Leila de Lima, perempuan penantang Presiden Filipina Rodrigo Duterte

Leila de Lima Hak atas foto AFP/GETTY IMAGES
Image caption Leila de Lima menduduki posisi menteri kehakiman di masa pemerintahan Presiden Gloria Arroyo.

Lantaran secara terang-terangan menentang Presiden Filipina Rodrigo Duterte, senator Leila de Lima menjelma seperti duri dalam diri mantan wali kota Davao itu.

Berikut kiprahnya, seperti ditulis wartawan BBC, Jonathan Head.

Rodrigo Duterte bukan seperti presiden-presiden Filipina sebelumnya sejak era Ferdinand Marcos.

Gaya bicara kasar, aksi-aksinya spontan, dan secara terbuka menerapkan pendekatan kekerasan dalam memerangi narkoba. Kadang, tiba-tiba saja ia mengubaah kebijkan, yang tentu saja kemudian menarik perhatian media.

Popularitasnya naik di negara yang haus akan perubahan.

Kebijakan-kebijakannya menggemparkan kalangan liberal Filipina dan para pegiat hak asasi manusia, namun dipandang sebagai juru selamat oleh yang lainnya.

Sikap sang presiden bahkan bisa membuat hubungan kekeluargaan terpecah, komentar yang dilontarkan tentang Duterte di media seringkali bernada kasar dan dipenuhi rasa geram. Duterte disebut-sebut memiliki tim media sosial yang terampil, bahkan cenderung manipulatif menurut sebagian orang.

Gelombang dukungan yang dramatis mendorong mantan wali kota Davao itu menduduki kursi kepresidenan. Dukungan itu diperoleh dengan membujuk para politikus bahkan partai-partai pesaingnya di Kongres, sehingga membentuk apa yang dikenal sebagai 'mayoritas super'. Akibatnya, ia dapat mengenyam masa jabatan enam tahunnya tanpa oposisi resmi.

Kendati demikian, ada segelintir politikus yang menentang presiden. Salah satunya adalah Senator Leila de Lima, seorang pengacara yang pernah menjabat sebagai menteri kehakiman.

Sikap keras De Lima terhadap Duterte dan sekutu-sekutunya saat sidang dengar pendapat di Kongres yang diikuti dengan perang tuduhan di media menjadi tontonan rakyat Filipina.

Pria 'narsistik' vs 'perempuan tidak bermoral'

Senator De Lima awalnya mengetuai komite investigasi di Senat yang menangani kasus-kasus pembunuhan terhadap para tersangka narkoba yang tidak melewati proses hukum. Pembunuhan ini meningkat secara dramatis sejak Presiden Duterte menjabat.

Hak atas foto AP
Image caption Presiden Duterte dikenal akan tindakan kerasnya terhadap para pengedar dan pecandu narkoba.

Ia membawa seorang mantan anggota 'pasukan pembunuh' dari Davao untuk bersaksi bahwa Duterte sendiri terlibat dalam pembunuhan main hakim sendiri saat ia menjabat wali kota, namun Duterte membantah dan membenarkan pada kesempatan terpisah.

Duterte lalu merespons tudingan itu dengan menuduh De Lima menerima uang dari pengedar narkoba yang berada dalam penjara terbesar di Filipina sewaktu ia menjabat sebagai menteri kehakiman.

Pada bulan September, sekutu-sekutu Duterte di Senat menyingkirkan De Lima dari perannya sebagai ketua komite investigasi, yang kemudian membebaskan keterlibatan Presiden Duterte dalam kasu-kasus pembunuhan main hakim sendiri. Setidaknya ada lima pengaduan pidana terhadap De Lima, meskipun ia belum didakwa.

De Lima menyebut Duterte sebagai 'orang tua yang narsis' dan temperamental, yang tidak becus menangani permasalahan negara.

Sementara Duterte menyebut De Lima sebagai 'perempuan tak bermoral' dan menyarankan agar ia menggantung dirinya sendiri.

Para sekutu Duterte di Kongres melakukan penyelidikan terhadap De Lima, dengan membongkar hubungan asmara dengan sopirnya, dan mendorong para pengedar narkoba bersaksi untuk menentangnya.

'Tidak pernah meminta untuk menjadi kontroversial'

Leila de Lima lahir pada 1957 dan dibesarkan di wilayah Bicol yang terletak di Pulau Luzon. Ayahnya adalah seorang pengacara dan pernah memimpin Komisi Pemilu Nasional pada era 1990-an.

De Lima juga kuliah di bidang hukum, ia lulus dengan nilai tertinggi ke-8 di negara ini pada tahun 1985. Ia memiliki dua anak laki-laki, tetapi pernikahannya berakhir pada tahun 2001. Belakangan dia mengaku hal itu terjadi karena komitmen terhadap pekerjaannya.

Ia lalu bekerja di DPR Filipina, sebelum kemudian diangkat sebagai ketua Komisi Hak Asasi Manusia oleh Presiden Gloria Arroyo pada tahun 2008.

De Lima dikenal sebagai seorang pengacara yang vokal dan berani menegakkan 'keadilan tanpa pandang bulu'. Dia pernah melakukan penyelidikan terhadap Duterte yang diduga memerintahkan pasukan bersenjata untuk membunuh para tersangka pengedar narkoba di Davao City, tempat Duterte menjadi wali kota.

