Polisi pria Irak menyamar sebagai perempuan bercadar untuk hindari ISIS

Niqab Hak atas foto iStock

Ketika kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS menguasai daerah dekat Mosul, Irak, dan mulai membunuh polisi, beberapa di antara mereka menggunakan cadar untuk bertahan hidup.

Niqab telah menyelamatkan nyawa Abu Alawi.

Selama 2,5 tahun, busana bercadar yang biasa dipakai perempuan di Timur Tengah itu membantu polisi paruh baya itu terhindar dari pengawasan ISIS dan membuatnya luput dari tembakan dan tikaman yang menewaskan hampir semua koleganya.

Ketika anggota ISIS tiba di Kota Hammam al-Alil pada pertengahan 2014, tindakan pertama yang mereka lakukan adalah mengumpulkan polisi dan personel militer.

Mereka langsung membunuh perwira tinggi, namun belakangan menawarkan semacam pengampunan pada yang lain. Jika personel militer atau polisi yang bersangkutan mengingkari pemerintah Irak di Baghdad dan berikrar hidup di bawah aturan ISIS, mereka dibebaskan.

Hak atas foto John Beck
Image caption Ahmed, 22, adalah milisi propemerintah Irak. Dia berdiri di dalam gedung yang pernah digunakan ISIS sebagai penjara.

Abu Alawi tidak turut serta saat para anggota militer dan kepolisian dikumpulkan. Dia memilih terus bersembunyi. Awalnya dia bersembunyi di rumahnya atau di sebuah lubang yang digali di pekarangannya. Namun, karena ISIS menggiatkan pencarian, dia sadar bahwa upaya bersembunyi harus ditingkatkan.

Sebagai solusi, dia memutuskan mengenakan niqab, cadar yang menutupi wajah perempuan kecuali mata. Busana hitam itu wajib dikenakan perempuan di bawah aturan ISIS. Sejak saat itu, dia menyembunyikan parasnya yang berkumis dan pindah ke tempat lain dengan menyamar sebagai perempuan.

Ada perasaan deg-degan 'bermain petak umpet' dengan ISIS, menurut Abu Alawi. Namun, tatkala dia berpapasan dengan seorang anggota ISIS berpakaian serba-hitam, deg-degan berubah menjadi kengerian.

Dia risau bahwa nasib seorang teman yang juga menyamar sebagai perempuan lalu ketahuan dan ditangkap akan menimpanya.

"Beberapa kali mereka begitu dekat dengan saya dan saya sangat takut," ujarnya sembari menirukan bunyi jantung berdegup kencang. "Saya pikir suatu saat saya akan diperiksa dan ketahuan," tambahnya.

Image caption ISIS meninggalkan Hammam al-Alil dengan terlebih dulu membakar sumur minyak.

Kuburan massal

Hingga kini kuburan massal tempat para perwira dieksekusi masih ada di Hammam al-Alil, sebuah kota dekat Mosul, Irak. Bau tak sedap meruap di lokasi ini. Sisa jenazah seorang pria yang kedua tangan dan kakinya terikat juga tampak jelas.

"Di bawah sini, semuanya jenazah," ujar seorang pemandu dari Kepolisian Irak, seraya menunjuk parit sempit yang ditutupi tanah.

Pemandu tersebut memperkirakan sedikitnya 350 orang dikubur di daerah itu.

Lantaran aksi ISIS sedemikian frontal, Abu Alawi bukan satu-satunya polisi yang menyamar menggunakan pakaian perempuan dan menyembunyikan identitasnya.

Hak atas foto John Beck
Image caption Polisi Irak di antara kerumunan perempuan berpakaian niqab

Abu Ali, seorang polisi Irak yang berusia lebih muda dari Abu Alawi, mengubur kartu tanda anggota kepolisian di pekarangannya saat ISIS masih bercokol. Dia pun menggunakan niqab.

"Saya bersembunyi dan bersembunyi, menggunakan pakaian penutup tubuh seperti ini," katanya.

Abang kandung Abu Ali, juga seorang polisi, telah meninggal dunia dieksekusi ISIS dan meninggalkan istri serta ketujuh anaknya. ISIS bahkan menggunakan ayah Abu Ali sebagai tameng hidup ketika bertolak ke Mosul.

Image caption Kuburan massal di luar Hammam al-Alil.

Cerita kehilangan anggota keluarga memang bukan kisah yang unik di kota ini. Hampir semua orang pernah kehilangan seseorang atau bahkan seluruh keluarganya akibat ISIS. Seorang pria mengaku ISIS telah membunuh orang tuanya serta membunuh atau menculik tujuh saudara kandungnya.

Luka-luka yang diakibatkan pendudukan ISIS di kota ini tampaknya akan menganga beberapa waktu mendatang.

Topik terkait

Berita terkait