Museum peranakan Cina di tengah Pasar Lama Tangerang

Museum Benteng Heritage Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Bangunan Museum Benteng Heritage diperkirakan berusia 200 tahun.

Di tengah keramaian pasar di Kota Tangerang Banten, terdapat sebuah museum yang menyimpan kekayaan budaya dan sejarah peranakan Tionghoa di Indonesia. Wartawan BBC Indonesia Sri Lestari mengunjungi Museum Benteng Heritage yang didirikan pria keturunan Cina Benteng.

Suasana Imlek tampak kental di Pasar Lama Kota Tangerang, sejumlah pedagang menjual lampion, amplop untuk ang pau dan ornamen berbentuk ayam untuk menyambut Tahun Ayam Api. Tak ketinggalan kuliner khas Imlek, antara kue keranjang, dan bandeng.

Sejumlah orang tampak berdoa sambil memegang dupa di Klenteng Boen Tek Bio yang berada di di tengah pasar yang merupakan cikal bakal Kota Tangerang ini.

Kawasan ini dulu disebut Benteng, yang merujuk pada bangunan benteng di pinggir Sungai Cisadane yang dibangun untuk melindungi Vereenugde Oostindische Compagnie VOC dari serangan pasukan Kesultanan Banteng.

Pendatang dari Cina sudah berada di Tangerang sejak 1407 melalui Teluk Naga, jauh sebelum kedatangan VOC, keturunan mereka kemudian disebut dengan istilah Cina Benteng.

Di sekitar klenteng yang dibangun pada 1775 masih ada beberapa bangunan tua yang sebagian besar digunakan sebagai toko.

Salah satu bangunan tua itu digunakan Museum Benteng Heritage, yang hampir tidak terlihat karena tertutup lapak para pedagang pasar.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Bangunan Museum Benteng Heritage berada di tengah pasar.

Di dalam museum tampak beberapa pengunjung tengah mendengarkan penjelasan dari seorang pemandu di sebuah ruang makan yang dihiasi ornamen peranakan Tionghoa.

Di lantai dua yang digunakan untuk menyimpan benda-benda bersejarah, tampak pemilik dan pendiri Museum Benteng Heritage Udaya Halim atau Lim Cin Peng meladeni sejumlah tamu. Meski tinggal di Australia, Udaya secara rutin kembali ke tanah air.

Kecintaannya terhadap budaya leluhur dan pendidikan, membuat pria yang menghabiskan masa kecilnya di kawasan Pasar Lama membeli bangunan ini lalu menjadikannya sebagai museum.

"Saya sendiri lahir di Tangerang sebagai orang Tionghoa, orang Cina Benteng," kata Udaya, "Kebetulan lagi saya suka dengan budaya dan kebudayaan Tionghoa sudah mengakar di Indonesia, seharusnya lebih diperkenalkan lagi agar keindonesiaan orang Tionghoa itu juga bisa diakui sebagaimana mestinya".

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Udaya Halim mendirikan museum untuk memperkenalkan budaya peranakan Tionghoa di Indonesia.

Dia membeli bangunan yang diperkirakan didirikan pada abad ke 17 ini dari sebuah keluarga yang telah menempatinya selama delapan generasi, dengan kondisi yang tidak terawat.

"Saya dulu tinggal di rumah itu" kata Udaya sambil menunjuk sebuah rumah yang terletak di seberang museum, "Tapi kemudian pindah karena orangtua tak mampu, dulu waktu kecil saya suka main ke rumah ini".

Upaya restorasi

Udaya kemudian merestorasi bangunan ini selama dua tahun dengan berkonsultasi dengan para koleganya yang merupakan ahli sejarah dan arsitektur di berbagai negara.

Selain itu, Udaya pun mengunjungi sejumlah kota di Indonesia dan Malaysia yang memiliki bangunan tua peninggalan keturunan Cina untuk mengkaji hubungan sejarahnya.

"Ke Malaka saya sudah 36 kali sudah sejak saya bangun ini, dan ke Penang sudah lebih dari 10 kali dan saya juga riset ke tempat-tempat yang tua ke Lasem, Palembang dan dalam negeri juga, nah saya cari historical link nya , jadi dari jejak bangunannya dan saya lihat jejak bangunannya sama dengan yang ada di Malaka pada abad 17 akhir 18," jelas Udaya.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Seorang pemandu tengah menjelaskan ornamen di ruang makan di Museum Benteng Heritage kepada pengunjung.
Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Relief yang bercerita tentang kisah Jenderal Kwang Kong yang merupakan bagian dari legenda Sam Kok.

Dia berupaya untuk mengembalikan karakter asli bangunan tersebut, dan tidak mengganti bagian dari bangunan. Sebagai contoh, keramik yang menutupi lantai asli bangunan tersebut berupa tegel kemudian dibongkar.

Di salah satu bagian bangunan terdapat semacam ukiran dari pecahan keramik, yang bercerita tentang seorang tokoh dalam legenda Sam Kok, yaitu Jenderal Kwang Kong yang dikenal oleh masyarakat di negeri Cina dengan sifat yang jujur, gagah dan berani.

Udaya mengatakan masuk dulu merupakan tempat tinggal, tetapi dia menduga bangunan ini awalnya didirikan sebagai rumah komunitas Tionghoa karena terletak di bagian belakang klenteng.

Dari kebaya sampai perabot

Setelah upaya restorasi, Udaya mengisi bangunan ini dengan berbagai koleksi, antara lain, kebab encim, berbagai macam timbangan, uang kuno, serta perabot tua. Dia mendapatkan benda-benda dengan berbagai cara.

"Setiap keping ini saya dapatkan mulai saya beli sendiri, saya dapat dari masyarakat atau bahkan saya lihat menggeletak di gudang," jelas Udaya kemudian menunjukkan sebuah meja dengan hiasan lukisan dari kerang.

Meja ini didapat dari sebuah gudang milik rekannya dalam kondisi sudah rusak berkeping-keping. Udaya kemudian merestorasinya selama enam bulan, kemudian diketahui meja yang berasal dari Cina ini diduga sudah berada di Indonesia sejak 200 tahun lalu.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Sepatu tradisional perempuan Cina dipamerkan di museum.
Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Sejumlah timbangan kuno merupakan koleksi Museum Benteng Heritage.

Di sebuah ruang khusus di lantai dua, Udaya menyimpan koleksi kamera dan gramafon tua, serta piringan hitam langka, antara lain lagu genjer-genjer yang dinyanyikan Bing Slamet dan lagu Indonesia Raya karya WR Supratman yang direkam pada tahun 1950an yang sempat diperdengarkan sore itu.

Mantan Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangerang Nurul Huda mengatakan Museum Benteng Heritage ini, sudah menjadi salah satu cagar budaya di kawasan Pasar Lama Tangerang.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Pasar Lama merupakan cikal bakal Kota Tangerang.

Topik terkait

Berita terkait