Perjalanan warga Korut jadi gelandangan, preman, hingga S2 di Inggris

Sungju Lee Hak atas foto Sungju Lee
Image caption Sungju Lee

Sebagai anak yang bermukim di ibu kota Korea Utara pada awal 1990-an, Sungju Lee merasakan hidup yang nyaman di apartemen dengan tiga kamar.

Sepulang sekolah dia mengikuti kursus taekwondo, bermain ke taman, dan menaiki wahana bianglala. Kala itu dia berasumsi bahwa dia akan mengikuti jejak ayahnya sebagai seorang perwira militer Korea Utara.

Namun, mimpi itu tiba-tiba buyar pada 1994 seiring dengan kematian pendiri Korut, Kim Il-Sung.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Suasana di Pyongyang sesaat setelah pendiri Korut, Kim Il-sung, meninggal dunia, pada 9 Juli 1994.

Sungju tidak tahu apa yang terjadi saat itu. Belakangan, dia baru paham bahwa ayahnya adalah bagian dari kubu di tubuh militer Korut yang tidak disukai rezim Kim Jong-il, putra mendiang Kim Il-sung.

Sungju dan orangtuanya terpaksa kabur dari Pyongyang. Untuk menutupi kondisi tersebut dari Sungju, bapak dan ibunya mengaku mereka tengah berlibur.

Sungju tadinya percaya, tapi ketika dia menumpang kereta yang kotor dan rusak, dia mulai ragu.

"Saya melihat banyak pengemis seumuran saya dan saya terkejut. Saya bertanya kepada ayah, 'Apakah kita di Korea Utara?' Karena seumur hidup saya di Pyongyang, saya diajari bahwa Korea Utara adalah salah satu negara terkaya di dunia," kata Sungju.

Kereta yang ditumpangi Sungju dan orangtuanya membawa mereka ke Gyeong-seong, bagian barat laut Korut. Di sana mereka tinggal di sebuah rumah kecil tanpa pemanas ruangan. Ketika Sungju bersekolah, dia melihat para pelajar kurus kekurangan gizi dan ketinggalan pelajaran.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Poster propaganda yang menampilkan Kim Il-sung (depan) dan putranya, Kim Jong-il (tengah).

Pada suatu pagi, sang guru membawa murid-muridnya ke luar sekolah dan mereka disuruh duduk dan menonton. Sebanyak tiga polisi bersenjata api muncul dan menggiring seorang pria serta perempuan. Kedua orang itu lalu diikat ke tiang kayu. Kerumunan orang mengatakan pria tersebut ketahuan mencuri dan si perempuan berupaya kabur. Keduanya dinyatakan bersalah melakukan makar dan saat itu juga mereka dieksekusi.

"Ketiga polisi itu melepaskan tiga tembakan baik untuk pria maupun perempuan itu. Dor..dor..dor..Darah mengucur. Ada lubang di dahi mereka dan tiada yang tersisa di belakang kepala mereka," kata Sungju.

Seiring berjalannya waktu, Sungju berjuang untuk beradaptasi dengan kondisi keras yang dia hadapi. Apalagi, makanan semakin langka karena Korut mengalami bencana kelaparan dan banyak teman sekelasnya tidak lagi masuk sekolah untuk berburu tupai atau mencuri dari pasar setempat.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Para perempuan Korut memanen padi di Provinsi Hamgyong Selatan. Foto diambil pada 1998.

Di tengah sulitnya situasi, tiba-tiba ayah Sungju mengatakan bahwa dia akan pergi. Dia mengaku bakal bertolak ke Cina untuk mencari makan dan akan kembali seminggu kemudian membawa kue beras.

Seminggu berlalu, ayah Sungju tidak kembali.

Tak lama kemudian, ibu Sungju mengatakan akan pergi ke rumah adiknya untuk mencari makan. Karena takut sang ibu tidak kembali, Sungju menempel di sisinya terus. Namun, ketika Sungju terlelap, ibunya pergi dan meninggalkan catatan berisi pesan agar Sungju menyantap garam bercampur air jika lapar. Sejak saat itu, Sungju tidak pernah melihat bundanya lagi.

"Saya mulai membenci orang tua saya. Mereka sangat tidak bertanggung jawab. Mereka meninggalkan saya begitu saja dan saya benar-benar kehilangan segalanya," ujarnya.

