Bantu atasi stres, SMA di Cina bolehkan murid 'pinjam nilai'

Sekolah di Cina Hak atas foto AFP
Image caption Sistem pendidikan Cina masih bergantung pada nilai ujian yang memerlukan persiapan matang para siswa.

Banyak cara dilakukan oleh sekolah-sekolah untuk membantu para siswanya lulus ujian. Salah satunya yang dilakukan sebuah sekolah menengah atas di Kota Nanjing, Cina.

Sekolah ini menciptakan inovasi yang membuat para siswa dapat 'meminjam' nilai di 'bank' untuk mendongkrak nilai di mata pelajaran tertentu sehingga bisa lulus ujian.

Pihak sekolah mengatakan skema ini bertujuan untuk mengurangi stres saat para siswa menjalani ujian.

Skema ini menjadi bahan pembicaraan di Cina di tengah meningkatnya kekhawatiran atas sistem pendidikan yang masih mengandalkan ujian yang ketat.

'Reputasi pinjaman' berdasarkan perilaku

Menurut laporan-laporan media pekan ini, sekolah tersebut memperkenalkan skema ini pada November 2016 untuk 49 siswa dalam sebuah program yang bertujuan agar para siswa tersebut bisa masuk ke berbagai perguruan tinggi di AS.

Dalam skema itu, para siswa bisa 'meminjam' nilai-nilai pelajaran dari bank nilai untuk mata pelajaran tertentu yang dianggap membutuhkan kerja keras dalam belajar, seperti bahasa, biologi, kimia dan sejarah.

Sejauh ini ada 13 siswa yang telah mengambil bagian dalam skema tersebut.

Ketika seorang siswa meminjam nilai, dia praktis berutang pada bank dan diharapkan untuk menebusnya dengan nilai-nilai yang mereka peroleh pada ujian berikutnya.

Untuk mendorong siswa dalam meningkatkan prestasi, mereka juga dikenakai 'bunga' jika mereka tidak membayar pinjaman dengan cepat.

Dan seperti halnya di bank, reputasi pinjaman siswa akan dinilai berdasarkan catatan perilaku mereka, kehadiran di sekolah dan memenuhi tugas untuk membersihkan kelas.

Para siswa juga akan dimasukkan ke dalam 'daftar hitam' jika mereka gagal mengembalikan pinjaman mereka pada waktu yang telah ditentukan.

Jika guru-guru menyetujuinya, mereka bahkan bisa meminta teman sekelas untuk membayar pinjaman mereka atas nama mereka.

"Saya beberapa kali tidak masuk kelas karena saya sakit, dan saya tidak bisa mengerjakan ujian geografi dengan baik. Tapi 'bank nilai' memberi saya kesempatan untuk menyelamatkan situasi ini," kata salah satu siswa bernama Xiaozhu mengatakan kepada Yangzi Evening Paper.

'Tekanan besar '

Pihak sekolah sendiri belum menanggapi permintaan BBC untuk wawancara.

Tapi Huang Kan selaku kepala sekolah tersebut mengatakan dalam wawancara dengan media Cina bahwa skema itu ditujukan untuk mengubah budaya ujian Cina dan 'mengeksplorasi sistem evaluasi baru'.

"Dalam pelaksanaan ujian-ujian terdahulu, nilai menjadi segalanya dan tekanan pada siswa menjadi semakin besar," katanya.

"Tujuan dari ujian ini adalah untuk mengukur, memberikan umpan balik, mengoreksi, dan meningkatkan standar dan bukan untuk membuat hal-hal menjadi sulit, menghukum atau merusak antusiasme para siswa"

Ia menambahkan bahwa skema itu akan mendorong siswa untuk memiliki "tanggung jawab dan bakat yang lebih besar untuk belajar".

Hak atas foto AFP
Image caption Ujian masuk ke Universitas Gaokao menimbulkan kecemasan bagi para siswa dan orang tua.

Sistem pendidikan di Cina seringkali dikritik karena terlalu kaku dan mengandalkan ujian seperti ujian nasional memasuki Universitas Gaokao yang terkenal melelahkan.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh kelompok peneliti pendidikan yang berbasis di Beijing pada tahun 2014 menemukan bahwa sebagian besar kasus bunuh diri para siswa dikaitkan dengan tekanan yang dihadapi dari pelaksanaan ujian sekolah.

'Bank nilai' ini telah menarik minat media Cina dan daring.

Beberapa kalangan yakin bahwa itu adalah langkah yang baik. Meski begitu masih ada orang-orang yang mempertanyakan apakah hal ini mungkin bisa secara tidak sengaja mengirim pesan yang salah kepada siswa.

"Pelaksanaan ujian mungkin bisa menghilangkan kekakuan mereka. Jika Anda tidak bisa mengerjakan ujian dengan baik, Anda bisa mengulangnya kembali. Tapi hidup seringkali tidak memberikan kesempatan kedua," kata salah satu pengguna Weibo.

Sementara, media Beijing News mengutip seorang ahli pendidikan yang mengatakan bahwa skema itu adalah 'pedang bermata dua' karena beberapa siswa dapat mengambil ujian kurang serius dan akhirnya berkembang "inersia".

Tapi Huang membela gagasan tersebut.

"Bank nilai bukan lembaga amal yang bertujuan untuk membuat siswa menjadi malas, melainkan merupakan didikan yang bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada para siswa yang rajin," katanya kepada Xiandai Kuaibao.

Topik terkait

Berita terkait