Gempa Aceh: 'Saya katakan istighfar, istighfar...'

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Gempa Aceh: “Saya minta dia berdoa, setelah itu istri saya tak bersuara lagi…”

Gempa bumi di Provinsi Aceh mengakibatkan lebih dari 100 orang meninggal dunia, sebagian besar dari mereka tertimpa reruntuhan bangunan.

Persis di sebelah bangunan Pasar Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, terdapat puing-puing berskala besar.

Sebelum Rabu (07/12), di situ berdiri kompleks ruko dua lantai.

Kini, beberapa pemilik ruko-ruko tersebut hanya bisa menatap bekas bangunan milik mereka sembari mengumpulkan barang-barang dagangan yang tersisa.

Salah satu dari pemilik ruko adalah Wardi. Ditemui di Pasar Meureudu, Wardi menampakkan raut muka lelah bercampur sedih.

Image caption "Saya berada di lantai dua ketika tiba-tiba 'Braak!' atap beton ruko jatuh dan menimpa istri saya." ungkap Wardi. Bangunan ruko milik Wardi di Pasar Meureudu, Pidie Jaya.

Hanya dalam tempo satu jam sejak gempa berguncang pada pukul 05.03 WIB, Wardi telah kehilangan istrinya, Dewi, dan ruko miliknya.

Beton ruko menimpa istri

"Saya berada di lantai dua ketika tiba-tiba 'Braak!' atap beton ruko jatuh dan menimpa istri saya. Saya sendiri terhindar karena berdiri di bawah tulang beton ruko," tutur Wardi dengan mata berair, kepada BBC Indonesia, Jumat (08/12).

Ruko yang tadinya berdiri kokoh, seketika nyaris rata dengan tanah.

Dalam kegelapan, Wardi mendengar suara rintihan istri dan anaknya. Wardi kemudian merangkak dan mendapati beton menimpa punggung istrinya hingga dia jatuh tertelungkup.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Bangunan Pasar Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh luluh lantak akibat gempa.

"Saya katakan padanya, 'Istighfar. Istighfar..' Saya lalu bisa lolos dari sela-sela reruntuhan dan menuju rumah mertua yang berjarak 200 meter dari pasar dan memanggil semua saudara. Kami datang membawa linggis dan besi untuk mematahkan beton," kata Wardi.

Mereka berhasil mengangkut Dewi menuju rumah sakit, tapi dalam perjalanan, Dewi menghembuskan nafas terakhir.

"Kami masih sempat saling bermaafan. Dia juga pesan agar saya menjaga anak," kata Mardi, menahan tangis.

Tangisan pecah

Abhizar, anak Wardi dan mendiang Dewi, kini masih dirawat di rumah sakit. Menurut Wardi, dokter mengatakan bahwa Abhizar dapat pulih meski harus menjalani perawatan selama beberapa pekan mendatang.

Saya kemudian menjumpai Nurseuha, ibu mertua Wardi, di rumahnya Memakai kerudung putih, Nurseuha beberapa kali menunduk dengan wajah murung.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Bangunan Pasar Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, yang hancur lebur.

Tangisnya seketika pecah tatkala mengenang Dewi.

"Saya belum sempat berjumpa dengannya. Dia sudah pergi," ujar Nurseuha, sembari terisak.

Bagaimanapun, Nurseuha berjanji akan memenuhi permintaan terakhir Dewi untuk menjaga Abhizar, cucunya.

Berita terkait