadap perempuan.

Farha Ciciek menjalani sebagian besar hidupnya demi memberdayakan perempuan, mengkampanyekan perdamaian dan mengembangkan potensi anak-anak.

"Saya didiskriminasi," kata Farha Ciciek. Aktivis perempuan dan pekerja kemanusiaan dengan jam terbang tinggi ini tengah berkisah perihal pengalamannya di masa kanak-kanak dan beranjak remaja, ketika tinggal bersama keluarganya di Ambon, Provinsi Maluku. Beberapa tahun kemudian, saya masih dapat merasakan amarahnya yang menyesakkan.

Sebuah pengalaman pahit yang diakuinya membekas tetapi sekaligus memicunya untuk terus melawan apa yang disebutnya sebagai praktik diskriminasi terhadap perempuan - hingga kini.

Kelahiran 1963, anak sulung dari empat bersaudara ini, dibesarkan dalam keluarga campuran Arab, Jawa, Cina dan Ambon. Hidup dalam dunia kecil yang kental dengan budaya patriarki, Farha kecil yang perasa ini merasakan langsung pembedaan yang diterapkan ayahnya (dan keluarga besarnya) atas nama kehormatan dan tradisi.

Duduk berhadapan dengan saya dalam sebuah wawancara akhir September lalu, Farha mengenakan selendang ungu bermotif bunga sebagai penutup rambutnya. Dia menjawab semua pertanyaan dengan santai, tetapi dengan kalimat terang-benderang, cenderung perlahan dan tertata, dan sesekali memberi penekanan dalam penuturannya.

Hak atas foto Facebook Farha Ciciek
Image caption Farha Ciciek (duduk, kanan) bersama kakak ayahnya (duduk, kiri) dan sebagian keluarganya pada tahun 1990-an.

Sehari sebelumnya, dia tampil sebagai salah-seorang pembicara dalam diskusi perihal upaya melawan gerakan kekerasan atas nama agama di Jakarta. Di hadapan peserta diskusi, saya menyaksikan dirinya beberapa kali tercekat dan akhirnya terisak ketika menceritakan pengalamannya mendamaikan penyintas korban bom dengan para pelakunya.

Toh, sebagai pekerja kemanusiaan serta aktivis, Farha sudah kenyang pengalaman. Bersama sejumlah organisasi, dia pernah memfasilitasi forum tentang isu gender, dialog antar agama, mendampingi korban bom dan mendamaikannya dengan pelaku, hingga terlibat advokasi korban kerusuhan 1998 - sebelum akhirnya menggagas proses pendampingan anak-anak di kampung suaminya di Jember, Jatim.

Perempuan kelahiran Ambon ini juga perasa. Saat wawancara, dia setidaknya dua kali tak kuasa menahan lelehan air matanya tatkala menyinggung berbagai persoalan yang dia geluti sekitar 20 tahun. "Maafkan saya yang gampang menangis."

Pembicaraan begitu mengalir hingga menyinggung pengalaman hidupnya ketika masih tinggal dengan keluarganya di Ambon. Dia memutar lagi kehidupan masa kecilnya saat saya menanyakan apa yang melatari kepeduliannya terhadap isu perempuan, keislaman dan belakangan anak-anak. Farha kemudian mengenang, "Dunia kita adalah patriakal, di mana garis ayah menjadi memandu untuk proses-proses naming (penamaan)."

Hak atas foto Tanoker
Image caption Farha Ciciek mengaku tercerahkan karena memperoleh pengetahuan baru bahwa tafsiran agama juga digunakan untuk mendiskriminasi perempuan.

Dia lantas teringat, sebagai perempuan dengan marga Assegaf, yang diyakini masih keturunan Nabi Muhammad, dia harus bisa menjaga sedemikan rupa garis keturunan itu. Syarifah, begitulah julukan untuk perempuan seperti dirinya.

