Bungkus rokok menakutkan di Australia efektif turunkan jumlah perokok?

The cost of a packet of cigarettes in Australia will reach AUD$40 (£24) by 2020 Hak atas foto Getty Images

Tidak mudah menjadi perokok di Australia.

Larangan merokok ada di mana-mana, seperti di tempat kerja dan di restoran.

"Kaum perokok akan berkumpul di jalur pejalan kaki dan dekat tranportasi umum sehingga menciptakan kepulan asap, yang kami sebut 'titik panas merokok'," kata Mark Driver, pembuat rencana taman dan rekreasi di Sydney.

Untuk mempersulit kaum perokok, merokok dilarang dalam radius 10 meter dari taman bermain anak-anak dan dalam jarak empat meter dari pintu masuk gedung umum, peron kereta, antrean taksi, dan halte bus.

Aturan itu semula diterapkan hanya di Negara Bagian New South Wales, namun belakangan sejumlah negara bagian mengikuti. Kini, semua negara bagian melarang tindakan merokok di dalam kendaraan jika ada anak-anak. Bahkan sebagian besar negara bagian melarang keberadaan rokok di dalam penjara.

Jumlah denda beragam, namun di beberapa tempat perokok yang ketahuan merokok di lokasi yang salah bisa didenda AUD$2.000 atau setara dengan Rp20 juta. Jumlah denda itu direncanakan akan meningkat setiap tahun sampai 2020.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Larangan merokok di Melbourne

Kemasan polos

Aturan ketat merokok di Australia sejalan dengan kebijakan pemerintah negara tersebut sejak lima tahun lalu untuk mewajibkan produsen rokok menjual produk mereka dalam kemasan polos tanpa merek. Iklan tembakau telah dilarang lebih lama dari itu.

Di Australia, kemasan rokok dijual dalam warna cokelat kelam, tanpa logo produsen, dan menampilkan gambar bahaya merokok yang menakutkan pada bagian depan.

"Anda bisa melihat gambar besar kanker tenggorokan yang takkan bisa dilupakan, lubang di tenggorokan atau kondisi otak seseorang yang mengalami stroke," kata Chapman.

"Beberapa perokok mengaku mereka tidak melihatnya, tapi ada riset yang menunjukkan bahwa orang-orang yang punya strategi menghindar itulah yang nantinya akan berhenti di kemudian hari," tambahnya.

Kampanye anti-rokok di Australia sebenarnya bukan hal baru mengingat kampanye serupa telah dijalankan sejak era 1970-an.

"Itu adalah beragam racun, termasuk ammonia, unsur dalam pembersih toilet; aseton, cairan kimia yang terdapat di penghilang cat kuku; benzene yang terkandung dalam pembersih cat; dan hydrogen sianida yang ada pada racun tikus. Dan menghisapnya, membuat racun-racun ini langsung masuk ke tubuh Anda," sebut salah satu iklan anti-rokok.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Rak khusus rokok di sebuah gerai di Sydney, New South Wales, Mei 2016

Scott Walsberger, selaku kepala pengendali tembakau pada Dewan Kanker di Negara Bagian New South Wales, mengklaim iklan anti-rokok yang menunjukkan gambar bahaya merokok adalah yang paling efektif.

Namun, ada kampanye anti-rokok lainnya yang mencoba menggunakan pendekatan lebih lunak, yaitu dengan menekankan imbas positif yang dialami seseorang sejak hari pertama berhenti merokok.

Pendekatan inilah yang ditempuh pencipta aplikasi interaktif bernama My Quit Buddy, yang diluncurkan 2012 lalu.

Aplikasi ini menawatkan tips-tips berhenti merokok, pesan memotivasi yang rutin dikirim setiap hari, menyarankan pengalih perhatian guna mengatasi kecanduan, dan tempat untuk berbagi kisah. Aplikasi ini telah diunduh lebih dari 400.000 kali di Australia saja.

"Ini menunjukkan ke orang-orang bahwa dengan berhenti merokok selama lima hari, Anda akan mulai melihat perubahan. Anda akan punya lebih banyak uang di dompet, kulit Anda lebih cerah," ujar Paul Den, salah satu pencipta aplikasi My Quit Buddy.

Efek lanjutannya, forum komunitas orang-orang yang berhenti merokok menunjukkan kepada kaum perokok yang ingin berhenti merokok bahwa mereka tidak sendirian. "Orang pada umumnya lebih mempercayai orang lain ketimbang pemerintah," kata Den.

Image caption Iklan anti-rokok yang memiliki pendekatan positif

Penurunan jumlah perokok

Kombinasi berbagai pendekatan ini membuat jumlah orang merokok turun hampir setengah sejak 1980, kata Henrietta Moore dari Institut Kesejahteraan Global di University College, London.

Kini, jumlah perokok di Australia, menurut Moore, mencapai 13%. Jumlah itu berada di bawah rata-rata dunia sekitar 20%. Kemudian, ada pula penurunan hampir 23% orang yang dirawat di rumah sakit akibat merokok

Simone Dennis, seorang profesor di Australian National University, menilai budaya malu turut ambil bagian dalam menurunkan jumlah perokok.

Dia mencontohkan kebijakan pembatasan wilayah untuk merokok sehingga para perokok tidak menciptakan gangguan umum.

"Jika Anda berpikir soal merokok di tempat umum, tempat-tempat itu cenderung merupakan wilayah yang dijauhi orang-orang. Dengan demikian, para perokok merasa terpinggirkan karena mereka tidak bisa menjadi warga di tempat umum dan dibatasi di 'tempat kotor'," kata Dennis.

Kini, tambahnya, merokok dilakukan orang-orang di kalangan strata rendah dalam konteks sosio-ekonomi. Dan sulit melihat bagaimana nasib mereka jika rencana pemerintah Australia menaikkan pajak tembakau sehingga sebungkus rokok dihargai AUD$40 atau Rp400 ribu.

Topik terkait

Berita terkait