Agar game buatan Indonesia jadi tuan rumah di negeri sendiri

game, indonesia, bisnis Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Seorang pengunjung pameran game Indonesia mencoba alat virtual reality salah satu pembuat game, November lalu. Berdasarkan data lembaga analisis pasar internet , Newzoo, penghasilan bisnis game di Indonesia mencapai hampir US$600 juta pada 2016 saja.

Suara teriakan penjual tahu bulat datang dari arah sudut ruangan pameran game Indonesia di Balai Kartini, Jakarta, November lalu. Namun, tiada gerobak tahu atau penjual tahu yang tampak.

Suara tadi merupakan bagian dari permainan atau game Tahu Bulat yang dikembangkan Own Games, salah satu pembuat game asal Bandung, Jawa Barat. Game itu terbilang sukses karena sejak dilempar ke pasaran pada Mei lalu, permainan tersebut telah diunduh hampir tujuh juta kali.

Eldwin Viriya, pendiri Own Games, enggan menyebutkan secara gamblang berapa uang yang telah dia keluarkan untuk menciptakan game itu dan berapa penghasilan yang telah dia kantongi.

"Kalau bikin game, budgetnya pasti besar, pasti puluhan hingga ratusan juta rupiah. Untuk revenue per bulan agak random, yang namanya bisnis entertainment revenuenya bukan sesuatu yang stabil. Tapi revenue kita sudah enam digit dollar Amerika Serikat, ratusan ribu," ujar Eldwin.

Untuk bisa merebut pangsa pasar di Indonesia, Eldwin mengaku sengaja memilih tema kuliner khas Indonesia. "Sebab itu sesuatu yang dekat dengan masyarakat," katanya.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Eldwin Viriya mendirikan perusahaan Own Games dan menciptakan game Tahu Bulat. Kini, dia sudah meraup penghasilan ratusan ribu dollar AS.

Makhluk halus khas Indonesia

Kedekatan dengan budaya lokal juga menjadi modal bagi pembuat game Indonesia lainnya.

Digital Happines, misalnya, mengembangkan permainan komputer berjudul Dreadout yang mengambil tema berupa mahkluk halus khas Indonesia, seperti tuyul dan kuntilanak. Konsep ini laku dijual di kalangan pemain game internasional, terutama di Amerika Serikat dan Eropa.

Rachmad Imron, pendiri Digital Happines, tertawa ketika ditanya apakah dia pengekspor kuntilanak pertama ke AS dan Eropa?

"Hahaha, bisa dibilang begitu," kata pria lulusan Institut Teknologi Bandung itu.

Dengan bermodal kisah petualangan seorang murid sekolah yang dihantui tuyul dan kuntilanak, Rachmad berhasil menjual game seharga US$14,99 per edisi.

"Satu bulan pertama sejak diluncurkan pada 2014, kita bisa mendapat US$150.000 (sekitar Rp2 miliar)," kata Rachmad.

Lalu berapa penghasilannya sekarang, Rachmad tersenyum sembari menggeleng.

"Alhamdullilah sampai sekarang mencetak keuntungan. Kita bisa mengamankan uang untuk pengembangan proyek selanjutnya, lalu staf kita dari empat orang sekarang sudah 20 orang," kata Rachmad.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Digital Happines mengembangkan permainan komputer berjudul Dreadout yang mengambil tema berupa mahkluk halus khas Indonesia, seperti tuyul dan kuntilanak.

Berjuang mencari modal

Bagaimanapun, kisah sukses pembuat game Indonesia didapat tidak semudah memencet tombol ponsel. Menurut Rachmad Imron, dia menyisihkan dana pribadi beberapa tahun lalu untuk memodali perusahaannya.

Kondisi serupa ternyata masih terjadi hingga kini pada kaum muda pembuat game, sebagaimana dialami Glenn Andrenorman, pendiri perusahaan Sidji yang dalam waktu dekat bakal merilis game bertema perang Mataram.

