Memutus siklus sampah di gunung dan taman nasional Indonesia

gunung, lingkungan Hak atas foto Liliek Dharmawan
Image caption Gunung Slamet, Jawa Tengah, pertengahan Desember lalu.

Kabut masih terlihat di Dusun Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Purbalingga, Jawa Tengah, saat jarum jam menunjukkan pukul 06.00 WIB.

Dengan temperatur sekitar 20 derajat Celcius, ribuan warga sudah berkumpul di pos pendakian Gunung Slamet pada Rabu (14/12) pagi, untuk bersiap mendaki. Mereka terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari petani hingga mahasiswa.

Amin, warga Desa Kutawaba, Purbalingga, adalah salah seorang dari ribuan pendaki. Dia mengaku sengaja tidak pergi ke ladang guna membersihkan sampah di Gunung Slamet.

Lain lagi dengan Hafiz, mahasiswa Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Di tengah kesibukan kuliah, dia menyempatkan diri mengikuti acara membersihkan sampah di Gunung Slamet.

"Sementara ini, orang-orang yang mendaki ke puncak Gunung Slamet banyak yang kurang peduli terhadap sampah sehingga banyak sampah berceceran. Kegiatan semacam ini harus terus didukung supaya Gunung Slamet bersih," ujarnya.

Bersih gunung

Kepala Bidang Pariwisata Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Dinbudparpora) Purbalingga, Prayitno, menyatakan acara bersih gunung diikuti sebanyak 2.229 peserta .

"Mereka tidak hanya berasal dari desa-desa di lereng Gunung Slamet, namun juga diikuti oleh para pecinta alam dari Purwokerto, Banjarnegara, Pemalang dan lainnya. Kegiatan ini akan kami jadikan agenda tahunan," katanya kepada wartawan Liliek Dharmawan.

Hingga siang hari, sampah yang berhasil dikumpulkan mencapai lebih dari 100 kantong. "Kalau dari perkiraan, barangkali bisa sampai dua truk nantinya,"ujar Prayitno.

Hak atas foto Liliek Dharmawan
Image caption Ribuan pendaki yang mengikuti acara bersih gunung di Gunung Slamet mengumpulkan lebih dari 100 kantong sampah.

Kegiatan bersih gunung bukan sekali ini berlangsung.

Pada 2016 saja, kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah memfasilitasi sejumlah kegiatan serupa di berbagai gunung dan taman nasional di Indonesia, sebagaimana dikatakan Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Tuti Mintarsih.

"Bulan April ada acara Sapu Gunung yang dilaksanakan serentak di Sumatra dan di Jawa. Setelah saya dengar dari kepala-kepala taman nasional, jumlah sampah sangat banyak," ujar Tuti.

Berdasarkan catatan KLHK, dalam acara Sapu Gunung tersebut, sebanyak 453 ton sampah diangkut dari berbagai gunung dan taman nasional, seperti Taman Nasional Kerinci Seblat, Gunung Rinjani, Gunung Gede Pangrango, Gunung Merbabu, Gunung Merapi, Gunung Sindoro, Gunung Argopuro dan Gunung Prau.

Memotong siklus sampah

Akan tetapi, kalangan aktivis lingkungan menilai aksi bersih gunung yang dilakukan selama ini tidak efektif.

Ragil Budi Wibowo adalah salah seorang yang berpendapat demikian. Bersama rekan-rekan sesama pendaki yang tergabung dalam Trashbag Community, dia telah membawa turun sampah dari 50 taman nasional di Indonesia.

Dari pengalaman itu, dia memperkirakan ada potensi sampah seberat lima ons yang dibawa setiap pendaki.

"Misalkan dalam suatu akhir pekan ada 1.000 pendaki yang membawa turun sampahnya masing-masing, kita sudah mengurangi potensi tumpukan sampah seberat 141 kilogram," katanya.

Dengan perilaku semacam itu, menurutnya, pemerintah dan pecinta alam akan mampu memotong siklus sampah.

"Meski mengangkut sampah dari gunung itu penting, ada hal lain yang lebih mendesak, yaitu kesadaran membawa turun sampah masing-masing. Kalau kita hanya fokus membersihkan sampah dari atas gunung, sementara kita tidak mencegah sampah baru naik ke atas, itu akan menjadi lingkaran terus-menerus. Kita akan selamanya mengangkut sampah dari atas gunung," papar Ragil.

Hak atas foto TRASHBAG COMMUNITY
Image caption Relawan Trashbag Community mengumpulkan sampah dari berbagai gunung dan taman nasional.

Pengawasan ketat

Untuk menumbuhkan kesadaran, Ragil menekankan pentingnya edukasi kepada setiap pendaki. Dia juga menyarankan agar pengawasan di gunung dan taman nasional mulai diperketat dan pengolahan sampah dibangun.

Namun, mewujudkannnya tidak sesederhana itu, kata Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya KLHK , Tuti Mintarsih.

"Petugas taman nasional sedikit sekali dan tidak ada unit khusus yang mengolah sampah. Tapi, kita rencanakan tahun depan ada lima taman nasional kita bangunkan satu unit pengolahan sampah yang kapasitasnya bisa 10 ton per hari. Kelima taman nasional itu adalah Taman Nasional Komodo, Wakatobi, Rinjani, Pulau Seribu, serta Bromo-Semeru," papar Tuti kepada wartawan BBC Indonesia, Jerome Wirawan.

Rencana pemerintah untuk membangun unit pengolahan sampah diapresiasi Ragil Budi Wibowo dari Trashbag Community. Namun, dalih pemerintah bahwa gunung dan taman nasional kekurangan sumber daya manusia dinilai alasan klasik.

"Itu alasan klasik. 10 tahun hingga 20 tahun mendatang, pemerintah akan beralasan kurang sumber daya manusia, sedangkan tren pendakian terus meningkat," ujar Ragil.

Untuk memecahkan masalah tersebut, dia mengusulkan agar pihak taman nasional mengajak para pendaki berpartisipasi menjadi relawan.

"Dari data itu akan terlihat siapa saja yang rutin berkunjung. Elemen masyarakat itulah yang harus diajak berpartisipasi untuk menjadi relawan taman nasional tersebut. Mereka akan ikhlas untuk membantu," tutup Ragil.

Hak atas foto Luluk Kartika
Image caption Luluk Kartikawati, penggagas gerakan Clean Art Vandalism on the Mountain atau Cav Ot Mountain, menghapus coretan cat di berbagai gunung.

Relawan pembersih gunung

Salah seorang relawan pembersih gunung adalah Luluk Kartikawati, penggagas gerakan Clean Art Vandalism on the Mountain atau Cav Ot Mountain. Perempuan yang berprofesi sebagai guru sekolah dasar itu mengaku prihatin dengan kondisi kebersihan sejumlah gunung dan taman nasional sejak beberapa tahun lalu.

Dengan modal sendiri, Luluk membeli cairan kimia dan perangkat pembersih untuk menghapus coretan cat pada tebing-tebing gunung. Dia juga mengangkut sampah dari gunung seraya mengajak para pendaki untuk turut serta.

"Alhamdulillah, ada saja orang-orang dari berbagai daerah di Indonesia yang menyambut ajakan ini. Mereka juga tergerak untuk membersihkan gunung. Ada memang yang melecehkan dan menuduh saya mencari perhatian, tapi biarkan saja. Yang penting saya ikhlas demi kebersihan alam," kata Luluk.

Topik terkait

Berita terkait