Ia mengadakan serangkaian dengar pendapat di Davao pada tahun 2009. Namun dia tidak bisa menemukan para saksi atau bukti jelas yang mengaitkan Duterte atau polisi dengan pasukan bersenjata misterius yang menewaskan lebih dari 1.000 orang selama dasawarsa sebelumnya, banyak dari mereka merupakan anak-anak.

Hak atas foto AFP/GETTY IMAGES
Image caption Leila de Lima juga mengumpulkan para pendukung untuk kampanyenya yang menentang Duterte.

Ketika ia diangkat sebagai menteri kehakiman pada tahun 2010 oleh Presiden Benigno Aquino III ia tidak menunjukkan keengganan untuk memburu kasus-kasus yang diduga melibatkan parapejabat tinggi.

Pada 2011, dia memerintahkan penangkapan terhadap mantan Presiden Arroyo saat hendak menaiki pesawat untuk berobat di rumah sakit luar negeri. Dua tahun berikutnya, ia mengajukan tuntutan pidana terhadap tiga senator terkemuka atas dugaan penyalahgunaan dana pembangunan.

Ia juga menyeret Iglesia ni Cristo, gereja terbesar ketiga di Filpina, atas dugaan kasus penculikan yang kemudian memicu demonstrasi besar-besaran di luar kantornya.

Bahkan beberapa komentator yang simpatik pun menuding De Lima mencari kontroversi, karena perannya dalam memberantas kejahatan terlalu banyak mendapat publikasi media.

"Beberapa orang menyebut saya sebagai seorang publik figur yang kontroversial," katanya tahun lalu.

"Saya tidak akan dan tidak bisa menyangkalnya. Tapi saya tidak pernah meminta untuk menjadi kontroversial. Bahkan, mustahil untuk tetap tidak kontroversial ketika kasus-kasus kalangan atas terus timbul. Satu-satunya cara untuk tetap low profile adalah tidak melakukan apa pun yang layak dilihat kalangan umum."

Meski demikian, sebagian orang menilai bahwa dalam kenyataannya tidak banyak yang berubah dalam kinerja sistem peradilan saat De Lima menjabat menteri kehakiman. Secara khusus mereka merujuk pada peredaran narkoba, bahkan produksi narkoba, di penjara terbesar Filipina, New Bilibid.

Merespons kritik tersebut, De Lima memimpin sebuah razia ke sebuah penjara pada Desember 2014. Aksi tersebut mendapat banyak perhatian media.

Di penjara yang ditempati oleh beberapa narapidana paling terkenal mereka menemukan fasilitas mewah yang menakjubkan, sauna, kulkas yang lengkap dengan makanan, sebuah boneka seks tiup, ponsel, persediaan narkoba serta senjata api.

Hak atas foto AFP
Image caption Narkoba dan alkohol ditemukan di beberapa sel penjara saat penggerebekan.

Seusai razia itu, sebanyak 19 tahanan dipindahkan dan beberapa pejabat dihukum. Namun, cerita peredaran narkoba di penjara terus bergulir, sehingga pada bulan Juli tahun ini pengelolaan penjara diambil alih oleh pasukan khusus kepolisian.

Presiden Duterte menggunakan skandal yang terjadi penjara ini untuk mendiskreditkan Senator de Lima.

Sekutunya membawa 10 orang, tujuh diantaranya adalah narapidana, untuk bersaksi di depan Kongres bahwa pengedar narkoba memberikan uang kepada sopir sekaligus kekasih de Lima, untuk membantu mendanai kampanyenya meraih kursi di senat.

Sopirnya, Ronnie Dayan, yang mengaku memiliki hubungan asmara dengan De Lima selama tujuh tahun, juga ikut bersaksi menentang dirinya.

Hak atas foto Reuters
Image caption Dayan (kiri) merupakan sopir sekaligus pengawal Leila de Lima.

Menyerah dalam pertarungan?

Senator De Lima menyanggah semua tuduhan tersebut. Teman-temannya menyebut bahwa ia tidak memiliki kekayaan, dan mereka pun berpendapat para pejabat bisa dengan mudah memaksa orang-orang, terutama para tahanan untuk berbicara menentang De Lima, seperti halnya pejabat-pejabat yang dominan seperti Presiden Duterte. De Lima, menurut mereka, tentu saja mempunyai banyak musuh dalam kariernya.

Kehidupan pribadinya juga berada dalam sorotan. Di media sosial, ia difitnah oleh pendukung-pendukung Presiden Duterte.

Ia memang mempunyai beberapa sekutu dalam dunia politik Filipina, namun tak ada seorang pun yang bisa membantunya menghadapi Duterte. Kini, masa depannya tergantung pada dakwaan kriminal. Bahkan, jabatannya sebagai senator tengah terancam.

Namun, Senator de Lima tetap menantang, bersikeras bahwa ia benar, dan menyerukan intervensi internasional untuk menyelidiki pembunuhan para pengedar narkoba.

Ia terus berkampanye menentang dihidupkannya kembali hukuman mati. Bulan ini ia dianugerahi penghargaan oleh majalah Foreign Policy sebagai salah satu Global Thinker 2016, atas jasanya yang 'menentang pemimpin ekstremis'.

Topik terkait

Berita terkait