Dan lantaran dianggap keturunan mulia, Farha masih ingat, dirinya - sebagai perempuan - kemudian diberi "batasan-batasan".

"Kamu enggak boleh keluar (rumah), ada matahari, orang jahat, jadi kamu harus dimuliakan dengan banyak di rumah." Kalimat seperti ini acap dia dengar dan diulang-ulang dari orang-orang tua di sekitarnya.

Memiliki kepekaan luar biasa, otak cemerlang dan dibesarkan dalam keluarga yang berpendirian kuat, Farha kecil perlahan-lahan kemudian menyadari bahwa apa yang dialaminya itu tidak lebih sebagai kekangan yang menyakitkan.

Mencoba mendebat dengan berkata 'saya bisa jaga diri', toh orang-orang tua di sekelilingnya tetap tak bergeming. Kata larangan justru menghunjam deras kepada dirinya - berulang-ulang. "Karena kamu syarifah, kamu perempuan."

Amarah pun mulai membara. Farha kemudian melawan. Enam belas tahun silam, misalnya, sebuah memoar yang lahir dari tangannya, membuat komunitas yang tersakiti oleh isinya menjadi naik pitam.

"Saya bilang bahwa gelar syarifah itu sebuah penjara, karena saya ingin banget ikut pramuka, enggak boleh, (sementara) adik saya yang lelaki boleh. Saya ingin motor, tidak boleh, (dianggap) nanti jatuh.

Hak atas foto Farha Ciciek Facebook
Image caption Farha Ciciek dan suaminya, Suporahardjo, dalam pakaian adat.

Walaupun ayahnya kemudian membelikannya mobil ("agar lebih terlindung," kata Farha), dia mengaku itu bukanlah yang dia maui. Kelak, dia merasakan ada yang tidak benar di balik alasan pembatasan-pembatasan itu.

Untungnya, kemauannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi (di pertengahan 1980-an), diluluskan oleh ayahnya - pada menit-menit terakhir. Sebuah keputusan yang disebutnya "keajaiban Tuhan" karena seingatnya di lingkungannya anak perempuan hanya boleh sekolah sampai sekolah menengah atas.

Jembatan pun terbentang. Dunia luas yang tak terbayangkan sebelumnya kemudian membuka pintu seluas-luasnya buat Farha belia. Di pulau Jawa, dia kemudian memilih menekuni bidang studi filsafat dan teologi di IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

"Untuk berpikir kritis," katanya dengan mata berbinar. Menggeluti bidang itu, Farha mengaku tercerahkan karena memperoleh pengetahuan baru bahwa tafsiran agama juga digunakan untuk mendiskriminasi perempuan.

"Jadi dunia akhirat sudah dikunci," tukasnya dengan intonasi datar - sangat datar, bahkan. Dia kemudian melanjutkan, "Perempuan (dianggap) lebih rendah dari laki-laki dan itu luar binasa bagi saya." Luar binasa, bukan luar biasa.

Dalam perkembangannya, pilihan Farha untuk memperjuangkan dirinya, tidak terhenti saat dirinya mampu melepaskan belenggu. Seperti terpanggil, dia pun melibatkan diri untuk misi membantu kaum perempuan lain yang mengalami diskriminasi akibat budaya patriarki.

Hak atas foto Facebook Ruby Khalifah
Image caption Farha Ciciek memiliki jam terbang tinggi sebagai aktivis dan pekerja kemanusiaan.

"Bukan hanya untuk diri saya, karena saya melihat ibu saya juga didiskriminasi, nenek saya juga didiskriminasi, di lingkungan saya perempuan didiskriminasi," Farha menandaskan.

"Bahkan," lanjutnya, "negara juga - ketika dirinya bertatus mahasiswa - mewajarkan adanya diskriminasi." Sebuah manifesto yang berdampak sangat panjang bagi perjalanan hidupnya kelak.

