Peternak sapi di Lembang gunakan kotoran sapi untuk biogas

Biogas Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Eti Sumiati tengah memindahkan kotoran sapi untuk jadi biogas.

Peternak di Lembang Jawa Barat menggunakan kotoran sapi untuk biogas sejak beberapa tahun ini. Apakah upaya ini dapat mengurangi pencemaran lingkungan?

Eti Sumiati (38) tengah sibuk memindahkan kotoran sapi ke dalam reaktor biogas yang terletak di sebelah kadang sapi miliknya.

Setelah mencampurnya dengan air, Eti mengaduknya, perlahan kotoran sapi itu pun mengalir.

Aktivitas rutin ini dilakukan sejak 2011 lalu, setelah dia dan sekitar 1.000 peternak sapi perah mendapatkan biogas dan kompor buatan CV Energi Persada.

Sejak itu pula Eti, berhenti menggunakan kompor berbahan bakar gas elpiji.

"Sebelumnya pake elpiji, kalaa saya pake ini merasa aman saja, saya takut (pakai elpiji) karena ga bisa masangin tabungnya, kalau ini kan aman, anak-anak juga bisa,"

Satu set reaktor biogas itu seharga RP6,6 juta, dibayar dengan kredit selama lima tahun melalui Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KSPBU), dengan cicilan 100 ribu setiap bulannya.

"Keuntungannya ya saya bisa mengirit uang, keamanannya. Itu aja," kata Eti.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Reaktor biogas dbagikan kepada lebih dari 1.000 peternak di Lembang.

Tetangga Eti yang juga sesama peternak, Alo Cahyana, 55 tahun juga telah beralih dari tungku kayu bakar ke biogas sejak lima tahun lalu.

"Kalau sehari-hari cukup, (saya punya) empat sapi, masuk situ kelebihan buang sebagian separonya buat biogas, (sisanya ) dibuang ke lobang saja, yang dulu, kalau sekarang sih engga diambil karena ga laku, dulu ada yang beli ya dijual 6000 satu karung," jelas Alo.

Reaktor biogas yang diproduksi oleh Bambang Boedi Cahyono atau yang biasa disapa Yono (40 tahun) itu bisa untuk memasak dan juga menghasilkan pupuk untuk tanaman.

Tapi bagi, Eti dan Alo yang tidak memiliki ladang, 'sisa' kotoran yang seharusnya menjadi pupuk dibuang begitu saja.

Dulu semua kotoran sapi milik peternak di Lembang itu dibuang dan mencemari Sungai Cikapundung. Tetapi setelah dimanfaatkan menjadi biogas, jumlahnya yang dibuang sudah berkurang.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Kotoran sapi di Lembang biasanya dibuang ke Sungai Cikapundung

Berawal dari kepedulian lalu bisnis

Yono berupaya mencari solusi untuk mengatasi pencemaran lingkungan itu. Sejak 2000 lalu, dia melakukan uji coba membuat biogas untuk menghasilkan energi yang terbarukan dan empat tahun kemudian, bisa membuat reaktor biogas dari bahan baku plastik.

"Bukan cuma kepedulian, sayang banget ini lho, lebih dari itu, ini kotoran sapi dibuang kayak gini, terus tau-tau di Cikapundung itu ijo semua kayak gitu. Tahun 2000 saya mulai cari-cari sumber untuk membuat biogas cari desain segala macem terus uji coba, 2004 baru pertama kali reaktornya bisa dijual, model plastik waktu itu, minyak tanah itu naik dari (RP) 1.000 jadi (RP) 2.000, baru masyarakat oh ya kayak mulai sadar perlu alternatif yang lain nih sudah mulai sadar teknologi itu akan mulai jarang dan mahal," jelas Yono.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Kotoran sapi yang diolah menjadi biogas.
Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Alo Cahyana rutin memindahkan kotoran sapi ke reaktor biogas.

Sampai saat ini Yono sudah menjual 1.054 unit dan mengembangkan untuk daerah lain. Di Kota Bandung, Yono bekerja sama dengan masyarakat untuk membangun biogas yang menggunakan sampah.

Selain itu, dia pun rajin memberikan pelatihan ke berbagai daerah. Menurut Yono, tak mudah untuk membuat masyarakat beralih ke energi terbarukan dan mereka butuh pendampingan, seperti yang dilakukannya di Lembang ini.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Bambang Boedi Cahyono telah memproduksi reaktor biogas untuk petani di Lembang.

"Pertamanya mereka ga tahu, itu kan didesain dari awal, terus pada saat terjadi pelimpahan teknologi dari kami ke masyarakat itu, masyarakat engga otomatis bisa terima dan bisa langsung membumi dalam keseharian, orang-orang lokal yang ditugaskan untuk mengunjungi masyarakat, jadi ada call center, tidak ada gap budaya," jelas Yono.

Sejak 2007 lalu, Yono bekerja sama dengan Wawak Wahyudi mendirikan Workshop Biogas BCL ( Barudak Urang Sadaya) untuk pembuatan reaktor biogas. Dia berharap bisa mengembangkan teknologi biogas agar bisa bermanfaat untuk banyak orang.

Berita terkait