Radio ini membaca ekspresi wajah dan putar lagu sesuai mood

radio, solo Hak atas foto Uniform
Image caption Penampakan Solo, peranti radio yang dapat mendeteksi ekspresi wajah penggunanya dan memutar lagu yang sesuai.

Perkenalkan Solo, sebuah 'radio emosional' yang bisa membaca ekspresi wajah penggunanya dan kemudian memutar lagu sesuai mood atau suasana hati.

Untuk menggunakan Solo, pasang peranti tersebut di dinding, tak ubahnya seperti jam dinding.

Selanjutnya, dekatkan wajah pada bagian tengah alat itu, yang mirip dengan cermin namun memiliki tampilan kristal cair (liquid crystal display) sebagaimana biasa dijumpai dalam layar ponsel.

Wajah animasi pada Solo kemudian seolah meniru ekspresi muka pengguna. Yang terjadi sebenarnya adalah alat itu memotret wajah pengguna dan mendeteksi guratan-guratannya guna membaca ekspresi. Pada saat bersamaan, antena Solo mencari lagu yang tepat untuk menggambarkan ekspresi itu.

"Ketika bekerja, alat ini menganalisa fitur-fitur yang berbeda pada wajah Anda dan memutuskan apakah Anda sedang senang, sedih, atau marah. Alat ini kemudian mencerminkan suasana hati Anda melalui musik," kata Mike Shorter, pejabat senior perusahaan Uniform yang menangani teknologi kreatif.

Jika Solo mengira Anda tampak bahagia, dia akan memutar lagu riang seperti Hey Ya! yang dibawakan Outkast. Atau sebaliknya Solo akan memutar lagu bernada murung, seperti Everybody Hurts yang dinyanyikan band REM, jika mendeteksi wajah pengguna yang sedih.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Outkast membawakan lagu Hey Ya! pada penghargaan video musik MTV 2004 lalu.

Meski demikian, perusahaan Uniform selaku pencipta Solo tidak cuma ingin peranti tersebut memutar musik sesuai suasana hati penggunanya. Solo dimaksudkan juga mampu mengubah mood penggunanya.

Skenario ini bisa terjadi di dalam mobil. Setelah mendeteksi keletihan pada wajah pengemudi, Solo dapat segera memutar musik bertempo cepat sehingga pengemudi bisa kembali berkonsentrasi.

Bidang studi terkait komputer atau mesin yang berempati kepada penggunanya dikenal sebagai komputasi perasaan.

Komputasi semacam ini dipakai Softbank Robotics asal Jepang guna menciptakan robot Nao dan Pepper.

Dengan itu perusahaan Affectiva asal Boston, Amerika Serikat, mengembangkan perangkat lunak pembaca emosi manusia yang dinamai Affdex. Peranti ini memantau ekspresi wajah pengguna ketika menyaksikan iklan, program televisi, dan film.

Hak atas foto Softbank Robotics
Image caption Pepper, robot buatan Jepang yang memiliki teknologi pembaca emosi manusia.

Bisa berfungsi di negara lain?

Namun, kendati kedengarannya seru, bagaimana teknologi pembaca emosi manusia ini bisa berfungsi di negara lain?

Christian Madsbjerg, salah satu pendiri badan konsultan Red Associates yang menangani sains manusia, khawatir aplikasi pembaca perasaan "dibuat berdasarkan model Barat, Jepang, atau Cina, sedangkan emosi berbeda-beda di kebudayaan lain."

Dia juga menekankan bahwa tubuh manusia, dan konteks fisik yang terkait dengannya, sangat penting terkait suasana hati dan reaksi.

"Respons emosional sebuah kelompok terhadap iklan tertentu di ruangan yang gelap dan hangat mungkin tiada kaitannya dengan respons orang yang melihat iklan tersebut di rumah atau di peron kereta bawah tanah," katanya.

Hak atas foto Affectiva
Image caption Peranti lunak buatan Affectiva dapat membaca emosi manusia melalui ekspresi wajah.

Dia kemudian mencontohkan pemain biola tunggal di tempat konser Carnegie Hall pada puncak kariernya mungkin merasa luar biasa gembira, namun wajahnya tidak menampakkan ekspresi itu karena dia sangat berkonsentrasi. Sebuah robot, menurutnya, akan kesulitan menerjemahkan ekspresi wajahnya yang kaku.

Pencipta radio Solo mengakui peranti tersebut tidak selalu benar mendeteksi ekspresi wajah seseorang.

Bahkan, robot Pepper kadang kala berbuat salah.

"Setelah bergadang beberapa malam dan bersikap dalam suasana yang cenderung marah, Pepper menambah hingga 10 sampai 12 tahun ketika dia menebak usia saya," kata Carl Clement, pendiri Emotion Robotics, mitra Softbank di Eropa.

Solo, radio yang dapat membaca suasana hati penggunanya, mungkin bisa tersenyum simpul saat mendengar kejadian itu. Dan mungkin memutar lagu Frank Sinatra, Young at Heart?

Topik terkait

Berita terkait