Lebih dari 30 tahun kemudian setelah meninggalkan kota masa kecilnya, Ambon, Farha telah berjalan jauh dan sedikit banyak telah menularkan misi kemanusiaannya ke khalayak luas melalui berbagai organisasi LSM yang dia terjuni.

Akhir September lalu, dia misalnya didaulat sebagai pembicara dalam sebuah diskusi seputar kekerasan berlatar agama di Jakarta - bersama dua pembicara lainnya. Hari itu, saya duduk di kursi peserta dan menyimak segala hal yang diutarakan.

Di hadapan peserta diskusi, Farha yang dikenal pula sebagai fasilitator dan pelatih di bidang isu gender dan Islam, mengungkap antara lain hasil penelitiannya di 30 sekolah menengah atas di tujuh kota yang kesimpulannya "sungguh mengagetkan" dirinya.

Digelar tujuh tahun silam, dan kebanyakan dilakukan di sekolah menengah atas negeri, Farha dan kawan-kawannya dari LSM Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak hak perempuan (Rahima) menemukan kenyataan mengejutkan, yaitu adanya "proses radikalisasi yang diketahui dan didukung oleh sekolah".

Hak atas foto Wahyu Susilo Facebook
Image caption Farha Ciciek (kanan) bersama sejumlah aktivis dan pekerja kemanusiaan. Setelah meninggalkan kota masa kecilnya, Ambon, Farha telah berjalan jauh dan sedikit banyak telah menularkan misi kemanusiaannya ke khayalak luas.

Dalam wawancara, saya menanyakan ulang apa yang dia ungkapkan di forum diskusi. Melalui lembaga semacam kerohanian Islam, biasa disingkat rohis, demikian temuannya, berkembang apa yang disebutnya klaim kebenaran alias truth claim.

"Bukan hanya agama saya paling benar, tetapi kelompok saya (dalam Islam) paling benar," katanya. Farha makin terguncang ketika terungkap pula bahwa solidaritas mereka bukan lagi berdasarkan bangsa tetapi agama.

Sebagian siswa di sekolah itu juga "mengharamkan demokrasi" dan menganggap nation state adalah "bikinan manusia", katanya.

Walaupun tidak ditemukan pada sebagian besar sekolah, mereka menemukan praktik-praktik yang kali ini disebut Farha "sangat mengejutkan".

"Ada pelatihan milisi," ungkapnya. Untuk kasus yang terakhir ini ada pimpinan sekolah yang tidak mengetahuinya. Namun demikian, sambungnya, "ada sekolah yang tahu, bahkan terlibat dengan memfasilitasi pelatihannya."

Tidak sampai di sini, tentu saja. Farha dan tim peneliti kemudian mengundang berbagai ormas Islam, pemerintah daerah dan pusat, termasuk kementerian terkait, untuk mendiskusikan hasil penelitian.

Dia bahkan diundang Dewan Pertimbangan Presiden di masa Presiden Susilo Bambang, dan dari hasil pertemuan dengan berbagai perwakilan kementerian itu dia dijanjikan "perbaikan sistematis" untuk menangkal radikalisasi di sekolah-sekolah.

Hak atas foto Aliansi Indonesia Damai
Image caption Bersama LSM Aliansi Indonesia Damai, AIDA, Farha Ciciek (kiri) mengawalinya dengan langkah yang tidak gampang yaitu meyakinkan korban bom untuk bertemu bekas pelaku tindak kekerasan terorisme

Farha mengatakan, berbagai lembaga itu memberikan respon bermacam-macam, ada yang serius ("misalnya, Kemenag membuat program untuk guru agama supaya memiliki pemikiran dan menyebarkan Islam yang rahmatan lil alamin.") tetapi ada pula yang apatis.

Saya mendengarkan, tetapi kemudian membeberkan temuan terbaru berbagai lembaga, termasuk LIPI, yang menyiratkan upaya deradikalisasi di sekolah-sekolah itu hanya berjalan di tempat.

