Pria Inggris betulkan berita-berita yang salah di media soal Islam

Miqdaad Versi
Image caption Miqdaad Versi melayangkan surat keberatan ke media atas berita-berita soal Islam/Muslim yang ia anggap tidak akurat.

Pada suatu hari pada 2016, Miqdaad Versi membaca berita di mingguan The Sunday Times yang kurang lebih berjudul 'Kantong permukiman Islam menganggap 75% warga Inggris adalah Muslim'.

Insting pertama Versi begitu membaca berita ini adalah ia merasa ada sesuatu yang salah, antara lain disebabkan oleh 'seringnya media secara keliru menurunkan berita tentang Islam dan Muslim di Inggris'.

Sumber berita di The Sunday Times adalah kajian Louise Casey, yang diminta pemerintah melakukan kajian tentang peluang dan integrasi komunitas-komunitas yang ada di Inggris.

Setelah dilakukan penelusuran, yang sebenarnya tertulis di laporan Casey adalah: survei di satu sekolah yang kebanyakan berisi murid dari keluarga keturunan Asia Selatan mengira 50-90% populasi Inggris berlatar belakang etnis Asia Selatan.

"Di laporan Casey ditulis Asia (Selatan), bukan Muslim. Juga, responden survei adalah hanya satu sekolah, bukan kantong permukiman Muslim," kata Versi.

Versi kemudian mengajukan keberatan resmi yang mendorong The Sunday Times meralat berita tersebut dengan menaruh judul baru: 'Inggris 50-90% adalah (beretnis) Asia (Selatan), kata murid-murid sekolah'.

Ini adalah satu contoh dari beberapa keberatan yang ia layangkan ke sejumlah media yang sejauh ini mencapai lebih dari 50 surat protes.

Hasilnya, pada bulan Desember media melakukan delapan kali ralat sementara Januari ada empat pembetulan.

Tak ada yang protes

Hak atas foto Versi
Image caption Salah satu koreksi yang dilakukan Versi terkait artikel yang dimuat mingguan The Sunday Times.

Versi resminya menjabat sebagai asisten sekretaris jenderal Dewan Muslim Inggris, MCB, organisasi payung bagi berbagai organisasi-organisasi Islam di Inggris.

Mengamati berita-berita tentang Islam merupakan proyek pribadi Versi. Ia rajin mendata berita-berita yang ia anggap tidak akurat dan kemudian melayangkan keberatan ke media yang bersangkutan, regulator media IPSO, atau ke kedua pihak ini.

"Tak ada yang melakukan kajian seperti yang saya lakukan. Ada banyak artikel tentang Muslim yang tidak akurat yang mendorong komunitas Islam beranggapan bahwa media sengaja menjadikan komunitas Muslim sebagai sasaran," kata Versi.

Yang membuat situasi lebih runyam adalah, tak ada yang mempertanyakan secara terbuka laporan-laporan media yang tak akurat tersebut.

Versi sudah bertemu redaktur beberapa media dan mengatakan puas karena media langsung menerbitkan koreksi setelah menerima keberatan yang ia ajukan, meski kadang ia merasa artikel yang telah mengalami pembetulan tidak secara jelas mengakui kesalahan pada versi sebelumnya.

Selain itu, versi yang sudah diralat tidak diberi posisi sepenting versi awal, katanya.

Hal lain yang ingin ia capai dari upaya ini adalah meningkatkan hubungan antaranggota komunitas.

Tak semua setuju

Image caption Tom Slater khawatir apa yang dilakukan Versi 'akan menimbulkan kekhatiran bagi wartawan yang ingin menulis berita tentang Islam'.

Menurutnya, berita-berita yang tak akurat sering kali disebarluaskan oleh kelompok-kelompok ekstrem kanan. Meminimalkan berita yang tak akurat dengan sendirinya mengurangi kemungkinan kelompok ekstrem melakukan tindakan tersebut.

Tak semua pihak setuju dengan langkah yang dilakukan Versi.

Tom Slater, misalnya. Wakil editor Spiked Online mengatakan bahwa protes dan keberatan seperti yang diajukan Versi ke media bisa menimbulkan 'kekhawatiran dan ketakutan bagi wartawan yang ingin menulis berita tentang Islam'.

"Saya tentu saja ingin media melaporkan apa saja secara akurat... tapi apa yang saya lihat di sini adalah, sepertinya ada upaya yang terkoordinasi untuk melindungi Islam agar tidak dikritik," kata Slater.

Versi tak sependapat dengan Slater. "Apa yang saya inginkan adalah wartawan melakukan reportase yang bertanggung jawab," katanya.

Topik terkait

Berita terkait