Glenn mengaku telah mengumpulkan Rp50 juta yang berasal dari tabungan pribadi dan pinjaman orang-orang terdekat. Namun, dia tidak mendapat pinjaman bank karena pihak bank meragukan bisnis yang dia dirikan.

Masalah modal, menurut Narenda Wicaksono dari Dicoding Space, perusahaan penyedia jasa pelatihan teknologi informasi, memang menjadi kendala pembuat game di Indonesia.

"Bagaimana mereka mau mencari pinjaman? Pihak bank kan hanya mau memberi pinjaman pada jenis usaha yang konvensional, sedangkan pembuat game masih dianggap sebelah mata," kata Narenda.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Dari ratusan juta dollar Amerika Serikat yang dihasilkan game di Indonesia, pembuat game Indonesia hanya mendapat kurang dari 10% dari kue penghasilan tersebut.

Kue penghasilan

Berdasarkan data lembaga analisis pasar internet , Newzoo, penghasilan bisnis game di Indonesia mencapai hampir US$600 juta (sekitar Rp8 triliun) pada 2016 saja. Bahkan, pertumbuhan pasar game Indonesia adalah yang terbesar di Asia Tenggara.

Akan tetapi, pembuat game Indonesia hanya mendapat kurang dari 10% dari kue penghasilan tersebut.

Agar pembuat game Indonesia tidak menjadi tamu di negeri sendiri, peran pemerintah amat didambakan untuk membantu memecahkan solusi pendanaan, memajukan infrastruktur internet, dan meningkatkan sumber daya manusia.

"Pemerintah tentu bisa membuat regulasi-regulasi untuk mencabut penghalang, seperti pendanaan. Sebagai contoh para pembuat game sebaiknya tidak perlu membuat badan usaha, karena mereka modalnya sangat minim. Kalaupun ada pemodal mau tanamkan uang, itu agak susah karena terbentur regulasi," kata Narenda.

Hal yang tak kalah pentingnya, lanjut Narenda, adalah sumber daya manusia yang menciptakan game.

"Harusnya ada kurikulum di sekolah menengah kejuruan untuk membuat coding atau bahasa komputer yang nantinya bisa dipakai untuk menciptakan aplikasi lain, tak hanya game. Nah, pemerintah bisa memfasilitasi itu," ujar Narenda.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Kaum muda pembuat game mengaku kesulitan mengumpulkan dana untuk modal usaha, meski kualitas game mereka dinilai bisa bersaing dengan game buatan luar negeri.

Upaya pemerintah Indonesia

Kepala Badan Ekonomi Kreatif atau Bekraf, Triawan Munaf, menyadari bahwa para pembuat game kesulitan menembus pasar di negeri sendiri, walau kualitas game tidak kalah dengan game asing.

Dia mengaku sedang berupaya memfasilitasi para pelaku industri game di Indonesia.

"Kita membentuk sekumpulan komitmen dari bank dan lainnya. Kami sedang bekerja keras, juga sedang dikerjakan Kementerian Keuangan, bagaimana pemerintah bisa melakukan hibah ataupun investasi pada usaha perintis atau startup di mana para investor belum berani karena masih terlalu berisiko," kata Triawan.

Namun, dia menambahkan, pendanaan langsung masih sulit dilakukan.

"Kami belum bisa melakukan itu. Akan melanggar undang-undang kalau pemerintah ikut menyertakan dana ke startup. Jadi kami belum bisa menyediakan dananya," kata Triawan.

Kondisi itu disayangkan penikmat game buatan Indonesia.

"Game buatan Indonesia asyik banget, bagus banget. Kalau diadu dengan game luar, game Indonesia bisa bersaing. Jadi sayang ya kalau game buatan dalam negeri tidak didukung pemerintah. Seharusnya pemerintah lebih memperhatikan," kata Eca, ketika ditemui di pameran game Indonesia.

Versi audio artikel ini dapat Anda dengarkan dalam program Dunia Bisnis yang disiarkan BBC Indonesia melalui mitra-mitra pada Senin (19/12) pukul 05.00 WIB.

Topik terkait