"Kita akan membayarnya dengan sangat mahal," kata Farha, setelah menarik nafas agak panjang, ketika saya menanyakan apa yang dia khawatirkan ketika pemerintah terkesan tidak mau terlibat serius menangani masalah ini.

Secara provokatif dia kemudian menggambarkan situasi saat ini sebagai terbakarnya bangunan bangsa - yang berfondasikan Bhinneka Tunggal Ika - akibat api sektarian lantaran pemahaman agama yang tertutup.

Dalam situasi seperti itu, Farha kemudian teringat sosok KH Achmad Shiddiq (1926-1991), sosok ulama yang dihormati di kalangan warga Nahdlatul Ulama, NU, yang disebutnya telah melahirkan konsep solidaritas berdasar agama, bangsa dan sesama manusia - yang tidak terpisahkan satu sama lain.

Hak atas foto Aliansi Indonesia Damai
Image caption Farha Ciciek bersama sejumlah pelajar sebuah sekolah menengah atas di kota Solo, November 2015, untuk mengkampanyekan perdamaian. Dia membawa Tim Perdamaian yang terdiri penyintas bom Bali dan JW Marriot dan mantan pelaku kekerasan.

"Sekarang ini sedang rusak, (karena ukhuwah) Islamiyah saja," tegas Farha. Situasinya makin memburuk, tandasnya.

"Dulu enggak pernah ada (yang memasalahkan) antara yang disebut Syiah dan Sunni, (tetapi) sekarang menggejala. (Yang memasalahkan) Ahmadiyah, dulunya enggak ada. Nenek moyang kita enggak ada yang memasalahkan itu."

Pemerintah, sayangnya, separoh hati dalam menyikapi situasi yang makin memburuk ini, kata Farha menandaskan.

Dan, siapapun tahu, berbagai aksi kekerasan atas nama agama pun terus terjadi dan paham radikal sepertinya makin menjadi daya tarik bagi sebagian lapisan masyarakat - utamanya kaum muda. Apa yang bisa dilakukan agar situasi tidak makin memburuk? Harus dimulai dari mana?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang kemudian mengantar Farha untuk terlibat dalam proses panjang untuk mendamaikan antara keluarga bom Bali (2002) dan JW Marriot (2003).

Belakangan dia menyebut pilihan jalan damai ini sebagai jawaban atas kerisauannya terhadap fenomena ketertarikan anak-anak muda terhadap paham radikal.

"Ini adalah jawaban luar biasa dari apa yang saya lakukan dalam riset di tujuh kota," akunya.

"Kekerasan tidak boleh dibalas dengan kekerasan," kata Farha, saat saya menanyakan apa yang melatari pilihannya untuk mendamaikan dua pihak tersebut. "Dari titik itulah, kita harus berangkat."

Hak atas foto Farha Ciciek Facebook
Image caption Farha Ciciek (berkerudung ungu) bersama sejumlah aktivis kemanusiaan dari sejumlah negara.

Sejak sekitar 2013, bersama LSM Aliansi Indonesia Damai, AIDA, Farha mengawalinya dengan langkah yang tidak gampang, yaitu meyakinkan korban bom untuk bertemu bekas pelaku tindak kekerasan terorisme. "Awalnya alot banget."

Dalam perjalanannya, setelah mantan pelaku kekerasan meminta maaf dan pihak korban memaafkannya, sebuah ikatan kemudian lahir di antara penyintas (korban bom yang mau bangkit) dan sang mantan pelaku. Farha menyebut "terjadi semacam hubungan yang sangat mengharukan" secara tulus.

"Mantan kombatan bilang 'maafkan kami', dan korban bilang 'kami maafkan Anda'. Dari situ mereka kerja sama, dan membentuk tim yang kami sepakat namanya Tim Perdamaian," ungkapnya.

