Pameran di Galeri Saatchi London: Apakah foto selfie tergolong seni?

Foto selfie Hak atas foto HARRISON FAMILY/PA
Image caption Potret diri di Taj Mahal adalah karya fotografer George Harrison tahun 1966 yang akan dipamerkan di Galeri Saatchi.

Lain kali Anda melakukan swafoto bersama sahabat di suatu liburan atau bincang malam, bersiaplah: Anda mungkin sedang membuat suatu adi karya seni rupa.

Galeri Saatchi di London akan menggelar pameran foto selfie dalam waktu dekat untuk mengeksplorasi nilai selfie sebagai bentuk seni rupa.

Bagi berbagai museum dan galeri seni, pameran dengan tema selfie adalah seperti lantai dansa bagi kaum bapak-bapak ibu-ibu: kesempatan untuk menunjukkan betapa mereka mempunyai semangat muda dan trendi, sementara dalam kenyataannya mereka tidak seperti itu.

Mereka semua tampaknya sama, mulai dari musium Mauritshuis di Den Haag ke sampai ke museum Modern Tate. Galeri Saatchi merupakan galeri seni yang berbeda, dengan menampilkan karya-karya swafoto, dengan semboyan "menjadi pameran pertama di dunia yang mengupas sejarah selfie dari masa lalu hingga kini, dan akan merayakan potensi yang benar-benar kreatif tentang bentuk ekspresi yang sering diejek untuk sifat kekonyolannya."

Saya tak yakin tentang klaim 'yang pertama di dunia,' tapi saya merasa pasti sepenuhnya bahwa sejarah panjang potret diri bukanlah seni yang terkait kekonyolan.

Hak atas foto AFP/GETTY
Image caption Perdana Menteri Denmark Helle Thorning Schmidt (tengah) tengah berfoto selfie dengan David Cameron dan Barack Obama.

Kotak selfie

Karya-karya seni rupa terbesar yang pernah dihasilkan adalah potret diri. Ini telah lama menjadi genre yang dihormati yang digunakan oleh para seniman untuk menunjukkan keahlian mereka, selain tak perlu pusing mencari model.

Potret-potret diri itu bolehlah sekarang kita masukkan dalam kotak genre terbaru, selfie.

Betapa pun, jika membandingkan lukisan potret diri karya Rembrandt dengan foto selfie Helle Thorning-Schmidt yang diapit David Cameron dan Barack Obama di pemakaman Nelson Mandela, itu pasti perbuatan konyol.

Ini seperti menyamakan catatan harian seorang remaja yang dimabuk cinta dengan novel karya Alice Munro - keduanya tidak bisa dibandingkan. Keduanya memiliki tempat mereka masing-masing, keduanya juga bisa menjadi karya seni, tetapi sangat berbeda.

Sesi bertukar pikiran

Saat pertama kali saya mendengar tentang pameran itu, saya curiga ini semacam gagasan dari departemen komunikasi galeri itu untuk menarik 'pengunjung baru.' Dan kemudian saya membaca siaran pers dan menemukan bahwa konsep itu MEMANG datang dari suatu departemen komunikasi.

Mereka mendapat sokongan dari sebuah perusahaan komunikasi yang disebut H+K Strategies, bagian dari perusahaan dunia WPP Group, yang antara lain menangani Huawei, merek ponsel pintar Cina. Ini bukan fakta yang tidak saling terkait: Huawei adalah sponsor dari pameran di Galeri Saatchi.

Bahkan, menurut siaran pers, mereka mengatakan, "Galeri Saatchi dan Huawei, merek telepon pintar nomor tiga di dunia, mengumumkan kerja sama untuk mengadakan pameran bertajuk From Selfie to Self-Expression, 'Dari Swafoto ke Ekspresi Diri.'

Hak atas foto CINZIA OSELE BISMARCK/PA
Image caption Pameran ini juga akan menampilkan Cinzia Osele Bismarck yang berfoto selfie dengan ubur-ubur.

Salah satu tim dari perusahaan H+K Strategies yang saya ajak bicara, mengungkapkan bagaimana pertukaran pikiran di antara para pihak.

Pameran Selfie to Self-Expression terasa seperti sebuah pameran yang memulai kehidupan dengan tulisan besar dalam huruf merah muda (dengan tanda bintang kuning ke samping) di depan kertas.

'Bisnis yang baik adalah seni terbaik'

Huawei menjelaskan komentar dalam siaran pers tentang genre potret diri yang "dicemooh terkait kekonyolannya." Saya tidak berpikir itu berarti potret diri, tapi potret-selfie.

Ini adalah acara yang dirancang untuk meningkatkan status 'foto selfie' dari apa yang mereka katakan sebagai sebuah kegiatan konyol menjadi sebentuk seni. Oleh karena itu tujuan lain dari pameran ini adalah untuk "merayakan potensi kreatif dari sebuah Pameran di Galeri Saatchi London: Apakah foto selfie tergolong seni?bentuk ekspresi."

Selain untuk tujuan di atas, pameran ini juga berkomitmen untuk "menyoroti peran yang muncul dari ponsel pintar sebagai media artistik untuk ekspresi diri", dan saya pikir kita tahu ekor korporasi mengibaskan anjing galeri seni.

Saya tidak mengatakan ini sebagai kritik - mesti begini begitu. Ini mungkin ini adalah sebuah pameran besar, dan bahkan jika tidak ada sesuatu yang cukup Warholian tentang suatu galeri yang didanai orang iklan menggelar pameran bersama suatu biro iklan terbesar sejagat. Sebagaimana dikatakan Andy Warhol, "bisnis yang baik adalah seni terbaik."

Zaman yang penuh makna

Alasan saya menyebutkan sponsor perusahaan adalah karena saya pikir kolaborasi dengan Galeri Saatchi ini berpotensi menjadi sesuatu yang lebih menarik ketimbang acara itu sendiri. Seluruh proyek tampak berakar pada gagasan tentang "zaman yang penuh makna" baru dalam hubungan masyarakat seperti yang dikatakan oleh perusahaan H+K Strategies.

Mereka mengatakan, "Di Zaman yang Penuh Makna, perusahaan-perusahaan dan lembaga-lembaga memiliki kesempatan untuk bergabung dengan percakapan penuh makna seputar hal-hal penting, mengambil tempatnya dalam kebudayaan dan menunjukkan tanggung jawab mereka kepada masyarakat.

"Di H+K ini tujuan kami di zaman baru ini adalah untuk menginspirasi percakapan kreatif dan rasa ingin tahu yang membantu perusahaan dan masyarakat berkomunikasi untuk membangun hasil yang lebih baik bagi semua orang."

Okay, itu agak dibesar-besarkan, tapi kita harus memberi kesempatan - pameran Saatchi adalah contoh yang baik dari mereka untuk mempraktikkan apa yang sudah mereka khutbahkan.

Ini juga membantu perusahaan secara keseluruhan, menyatukan materi subjek dan sponsor, yang bisa didapat dengan hanya menambahkan tiga kata untuk judul pameran saat ini: Selfie to Self-Expression - to Self-Promotion. Atau Selfie ke Ekspresi diri -ke Promosi Diri.

Topik terkait

Berita terkait