197 tahun Multatuli, museum antikolonial pertama di Rangkasbitung

multatuli Hak atas foto Museum Multatuli
Image caption Bangunan museum Multatuli kini terus dilengkapi isinya sebelum diresmikan pada bulan Mei 2017 nanti

Bertepatan 197 tahun kelahiran Douwes Dekker alias Multatuli, museum yang diberi nama Multatuli di Kota Rangkabitung, Provinsi Banten, bakal menjadi museum antikolonial pertama di Indonesia.

Bangunan museum, yang merupakan bekas kantor dan kediaman Wedana Lebak (dibangun pada 1920-an), kini terus dilengkapi isinya sebelum diresmikan pada bulan Mei 2017 nanti, kata salah-seorang konseptornya.

Walaupun disebut Museum Multatuli, museum ini disiapkan sebagai museum tentang gerakan antikolonialisme -sejak persinggungan awal berbagai wilayah di Nusantara di abad 14 dengan Belanda, Portugis, Spanyol hingga berdirinya Republik Indonesia.

"Isinya nanti, kalau sudah jadi, tentang bagaimana penjajahan masuk Nusantara, bagaimana terjadi dan bagaimana penjajahan turut menyumbang pada bentuk negara bangsa Indonesia," kata salah-seorang konseptor museum, Bonnie Triyana, kepada BBC Indonesia, Kamis (02/03).

Multatuli, nama pena dari Eduard Douwes Dekker, memang identik dengan Kabupaten Lebak, dengan ibu kotanya Rangkasbitung.

Saat menjalani jabatan sebagai asisten Wedana Lebak, pria kelahiran Amsterdam, 2 Maret 1820 ini menyaksikan praktik pemerasan oleh bupati setempat terhadap rakyat Lebak.

Hak atas foto Wikipedia
Image caption Saat menjalani jabatan sebagai asisten Wedana Lebak, pria kelahiran Amsterdam, 2 Maret 1820 ini menyaksikan praktik pemerasan oleh bupati setempat terhadap rakyat Lebak.

Pengalaman pahitnya itu kemudian menginspirasi novelnya yang berjudul Max Havelaar (1860).

"Dan karya romannya itu kelak banyak menginspirasi tokoh-tokoh di Indonesia, seperti Sukarno dan RA Kartini, dalam mengenali penjajajahan," ungkap Bonnie. Bahkan tokoh nasional Filipina Jose Rizal terinspirasi pula.

Sebelum bukunya beredar, tambah Bonnie, orang-orang di Hindia Belanda tidak begitu menyadari bahwa mereka sedang dijajah.

Adapun Multatuli sama-sekali tidak pernah membayangkan bukunya kelak akan menginspirasi gerakan melawan kolonialisme. "Dia hanya mencita-citakan sistem kolonial yang lebih adil," ungkap Bonnie.

Ternyata, "Novel itu efeknya lebih dari itu. Lebih dari sekedar menciptakan keadilan dalam kolonialisme, tapi menjadi rujukan agar koloniaisme itu harus diakhiri."

Dampak kehadiran buku itu, lanjutnya, juga melahirkan Politik Etis oleh pemerintah Hindia Belanda. "Atau gerakan' balas budi' terhadap rakyat jajahan, sehingga sebagian rakyat memperoleh kesempatam untuk sekolah."

Di mata Bonnie, novel itu mirip bola salju kecil yang menggelinding sehingga berubah menjadi besar.

"Walaupun tidak secara langsung mengubah sejarah, tapi Max Havelaar telah menjadi simbol inspirasi gerakan pembebasan di negeri terjajah."

Kekurangan artefak

Walaupun bangunan museum sudah rampung dibangun oleh pemerintah Kabupaten Lebak dan Provinsi Banten pada November 2016 lalu , Bonnie mengakui museum tidak memiliki artefak yang terkait langsung dengan sosok Multatuli.

"Kita harus akui tidak punya artefak yang berkaitan langsung dengan Multatuli," akunya.

Karena itulah, pemerintah Kabupaten Lebak menjalin kerjasama dengan Perhimpunan Multatuli ( (Multatuli Genootschap) di Belanda untuk menduplikasi sejumlah dokumen terkait Eduard Douwes Dekker.

Hak atas foto Bonnie Triyana
Image caption Pemerintah Kabupaten Lebak, melalui bupatinya Iti Octavia Jayabaya, menjalin kerjasama dengan Perhimpunan Multatuli ( (Multatuli Genootschap) di Belanda untuk menduplikasi sejumlah dokumen terkait Eduard Douwes Dekker.

Diantaranya adalah surat-menyurat Multatuli dengan pejabat Hindia Belanda tentang kondisi masyarakat Lebak, foto-foto, serta novel Max Havelaar terbitan pertama.

"Yang menarik, kami mendapatkan tegel rumah Multatuli di Lebak," ungkap Bonnie, yang ikut menemani Bupati Lebak, Iti Octavia Jayabaya, dalam kunjungan ke Belanda, dua tahun lalu.

Tegel yang berasal dari rumah Multatuli di Lebak tersebut 'diselamatkan' seorang turis Belanda pada 1980-an sebelum bangunannya dibongkar. Tegel itu kemudian disumbangkan kepada Perhimpunan Multatuli di Belanda.

"Ada dua pasang tegel. Kami menerima sumbangan tegel putih, sementara yang hitam tetap disimpan oleh Perhimpunan Multatuli di Belanda," paparnya.

Menurutnya, pemerintah Kabupaten Lebak mengharapkan museum Multatuli itu bisa diresmikan pada Mei 2017 nanti. "Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional," tambahnya.

Mengenalkan Lebak

Terlibat sejak awal sebagai salah-seorang konseptor, Bonnie mengatakan, selain memotret perjalanan gerakan antikolonialisme, museum juga akan menghubungkan sejarah yang terjadi di Lebak dengan sejarah Nusantara dan dunia.

Hak atas foto Wikipedia
Image caption Patung Multatuli di Amsterdam, Belanda.

"Jadi kami ingin mengangkat posisi daerah yg kecil ini dalam sejarah Indonesia dan dunia," katanya.

Salah-satu cara adalah menampilkan orang-orang yang lahir dan pernah tinggal di Rangkasbitung. "Misalnya Agus Salim, Tan Malaka, atau orang-orang yang terinspirasi seperti WS Rendra," jelas salah-seorang penggagas Perhimpunan Multatuli di Indonesia ini.

Seperti diketahui, WS Rendra pernah menerbitkan kumpulan puisinya berjudul Orang-Orang Rangkasbitung.

Di halaman museum, pihak pengelola juga akan menempatkan patung Multatuli dan patung Saijah dan Adinda -dua tokoh dalam novel Max Havelaar- karya pematung Dolorosa Sinaga.

Tapi, Bonnie berulangkali meyakinkan bahwa pendirian museum Multatuli dan perpustakaan tidak untuk mengkultuskan sosok Multatuli.

"Sama-sekali bukan untuk mengkultuskan Multatuli. Kita menggunakan Multatuli karena nama ini sudah dikenal di dunia, sehingga diharapkan orang-orang mau mengunjungi Rangkasbitung," tandas Bonnie, yang dikenal pula sebagai pemerhati sejarah.

Berita terkait