Hak atas foto Aliansi Indonesia Damai
Image caption Keluarga penyintas bom Bali (2002) dan JW Marriot (2003) menggelar aksi damai pada Januari 2016 setelah bom meledak di depan Sarinah, Jakarta.

Dari situlah, tim tersebut mendatangi sejumlah sekolah menengah atas di berbagai kota untuk mengkampanyekan perdamaian - Solo (Jateng) dan Bima (NTB), diantaranya.

Di hadapan para siswa itu, baik penyintas maupun mantan pelaku, intinya berbagi pengalaman yang dialaminya serta memberikan semacam pemahaman bahwa tindakan kekerasan tidak boleh di balas dengan kekerasan.

"Ini jawaban yang prospektif untuk pencegahan hal-hal buruk yang telah terjadi di sekolah selama ini saat terjadi pasang-naik radikalisasi yang memakai baju agama," jelas Farha.

Dengan kata lain, dia kemudian menjelaskan, pilihannya untuk mendampingi para penyintas dan mantan pelaku kekerasan tidak semata secara personal. "Tapi mereka juga membuka ruang-ruang perubahan yang lebih baik."

Hak atas foto Aliansi Indonesia Damai
Image caption Melibatkan penyintas korban bom dan mantan pelaku tindak terorisme, Farha dan rekan-rekannya mengkampanyekan perdamaian di sejumlah kota di Indonesia.

Di sisi lain, sebagai fasilitator, Farha mengaku belajar dari orang-orang tersebut. "Saya belajar dari korban untuk memanusiakan manusia, untuk berakhlak lebih baik dengan bekerja lebih keras melawan kezaliman yang ada di mana-mana..." Ketika ini terlontar dari mulutnya, air mata kembali membasahi pipinya.

Upaya yang disebutnya membutuhkan kerja keras ini, tentu saja, tidak berangkat dari sesuatu yang kosong. Ada sejarah yang panjang, begitulah. Farha mengaku keyakinannya ini tidak terlepas dari pengalaman yang membuatnya sempat mengalami trauma saat mendampingi korban pemerkosaan saat kerusuhan 1998.

Begini ceritanya. Ketika Jakarta diguncang kerusuhan pada Mei 1998, Farha memilih - dengan kesadaran penuh - bergabung dalam Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRK) demi mendampingi para korban pemerkosaan saat huru-hara 1998 - yang umumnya warga Indonesia peranakan Cina.

Sejumlah aktivis dan pekerja kemanusiaan yang bergabung TRK diantaranya adalah rohaniawan Sandyawan Sumardi serta beberapa pekerja kemanusiaan dengan latar agama dan keyakinan yang berbeda.

Sambil sesekali memandang ke atas dan menarik napas panjang, Farha berkata perlahan bahwa sebelumnya dia sudah pernah mendampingi kaum perempuan korban kekerasan. Tetapi, menurutnya, kasus kerusuhan 1998 memberinya pengalaman yang "luar biasa".

Hak atas foto Getty Images
Image caption Farha memilih - dengan kesadaran penuh - bergabung dalam Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRK) demi mendampingi para korban pemerkosaan saat huru-hara 1998

Bukan rahasia lagi, sebagian anggota tim relawan yang mendampingi korban pemerkosaan kerusuhan 1998 mengalami trauma berat setelah tugasnya berakhir. Salah-seorang diantaranya adalah Farha sendiri. Kepada saya, Farha tidak membantahnya.

"Banyak orang tidak percaya ada pemerkosaan. Tapi saya dan teman-teman menyaksikan dengan dua mata kepala kami sendiri," ungkapnya perlahan.

Di sinilah, Farha mengatakan tidak semua anggota TRK "siap" dihadapkan fakta adanya pemerkosaan dengan modus keji yang disebutnya "tidak terbayangkan" sebelumnya. "Itu yang membuat trauma," katanya.