Sungju kemudian menyadari bahwa untuk bertahan hidup, dia harus membentuk geng jalanan. Dia mengumpulkan enam anak laki-laki lainnya dan belajar bagaimana mencopet dan mengalihkan perhatian para pedagang sehingga dia dan teman-temannya bisa mengambil dagangan mereka.

"Kami saling percaya. Kami sangat akrab dan rela mati untuk satu sama lain dan begitulah kami bertahan hidup," kata Sungju.

Setiap beberapa bulan sekali, manakala para pedagang mulai mengenali mereka, Sungju dan rekan-rekannya berpindah ke kota lain. Namun, pindah ke kawasan baru berarti mereka harus berkelahi dengan preman-preman yang sudah lebih dulu beroperasi di sana.

"Saya dipilih sebagai pemimpin oleh sahabat-sahabat saya karena saya bisa taekwondo. Mereka pikir saya benar-benar jago berkelahi, namun berkelahi ala jalanan kan jauh berbeda. Saya sering kalah, tapi sahabat-sahabat saya percaya pada saya. Kepercayaan mereka membuat saya bertambah kuat," tutur Sungju.

Meski lambat laun Sungju memenangi perkelahian, rekan-rekan satu geng-nya masih remaja tanggung. Saat menghadapi remaja yang lebih tua dan bersenjata api, pertarungannya lebih berbahaya.

Dalam suatu kesempatan, salah satu anggota geng-nya tewas setelah terkena tembakan di bagian kepala. Salah seorang teman akrab Sungju juga tewas dibunuh penjaga kebun karena mencuri kentang. Sungju sangat berduka saat itu.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Lahan pertanian Korea Utara
Hak atas foto Getty Images
Image caption Para petani di Korea Utara
Hak atas foto Getty Images
Image caption Lahan pertanian Korea Utara

Setelah bertarung di jalanan selama lebih dari tiga tahun, geng tersebut mulai tercerai-berai dan Sungju beralih ke opium untuk mencari ketenangan. Dengan sedikit pilihan di tangan, para anggota geng memutuskan kembali ke Gyeong-seong.

Di kota itu, Sungju didekati seorang pria tua yang ternyata kakeknya.

Rupanya, setelah orangtua Sungju meninggalkan Pyongyang, kakek dan neneknya tidak berhenti mencari mereka dan akhirnya hijrah ke sebuah lahan pertanian yang bisa dicapai beberapa jam berjalan kaki dari Gyeong-seong. Setiap hari Minggu, sang kakek berjalan ke kota dengan harapan menemukan cucunya.

Selama beberapa bulan, Sungju bermukim dengan bahagia di lahan pertanian kakek-neneknya. Setiap satu minggu sekali dia pergi ke pasar sambil membawa ransel berisi makanan untuk dibagikan ke teman-teman satu gengnya, yang kini bekerja membantu para pedagang pasar.

Pada era inilah, seorang asing datang membawa pesan penting.

"Pembawa pesan itu menyerahkan sebuah surat. Isinya, 'Nak, saya sekarang tinggal di Cina. Datanglah ke Cina untuk mengunjungiku'," kata Sungju, sambil mengenang surat dari ayahnya.

Orang asing itu adalah perantara, yang membantu warga Korut kabur dari negara tersebut. Dia datang membawa pesan dari ayah Sungju sekaligus menyelundupkan Sungju keluar perbatasan Korut.

"Emosi saya ada dua saat itu. Pertama adalah kemarahan. Saya ingin meninju ayah saya. Emosi kedua adalah betapa saya merindukannya. Saya mengatakan kepada kakek-nenek saya bahwa saya ingin ke Cina untuk mengunjungi ayah dan meninjunya, kemudian setelah itu saya akan kembali," kata Sungju.

Dengan bantuan sang perantara, Sungju berjalan kaki menyeberang ke Cina. Lalu, setelah dia diberikan dokumen berisi identitas palsu, dia menumpang pesawat ke Korea Selatan. Di sanalah dia akhirnya bertemu dengan ayahnya.

"Ayah memeluk saya dan kami menangis bersama. Saya punya banyak pertanyaan, tapi saya hanya mampu mengatakan, 'Ayah, aku merindukanmu',"

"Dia bertanya, 'Di mana ibumu?' Dan saya menangis lagi karena saya tidak tahu."

