Gempa Aceh ingatkan pentingnya bangunan tahan gempa

gempa, aceh Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Deretan ruko di kompleks Pasar Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, ambruk ketika gempa melanda pada 7 Desember lalu.

Gempa berkekuatan 6,5 pada skala Richter yang mengguncang tiga kabupaten di Provinsi Aceh, 7 Desember lalu membangkitkan kembali pentingnya bangunan tahan gempa di Indonesia.

Sehari setelah gempa melanda Aceh, pada 7 Desember lalu, saya bertolak ke Kota Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya.

Persis di sebelah pasar kota ini saya menyaksikan reruntuhan deretan ruko lantai dua yang ambruk total akibat gempa. Kerusakan parah juga tampak pada sejumlah masjid.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana, sebanyak 104 orang meninggal dunia dan hampir 20.000 rumah rusak. Sebagian besar korban meninggal dunia lantaran tertimpa reruntuhan bangunan.

Kondisi ini terjadi lantaran konstruksi sejumlah bangunan begitu lemah, kata Taufiq Saidi, staf pengajar Teknik Sipil Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

"Ada masjid yang ternyata kualitas betonnya sangat jelek, kerikil yang digunakan juga tidak sesuai standar. Kita tes uji tekannya, sangat rendah. Tulangan utamanya bagus, tapi tulangan geser sangat kecil, jaraknya sangat jarang," kata Taufiq, merujuk tulang baja yang diisi beton dalam konstruksi bangunan.

Taufiq menengarai bahwa para tukang menambah terlalu banyak air pada campuran semen dan kerikil.

"Jika air terlalu banyak ditambahkan, kekuatan betonnya akan turun," ujarnya.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Sebuah masjid di Kabupaten Pidie Jaya ambruk ketika gempa melanda. Tidak ada korban jiwa di masjid tersebut.

Pengamatan Taufiq setali tiga uang dengan laporan Sutadji Yuwasdiki, yang diutus Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk meninjau bangunan-bangunan roboh setelah gempa.

"Saya mencatat mutu betonnya rendah sekali. Kemudian aspek detail, seperti hubungan antara kolom dan balok, itu hanya menempel saja. Kemudian tulangan geser, harusnya rapat. Di beberapa bangunan yang ambruk, ini malah tidak ada sama sekali," ujar Sutadji.

Sutadji juga mencatat adanya konsep rumah tumbuh, yaitu rumah yang semula hanya didesain hanya satu tingkat tapi belakangan dibangun hingga dua-tiga tingkat ketika pemiliknya memiliki dana.

"Ini yang menyebabkan bangunan itu roboh ketika ada guncangan gempa," kata Suwadji.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Menara sebuah masjid di Kabupaten Pidie Jaya roboh saat gempa mengguncang 7 Desember lalu.

Penguatan pada sambungan

Agar bangunan lebih tahan gempa, Adang Surahman selaku pakar teknik sipil dari Institut Teknologi Bandung yang mendalami kajian bangunan tahan gempa mengutarakan caranya.

"Yang sering dilupakan orang adalah pengikatan pada komponen-komponen bangunan. Tulangan harus benar. Kemudian di bagian-bagian sambungan harus diikat, istilahnya confinement," kata Adang.

Hal ini ditegaskan oleh Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Arief Sabarudin. Menurutnya, walau materi bangunan dan fondasi penting, teknik penguatan dalam bangunan tahan gempa memainkan peran krusial.

"Tidak cukup fondasi menopang bangunan di atasnya manakala antara fondasi dan sloof tidak ada ikatan yang kuat. Sehingga antara fondasi dan sloof harus ada stek. Kolom dengan ring balok harus ada stek, kolom dengan dinding harus ada stek. Ibaratnya seperti sapu lidi. Sapu lidi jika tidak diikat akan acak-acakan," papar Arief.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Jembatan di kompleks Pasar Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, ambruk tatkala gempa melanda 7 Desember lalu.

Pelaksanaan aturan

Pendirian bangunan tahan gempa ini, menurut Arief disokong dengan pedoman teknik dalam standar konstruksi yang dikeluarkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Rangkaian peraturan itu, kata Adang, sudah sama baiknya dengan aturan bangunan tahan gempa di Jepang.

"Aturan sudah ada, tinggal bagaimana menegakkan aturan itu. Kita tahu selama ini bahwa izin mendirikan bangunan tidak menyangkut aspek kualitas gedung. Saya melihat ada kelalaian yang seharusnya tidak terulang," kata Taufiq Saidi.

Topik terkait

Berita terkait