Membutuhkan enam bulan bagi Farha untuk bolak-balik ke psikiater untuk menyembuhkan trauma akibat pendampingan itu.

Hak atas foto Farha Ciciek Facebook
Image caption Membawa dua anak lelakinya untuk tinggal di desa itu, Farha dapat merasakan dan melihat langsung nestapa anak-anak di Ledokombo yang sebagian di antara mereka hidup tanpa didampingi orang tua di sisinya.

Dan, "Ada kawan saya tidak mau berhubungan dengan suaminya satu tahun ketika menjadi pendamping."

Farha kemudian sempat terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berujar, "Tapi mungkin dari situ, Tuhan kasih modal buat saya untuk makin kuat." Kali ini senyum simpul terlihat di bibirnya.

Sebelum akhirnya mengambil keputusan yang di luar rencana, sampai 2008, Farha menghabiskan begitu banyak waktu di Jakarta dengan aktif di dunia LSM dengan titik tekan pada isu gender dan Islam, selain terlibat dalam dialog antar agama dalam bingkai demokrasi dan perdamaian.

Dia menikmati segala aktivitasnya itu, sehingga dalam perjalanannya namanya masuk dalam 1000 perempuan dunia yang dinominasikan untuk menerima Nobel Perdamaian 2005.

Hak atas foto Tanoker
Image caption Sebagian anak-anak Desa Ledokombo, Jember, berlatih menari tradisional di komunitas Tanoker yang didirikan Farha dan suaminya.

Dua tahun kemudian, Ashoka International menganugerahinya sebagai a social motivator. Penghargaan ini diberikan kepadanya karena usahanya melakukan pendektan alternatif demi menciptakan kesamaan gender di Indonesia.

Dan empat tahun lalu, pada tahun 2013, Farha mendapat penghargaan She Can Award dari Tupperware. Setahun kemudian, PT Telkom menganugerahinya Kartini Award.

Di tengah aktivitasnya itu, dia meneruskan pendidikan S2 di program studi sosiologi di UGM, Yogyakarta, sebelum akhirnya mendapat beasiswa di Australian National University (2005-2006) dengan meneliti dinamika Pondok pesantren Al Mukmin, di Solo, Jawa Tengah.

Hak atas foto Tanoker
Image caption Komunitas Tanoker terus berkembang dan menarik perhatian banyak orang untuk datang ke desa itu. Bahkan setiap tahun mereka menggelar acara tahunan yang disebut Festival Egrang.

Memasuki tahun 2009, sebuah keputusan penting dibuat oleh Farha - nanti keputusannya ini menambah deret panjang bentuk kepeduliannya terhadap masalah kemanusiaan, sekaligus membuatnya lebih optimis dalam menjalani hidup.

"Saya memutuskan pulang ke kampung bersama suami untuk menjaga ibu (mertua) yang berangkat tua." Farha bercerita alasan di balik kepulangan ke kampung halaman suaminya, Suporahardjo, di Desa Ledokombo, Jember, Jawa Timur.

Sebagai desa miskin dan tertinggal ("Waktu kami datang isinya kemiskinan, rampok, perkosaan, maling...," ungkap Farha), warga Ledokombo, yang sebagian besar tidak berpendidikan, memilih menjadi buruh migran. Karenanya, mereka kemudian meninggalkan anak-anaknya di kampung tanpa pendampingan.

Hak atas foto Farha Ciciek Facebook
Image caption Farha Ciciek dan anak-anak komunitas Tanoker saat tampil di sebuah acara di Bangkok, Thailand.

Membawa dua anak lelakinya - Mokhsa Imanahatu dan Zen Jero Zona - untuk tinggal di desa itu, Farha dapat merasakan dan melihat langsung nestapa anak-anak di Ledokombo yang sebagian di antara mereka hidup tanpa didampingi orang tua di sisinya. Dan, seperti bisa diduga, Farha tidak bisa berdiam diri.