Meski bertahun-tahun mencari, Sungju dan ayahnya sampai sekarang tidak tahu di mana sang ibu. Pada 2009, seorang perantara memberitahu tentang seorang perempuan di Cina yang penampilan dan latar belakangnya mirip dengan ibu Sungju. Walau kemudian diketahui bahwa perempuan itu bukan ibu Sungju, ayah Sungju tetap membantunya meninggalkan Cina.

Sungju juga kehilangan kontak dengan teman-teman satu geng-nya, meski sudah membayar makelar untuk mencari mereka. Dia curiga mereka sudah direkrut militer Korut.

Di Korsel, Sungju berjuang dengan identitasnya. Ketika pertama kali tiba, dia merasa terisolasi. Logat bicaranya menandakan dia dari Korut dan, menurutnya, banyak warga Korsel meyakini semua warga Korut sudah dicuci otaknya.

"Orang Korsel terus mengatakan orang Korut adalah saudara dan saudari mereka, namun sering kali mereka memperlakukan saya sebagai orang asing. Bahkan, kadang kala lebih buruk dari itu," ujarnya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Suasana pertokoan di Seoul, Korea Selatan, pada malam hari
Hak atas foto Getty Images
Image caption Lapak pedagang aksesori telepon seluler
Hak atas foto Getty Images
Image caption Sebuah toko di Seoul, Korea Selatan

Dia juga bergumul dengan konsep kebebasan. Sungju mengaku sering diberitahu bahwa dirinya telah menggapai kebebasan, namun dia tidak yakin apa artinya. Baru ketika dia berdiri di dalam sebuah toko untuk membeli pena, dia akhirnya paham.

"Saya mencoba semua pena, perlu waktu dua jam. Tiba-tiba saya berpikir inilah kebebasan karena saya bebas memilih pena macam apa yang saya sukai."

Sungju mengaku dia sudah berdamai dengan kehidupan barunya dengan menyebut dirinya sebagai orang dari Semenanjung Korea. Sejak itu, dia memutuskan untuk mencurahkan hidupnya demi reunifikasi dua Korea, yang dia yakini bisa terjadi dalam satu generasi.

"Mereka yang lahir setelah 1990-an, tidak lagi punya rasa hormat kepada pemerintah. Mereka hanya peduli dengan kehidupan pribadi mereka."

Dia yakin bahwa di pasar tempat dia mencuri makanan itulah perubahan akan dimulai karena warga Korut bakal menyadari mereka bisa memperoleh uang dari membeli dan menjual barang tanpa kendali pemerintah.

"Pada waktunya, orang-orang ini akan menjadi inti kekuatan Korea Utara. Negara ini tidak akan runtuh tapi suatu hari pemerintah akan berkembang dan berdasar pada pasar," kata Sungju.

Kajian Sungju telah membawanya dari Korsel menuju Amerika Serikat dan Inggris. Kini, dia terdaftar sebagai mahasiswa pascasarjana di Universitas Warwick, Inggris. Setelah lulus, dia berharap dapat melanjutkan ke jenjang doktoral dengan menekuni studi reunifikasi Korea.

Awalnya, dia enggan menceritakan pengalaman pahitnya dari hidup berada, lalu tercemplung ke jurang kemiskinan, dan akhirnya kabur dari Korut.

Namun, seiring waktu, dia menyadari bahwa dengan menceritakan kisah hidupnya dia bisa mengatasi trauma pribadi dan memberikan wawasan kepada orang banyak tentang perjuangan yang harus dihadapi anak-anak Korut.

Pengalaman hidupnya telah dia tuangkan ke dalam sebuah buku berjudul Every Falling Star yang dirilis September 2016 lalu.

"Saya mendapat begitu banyak dorongan semangat dan ucapan terima kasih dari para pembaca," kata Sungju.

Hak atas foto Alamy
Image caption Lapak penjual minuman di depan wahana bianglala di sebuah taman Pyongyang, 2009 lalu.

Mimpinya adalah kembali ke Korut dan bernostalgia. Melihat wahana bianglala dan taman-taman di Pyongyang sekaligus menemukan kembali teman-teman yang membantunya melewati masa kelam dalam hidupnya.

"Saya memimpikan sahabat-sahabat saya. Kadang-kadang kami berenang di sungai dan menangkap ikan, tertawa dan bergulat bersama. Pulang ke rumah berarti berjumpa dengan orang-orang yang saya cintai."

Berita terkait