Misi Trio Hanuraga mengekspos lagu tradisional Indonesia

jazz, seni, musik, hanuraga Hak atas foto Trio Hanuraga
Image caption Trio Hanuraga beranggotakan Sri Hanuraga pada piano, Elfa Zulham pada drum, dan Kevin Yosua pada bass.

"Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya…"

Lagu berjudul Indonesia Pusaka itu meluncur tanpa cela dari mulut Dira Sugandi. Dengan iringan pianis Sri Hanuraga, tembang ciptaan mendiang Ismail Marzuki tersebut merupakan salah satu dari 11 lagu dalam album perdana Trio Hanuraga yang diluncurkan November lalu.

Beranggotakan Sri Hanuraga pada piano, Elfa Zulham pada drum, dan Kevin Yosua pada bass, trio tersebut meluncurkan album pertama bertajuk Indonesia, Volume 1 yang digarap Shoemaker Studio di Jakarta.

Trio Hanuraga dibentuk saat Sri Hanuraga dan penyanyi Dira Sugandi diminta menjadi delegasi musisi Indonesia untuk tampil di sebuah festival di Frankfurt, Jerman, pada 2015 lalu. Dalam proses itu, mereka menyadari sesuatu tentang lagu-lagu tradisional Indonesia.

"Sambutannya bagus banget, mereka antusias sekali. Tapi, kita merasa kok kita sudah susah-susah membuat musiknya, terus hanya dimainkan satu kali pada event ini. Kita lalu berpikir untuk sekalian membuat albumnya. Lagipula, lagu-lagu Indonesia bagus-bagus, tapi sayang jarang diekspos. Kita ingin angkat lagi, dibalut dengan musik modern, pendekatan yang lebih canggih supaya anak muda lebih bisa menikmati," kata Hanuraga saat diwawancarai di studio BBC Indonesia, Jakarta.

Hak atas foto Sri Hanuraga
Image caption Sri Hanuraga mengenyam pendidikan musik secara formal di Conservatorium van Amsterdam, Belanda.

Musik Indonesia antitesis musik Barat

Sri Hanuraga dan drummer Elfa Zulham mengenyam pendidikan musik secara formal di Belanda. Sri Hanuraga belajar di Conservatorium van Amsterdam sedangkan Zulham di Prins Claus Conservatorium, Groningen.

Selama menempuh studi di sana, mereka berupaya menggali identitas musik Indonesia. Dari penggalian itu, mereka menemukan perbedaan utama antara musik tradisional Indonesia dan musik Barat.

"Saya kagum dengan musik (tradisional) Indonesia, semacam antitesisnya musik Barat. Musik Barat itu ada tension, resolution, tension and release. Tapi, di gamelan, contohnya, seperti itu dari awal sampai akhir. Lalu tidak ada hierarki di musik Indonesia, tidak ada instrument utama, semua saling terkait. Tidak ada musisi atau bagian yang paling signifikan, semua setara," kata Hanuraga yang akrab disapa Aga.

Menyadari identitas musik tradisional Indonesia, trio Hanuraga berupaya membuat interpretasi suara instrumen tradisional Indonesia ke dalam susunan komposisi mereka, alih-alih secara eksplisit menyelipkan suara instrumen tersebut.

Elfa Zulham, selaku penabuh drum, mengaku mencoba meniru bunyi-bunyian gamelan dan kendang. Pada lagu cublak-cublak suweng, misalnya, suara-suara itu dikedepankan menggunakan bantuan komputer.

Hak atas foto Trio Hanuraga
Image caption Trio Hanuraga dibentuk saat Sri Hanuraga dan penyanyi Dira Sugandi diminta menjadi delegasi musisi Indonesia untuk tampil di sebuah festival di Frankfurt, Jerman, pada 2015 lalu.

Kekinian

Dari 11 lagu pada album Indonesia, Volume 1 ada delapan lagu daerah yang lazim diajarkan kepada murid-murid sekolah. Sebut saja, Bungong Jeumpa dari Aceh, Bubuy Bulan dari Jawa Barat, dan Sik-sik Sibatumanikam dari Sumatera Utara.

Ada pula lagu nasional, antara lain Rayuan Pulau Kelapa dan Tanah Airku.

Yang berbeda dari lagu-lagu ini adalah aransemennya.

"Aransemen-aransemen Aga bisa dibilang kekinian ya. Selama ini lagu-lagu daerah yang kita dengarkan tidak berbeda jauh dari aransemen aslinya. Namun, Aga memberikan sentuhan musik modern pada lagu-lagu itu," kata Dira Sugandi, penyanyi yang melantunkan seluruh tembang dalam album perdana Trio Hanuraga.

Lantaran aransemen lagu-lagu di dalam album tersebut dibuat berbeda, Dira mengaku kesulitan menyanyikan beberapa lagu.

"Ada beberapa lagu yang timing-nya tidak umum. Jadi perlu waktu untuk penyesuaian, supaya saya bisa enak menyanyikannya. Tapi untuk interpretasi, saya tidak ada kesulitan karena waktu di sekolah kan kita diajarkan lagu-lagu daerah dan nasional ," kata Dira.

Hak atas foto Trio Hanuraga
Image caption Dira Sugandi menyanyikan semua lagu dalam album perdana Trio Hanuraga.

Akan tetapi, mengaransemen ulang musik-musik nasional dan tradisional Indonesia dengan genre Jazz modern, tidak semudah membalikkan telapak tangan.

"Kendala utamanya adalah bagaimana caranya memadukan harmoni Barat dengan melodi Indonesia, tapi tanpa terdengar cuma sekadar tempelan," ujar Aga.

Mewakili Indonesia

Elfa Zulham yang juga merangkap sebagai pemilik label independen Azura Records mengatakan album perdana Trio Sri Hanuraga menandai proyek pertama cita-citanya untuk merekrut musisi unik yang dapat mewakili Indonesia di panggung dunia.

"Kita tidak berpikir, 'Ini penjualannya bagaimana ya? Ada yang beli nggak ya?' Kita lebih mengedepankan idealisme musik dan suara. Tidak harus seperti musik pop yang bisa menjual jutaan keping, tapi bagaimana mendapatkan suara yang bisa mewakili Indonesia di panggung dunia," tutup Zulham.

Topik terkait