Suatu saat, suaminya mengenalkan permainan tradisional egrang kepada dua anaknya. Halaman belakang rumah keluarga suaminya kemudian disulap menjadi semacam taman bermain. Ternyata, "banyak anak-anak (Desa Ledokombo) yang datang" untuk ikut bermain. Dan, mereka terlihat bahagia, kata Farha.

Pada titik itulah, Farha kemudian berkata, "kami harus lakukan sesuatu." Kelak, dia dan suaminya menyebut anak-anak itu sebagai anak yatim piatu sosial. "Tapi ini tanggungjawab siapa?"

Hak atas foto Tanoker
Image caption "Banyak yang datang, dan ada yang bilang ini bisa dijadikan desa wisata. Kami bilang tak sekedar desa wisata, tapi kampung wisata belajar," kata Farha, bersemangat.

Pertanyaan itu kemudian dia jawab sendiri. Mereka kemudian terjun total untuk 'menyelamatkan' anak-anak itu. Bersama suaminya, seorang Doktor di bidang kehutanan lulusan UGM, Yogyakarta dan aktivis yang memahami isu lingkungan, Farha membentuk semacam komunitas bermain dan belajar untuk anak-anak Ledokombo.

Farha kemudian menyebut komunitas bermain anak-anak itu sebagai Tanoker alias kepompong. Dalam perjalanannya, dalam hitungan tahun, komunitas itu terus berkembang dan menarik perhatian banyak orang untuk datang ke desa itu. Bahkan setiap tahun mereka menggelar acara tahunan yang disebut Festival Egrang.

"Banyak yang datang, dan ada yang bilang ini bisa dijadikan desa wisata. Kami bilang tak sekedar desa wisata, tapi kampung wisata belajar," kata Farha, bersemangat.

Dalam tujuh tahun, Desa Ledokombo pun berubah. Diawali pembentukan komunitas bermain anak-anak, kemudian melahirkan usaha kerajinan, masakan, pertanian, hingga pariwisata lokal. Ujungnya, seperti diimpikan Farha, masyarakat desa itu dapat memperbaiki kesejahteraannya. Sehingga, "warga bisa memakmurkan diri di desanya sendiri."

Seperti diketahui, sebagian warga desa itu selama ini meninggalkan kampung halamannya untuk menjadi buruh migran. Bukan hanya ibu-ibu, tetapi juga kaum lelakinya."Saya tidak menentang orang migrasi. Tapi saya berusaha supaya bermigrasi tidak terpaksa, migrasi dengan aman, nyaman, terlindungi," Farha menjelaskan.

Hak atas foto Farha Ciciek Facebook
Image caption Farha Ciciek, suami dan dan dua anaknya.

Memasuki tahun ketujuh membesarkan desanya, yang diawali kepedulian terhadap anak-anak, Farha dan suaminya menyebut kepulangannya ke Desa Ledokombo sebagai "tobat total".

Karena, "Selama ini kami mengobyekkan anak-anak. Sampai umur tua ini, baru kami dibukakan mata bahwa anak-anak itu subyek." Farha kembali tidak bisa menahan lelehan air matanya.

Dari anak-anak Ledokombo, yang disebutnya sebagai pembuat perubahan, Farha juga mengaku "belajar dari hal-hal kecil yang bisa menjadi besar".

Syaratnya," Kalau kita melakukannya secara bersama dengan... (Farha kembali tercekat) optimisme yang selalu menyala."

Kepada saya, Farha juga sampai pada kesimpulan bahwa dalam menghadapi persoalan sosial yang ada di hadapannya, tidak cukup dengan menghujat, tapi harus melibatkan diri. "Kita tidak bisa lepas tangan," tandasnya.

Tumbuh berdampingan bersama komunitas anak-anak, kaum ibu dan bapak-bapak di Ledokombo, membuat Farha berani mengatakan bahwa itulah "hidup barunya".

Berita terkait