Perempuan Muslim mengaku berbohong tentang intimidasi pendukung Trump

Yasmin Seweid Hak atas foto Facebook
Image caption Yasmin Seweid terancam hukuman maksimal masing-masing satu tahun untuk setiap dakwaan.

Seorang perempuan muda Muslim yang melapor dihina oleh pendukung Donald Trump di sebuah stasiun kereta bawah tanah New York ditangkap karena laporan palsu.

Yasmin Seweid, yang berusia 18 tahun, awalnya melaporkan tiga pria menyebutnya sebagai 'teroris'.

Namun kini dia malah didakwa dengan membuat laporan palsu dan mengganggu administrasi pemerintah setelah mengaku kepada polisi bahwa dia habis minum alkohol dan menggunakan cerita itu untuk menutup-nutupi perilakunya.

Seweid sempat melaporkan bahwa tiga orang pria mengatakan kepadanya untuk 'ke luar dari negara ini' dan 'cabut jilbab dari kepala Anda," seperti dilaporkan stasiun televisi NBC.

Ditambahkannya ketika mereka berupaya untuk merobek jilbabnya, tidak ada orang yang lewat yang campur tangan menengahi dalam insiden, yang menurutnya, terjadi tanggal 1 Desember.

Seorang pria, lapornya lagi, merampas tasnya dan memutus salah satu talinya.

"Hati saya hancur menangis karena banyak orang lewat yang menyaksikan saya dihina secara lisan dan fisik oleh babi-babi yang menjijikkan itu," tulisnya di Facebook sehari kemudian, menurut NBC.

Hadir di pengadilan tanpa jilbab

Namun aparat keamanan curiga karena tidak bisa menemukan saksi mata maupun rekaman video yang meyakinkan bahwa insiden tersebut memang terjadi.

Dia ditangkap Rabu (14/12) dan mengaku mengarang cerita untuk menghindari keributan dengan orang tua setelah menenggak minuman keras.

Sehari kemudian Seweid dilepas namun terancam hukuman maksimal satu tahun untuk masing-masing dakwaan.

Seweid sudah hadir di Pengadilan Pidana Manhattan tanpa mengenakan jilbab dengan rambut yang dicukur. Sebuah sumber yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada koran NY Daily News bahwa orangtuanya yang meminta dia mencukur gundur rambutnya karena kasus ini.

Beberapa hari setelah kemenangan Donald Trump pada bulan November, ratusan dugaan kasus intimidasi dilaporkan terjadi di Amerika Serikat dan banyak -menurut kelompok pegiat- yang terkait dengan para pendukung Trump.

Topik terkait

Berita terkait