Dukung Trump, suami ditinggal istri yang dinikahi 22 tahun

Gayle McCormick Hak atas foto Reuters
Image caption Gayle McCormick meninggalkan suaminya yang telah ia nikahi selama 22 karena mendukung Trump.

Gara-gara mendukung Donald Trump, seorang suami ditinggal oleh istri yang telah dinikahinya selama 22 tahun.

Ini menggambarkan bagaimana tahapan pemilihan presiden di Amerika Serikat tak hanya membelah publik, tapi juga berpengaruh terhadap hubungan pribadi.

Begitulah yang dialami Gayle McCormick, pensiunan sipir penjara di California yang lebih memilih hidup sendirian daripada tinggal bersama sang suami. Ia menggambarkan pilihan suaminya sebagai 'pengkhianatan'.

Dalam pembicaraan dengan kantor berita Reuters, McCormick mengatakan tak bisa paham suaminya memilih Trump. Pilihan politik sang suami pada akhirnya membuat mata McCormick terbuka 'atas perbedaan-perbedaan lain di antara mereka'.

Tak dijelaskan apakah ada 'percekcokan serius' antara McCormick dan suaminya, tapi akhirnya suaminya urung memilih Trump dan mendukung politikus Republik lain, Newt Gingrich.

Sementara McCormick memilih Bernie Sanders, pesaing Hillary Clinton di kubu Demokrat.

Meski demikian McCormick sudah 'patah arang' dan tetap ingin hidup berpisah. Ia sekarang tinggal di satu rumah di Bellingham, Washington, walau tak bercerai resmi dengan alasan 'ia dan suaminya sudah terlalu tua untuk itu'.

"Saya tidak ingin terus menerus berdebat dengannya (soal pilihan politik)," kata McCormick.

'Kacaukan kehidupan keluarga'

Hak atas foto Getty Images
Image caption Hubungan sahabat dan keluarga berantakan akibat pilihan politik yang berbeda di pilpres Amerika.

Jajak pendapat yang dilakukan Reuters/Ipsos terhadap 6.426 orang selama periode 27 Desember hingga 18 Januari menunjukkan peningkatan jumlah responden yang bertengkar di antara anggota keluarga, dari 33% menjadi 39%.

Sekitar 16% responden mengaku tak lagi berbicara dengan anggota keluarga atau teman gara-gara pilihan politik yang berbeda di pilpres.

"Saya menghadapi situasi yang sulit sekarang," kata Rob Brunello, supir truk dari Ohio, yang menghadapi kemarahan dari keluarga dan kawan karena mendukung Trump.

"Orang-orang masih tak percaya Trump bisa mengalahkan Hillary dan mereka belum bisa menyesuaikan diri dengan kenyataan baru ini," kata Brunello.

Pengalaman yang sama dialami William Lomey, pensiunan polisi berusia 64 tahun di Philadelphia, yang sekarang tak berbicara dengan kawannya sejak kecil setelah ia mengatakan mendukung Trump.

Keduanya bertengkar hebat di Gacebook dan sejak itu tak ada komunikasi sama sekali.

Bagi Sue Karen, 57 tahun, pemilihan presiden juga membuat keluarganya berantakan. Ia sekarang hampir tak pernah berbicara dengan dua anaknya yang mendukung Trump.

"Saya frustrasi, saya masih tak percaya... mereka berpikir presiden kita ini adalah pahlawan. Bagi saya ia adalah orang gila," kata Karen.

Berita terkait