Facebook, Google gandeng media perangi hoax di Prancis

Facebook Hak atas foto Reuters
Image caption Facebook sudah menyediakan alat bagi para pengguna di AS untuk melaporkan berita-berita bohong atau hoax.

Facebook dan Google menggandeng media di Prancis untuk menangkal peredaran berita palsu atau hoax yang diperkirakan akan makin marak menjelang pemilihan presiden di negara tersebut.

Tak kurang dari 17 media terlibat dalam proyek yang diberi nama CrossCheck tersebut, dengan fokus berita-berita yang terkait pemilihan presiden yang akan dilangsungkan pada April dan Mei.

Media yang ikut serta di proyek CrossCheck di antaranya adalah harian Le Monde, kantor berita Agence France-Presse (AFP), dan situs berita online BuzzFeeed News.

Le Monde menjelaskan proyek CrossCheck masih dalam taraf 'eksperimental'. Pekan lalu, harian ini memperkenalkan peranti baru, Decodex, yang bisa dimanfaatkan oleh pembaca menentukan benar tidaknya berita online.

Tujuan utama kerja sama ini adalah mendidik publik tentang hoax dan mencegah hoax beredar luas di masyarakat.

Diharapkan para pemilih nantinya bisa menentukan mana berita dan sumber berita yang bisa dipercaya. Secara praktis, publik bisa memberikan label bahwa satu berita masuk kategori nyata, satire, atau palsu.

"Di dunia digital, tak mudah melacak sumber informasi... (karena itu) kami menyediakan mekanisme untuk mengecek sumber-sumber berita," kata Le Monde di situs mereka.

Marak sejak pilpres di Amerika

Sejak pertengahan tahun lalu Facebook dituduh tak berbuat banyak untuk menangani merebaknya peredaran berita-berita palsu yang banyak diunggah di layanan media sosial, terutama di saat kampanye pemilihan presiden Amerika Serikat.

Hak atas foto Reuters
Image caption Pemilihan presiden Prancis, yang akan menjadi penghuni Elysee Palace ini, akan digelar pada 23 April 2017.

Google juga banyak dikecam karena dianggap mempromosikan hoax di halaman hasil pencarian yang dilakukan pengguna.

Sejumlah pihak di Prancis sekarang khawatir hal yang terjadi di Amerika terulang di negara tersebut.

Menanggapi kecaman ini, Facebook sudah menyediakan alat bagi para penggunanya di Amerika untuk melaporkan berita palsu.

Bulan lalu inisiatif serupa diluncurkan di Jerman setelah para pejabat menyampaikan kekhawatiran bahwa ujaran kebencian di media sosial bisa ikut menentukan hasil pemilihan anggota parlemen September mendatang.

Di luar itu, Facebook mengumumkan kerja sama dengan situs Snopes, ABC News, dan kantor berita Associated Press (AP) untuk mengecek apakah suatu berita autentik atau tidak.

Topik terkait

Berita terkait