Cara orang Irak hidup bersama: Cerita Uskup Agung Bashar Warda

Hak atas foto Hugh Sykes
Image caption Misa konsekrasi menggunakan bahasa Kasdim yaitu bahasa yang berhubungan dengan bahasa Aram yang merupakan bahasa dengan sejarah selama 3.000 tahun.

Uskup Agung Bashar Warda mengatakan, "Kami hanya belajar untuk hidup bersama, belajar bersama, saling menerima," jelasnya waktu pertama kali saya bertemu dia pada tahun 2005.

"Ini adalah cara orang Irak untuk hidup bersama," ujarnya. Dia menunjukkan kepada saya sekolah dasarnya, lebih dari 400 anak-anak Kristen dan Muslim (dengan perbandingan 60% dan 40%) bersekolah di sana. Tidak ada instruksi agama di sekolah tersebut, katanya.

Setelah tahun 2005, banyak peristiwa kekerasan telah merusak kehidupan orang-orang Irak.

"Saat Anda mengobati kanker, Anda harus menggunakan cara-cara yang tidak bisa dihindari," kata Bashar Warda, Uskup Agung Katolik Kasdim di Irbil, Irak, ketika saya menanyai dia apakah layak untuk membunuh para anggota kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS.

"Mereka menganggap kita para penista agama dan orang-orang kafir, waktu mereka menolak untuk bernegosiasi, berdialog, tidak menganggap keberadaan kita - waktu mereka tidak menganggap kita sebagai manusia, dan mencoba membunuh kita. Apa pilihan kita lainnya untuk mengakhiri kekejaman mereka?" lanjutnya.

Tepuk tangan dan keriuhan meramaikan gereja katedral Santo Joseph di Irbil dalam perayaan Natal tahun 2016 ini saat Uskup Agung Bashar membuat pernyataan yang sama pada misa di katedral tersebut setelah direnovasi dan modernisasi.

Inilah untuk pertama kalinya, Natal dirayakan dengan kelegaan bagi ribuan pemeluk Kristen Irak, setelah beberapa kota dan desa di seputar Mosul dibebaskan dari ISIS.

Lebih dari 1.000 orang Irak Kristen menghadiri misa tersebut. Terdengar nyanyian puji-pujian yang merdu dari paduan suara laki-laki dan perempuan berseragam warna putih.

Hak atas foto Hugh Sykes
Image caption Seorang anak laki-laki anggota altar gereja ditugasi untuk menjaga mitra (ikat kepala) Uskup Agung.

Anak laki-laki dan perempuan anggota altar gereja berjubah merah dan putih menghadiri misa yang dipimpin oleh uskup agung.

Beberapa Muslim di tengah jemaat

Asap tebal dari dupa di anglo yang diayunkan oleh kepala pendeta pun memenuhi ruangan, yang berjalan masuk gereja dipimpin oleh seorang pendeta lainnya yang membawa tongkat dengan salib perak di bagian atasnya.

Bahasa yang digunakan pada misa tersebut adalah bahasa Kasdim yang terkait dengan bahasa Aram, yaitu bahasa yang digunakan di Timur Tengah pada masa Yesus Kristus. Para jemaat berdoa menggunakan bahasa Kasdim.

Terdapat mural-mural baru dengan dekorasi warna merah dan emas, melukiskan bayi Yesus dengan Yusuf dan Maria.

Maria, atau Mariam dalam bahasa Arab, ibunda Nabi Isa dalam Islam- adalah sosok yang banyak dipuja di sini.

Ada beberapa Muslim yang berada di antara jemaat misa tersebut.

Hak atas foto Hugh Sykes
Image caption Uskup Agung, Bashar Warda, pada waktu misa Natal di sebuah gereja di Irak.

Saya pertama kali bertemu Bashar Warda 11 tahun yang lalu, saat dia menjadi pendeta paroki di Baghdad, di gereja Santo Ilya, tepat bersebelahan dengan masjid Syiah.

Beberapa perempuan Muslim sembayang di halaman gereja.

Uskup Agung Bashar menunjukkan saya sekolah dasarnya, lebih dari 400 anak-anak Kristen dan Muslim (dengan perbandingan 60% dan 40%) bersekolah di sana.

Tidak ada instruksi agama di sekolah tersebut, katanya kepada saya, "(kami) hanya belajar untuk hidup bersama, belajar bersama, saling menerima."

Bashar menutup pernyataannya dengan, "ini adalah cara orang Irak untuk hidup bersama." Itu dia katakan kepada saya pada tahun 2005.

Setelah tahun 2005, banyak peristiwa kekerasan telah merusak cara hidup orang-orang Irak.

Hak atas foto Hugh Sykes
Image caption Jumlah penduduk Kristen di Irak telah menurun drastis dalam beberapa tahun terakhir ini.

Berapa jumlah pemeluk Kristen di Irak?

  • Sebelum invasi dan kependudukan pada tahun 2003, ada sekitar 1,5 juta warga Kristen di Irak.
  • Saat ini, diperkirakan jumlah mereka antara 200.000 hingga 400.000 orang.
  • Sekitar sejuta warga Kristen Irak meninggalkan negara tersebut atau mati dibunuh.
  • Pangeran Charles baru-baru ini memberikan pesan Thought For The Day di BBC Radio 4 untuk memberikan peringatan terhadap komunitas Kristen Irak yang terancam.

Beberapa pendeta telah dibunuh, salah satunya dipenggal dan tubuhnya dipotong-potong. Uskup Agung di Mosul sebelumnya meninggal setelah diculik, dan seorang pendeta di Baghdad diculik dan dilepaskan karena uang tebusan telah dibayarkan.

Puluhan orang Kristen meninggal karena serangan bom di gereja-gereja saat mereka menghadiri misa.

Al-Qaeda di Irak dan penerusnya, ISIS, membunuh ratusan pemeluk Kristen dan mengancam lebih banyak warga lainnya untuk keluar dari rumah mereka.

Tapi, akhirnya Natal kali ini terasa tenteram, bagi ribuan orang Kristen Irak.

Beberapa kota dan desa mereka di sekitar Mosul telah bebas dari kependudukan kelompok ISIS.

Hak atas foto Hugh Sykes
Image caption Lebih dari ribuan penganut Kristen Irak menghadiri misa di gereja Santo Joseph.

Topik terkait

Berita terkait