HUT 40 tahun Teater Koma: Opera Ikan Asin yang masih relevan

Poli Picum (Sekar Dewantari), Mekhit alias Mat Piso (Rangga Riantiarno), dan asisten kepala polisi Kartamarma (Joind Bayuwinanda), dalam lakon Opera Ikan Asin dari Teater Koma. Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Poli Picum (Sekar Dewantari), Mekhit alias Mat Piso (Rangga Riantiarno), dan asisten kepala polisi Kartamarma (Joind Bayuwinanda), dalam lakon Opera Ikan Asin dari Teater Koma.

Untuk memperingati 40 tahunnya, Teater Koma mementaskan Opera Ikan Asin yang akan ditampilkan di Ciputra Artpreneur, Jakarta, selama empat hari, mulai 2-5 Maret 2017.

Drama ini pernah mereka pentaskan sebelumnya pada 1983 dan 1999, tapi masih dianggap relevan bagi Indonesia saat ini.

Sebelum pementasan Opera Ikan Asin dimulai di Ciputra Artpreneur, Rabu (01/03) lalu, sekumpulan orang; pendiri, pemain, perancang set dan kostum, serta kru yang pernah terlibat dalam perjalanan 40 tahun Teater Koma, naik ke panggung.

Dipimpin oleh salah satu pendiri Teater Koma, Jajang C. Noer, mereka menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun dan meniup lilin di atas kue besar yang harus diangkut oleh dua orang berseragam tentara Batavia ke tengah panggung.

Di sebelah Jajang C. Noer, ada Ratna Riantiarno, pimpinan produksi Teater Koma, serta Rima Melati, dan Syaeful Anwar, keduanya ikut mendirikan Teater Koma, dan N. Riantiarno, yang malam itu menjadi sutradara pementasan.

Usai meniup lilin di kue ulang tahun, Ratna mengatakan, "Mudah-mudahan (Teater Koma) bisa 40 tahun lagi."

Harapan ini penting di tengah situasi ketika teater masih belum cukup menjadi pilihan tontonan bagi penikmat budaya di Indonesia sementara semakin banyak distraksi yang tersedia.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Dipimpin oleh salah satu pendiri Teater Koma, Jajang C. Noer, beberapa pendiri serta kru yang pernah terlibat dalam 40 tahun Teater Koma, menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun.

Sesuatu yang diakui oleh Ratna Riantiarno usai pertunjukan.

"Karena kalau kita lihat apresiasi masyarakat Indonesia terhadap seni pertunjukan itu masih sulit banget. Berjuang di Indonesia untuk mendapatkan audiens di Indonesia, untuk datang, dengan persaingan televisi yang 1001 macam, di rumah buka YouTube, lihat apa saja jadi. Saya kira memang seni pertunjukan di Indonesia perjuangannya nggak selesai-selesai," kata Ratna.

Meski begitu, Ratna mengatakan Teater Koma cukup beruntung dalam urusan mendapatkan khalayak penonton.

Usia Teater Koma yang relatif panjang membuat mereka memiliki cukup banyak penonton setia.

Menurut Ratna, mereka menyimpan database sekitar 10.000 penonton, yang kemudian mendapat informasi lewat WhatsApp dan SMS setiap Teater Koma akan mengadakan pertunjukan.

"Kita belum (mengadakan) publikasi, belum jumpa pers, itu (lewat pemberitahuan) penonton sudah membeli 50% tiket. Saya malah kasihan sama beberapa (pertunjukan) yang lain, untuk dua hari saja mereka mencari audiens susah setengah mati," kata Ratna.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Salah satu adegan yang ditampilkan dalam Opera Ikan Asin oleh Teater Koma.

Namun Ratna menegaskan tidak ada persaingan antara sesama kelompok seni pertunjukan yang mengadakan pementasan.

"Kita sama-sama berjuang."

Kisah raja bandit

Opera Ikan Asin atau The Threepenny Opera yang ditampilkan bukanlah materi baru bagi Teater Koma.

Karya Bertolt Brecht dengan musik Kurt Weill yang disadur dan disutradarai oleh N. Riantiarno ini pernah mereka pentaskan pada 1983 lalu, dengan Riantiarno memerankan karakter utamanya, Mekhit alias Mat Piso, Raja Bandit Batavia.

Kini Mekhit diperankan oleh Rangga Riantiarno, pemilihan yang semakin menonjolkan perjalanan waktu yang dilalui oleh teater tersebut.

Salah satu yang membangun reputasi Teater Koma selama ini adalah pilihan mereka pada tema-tema satir sosial yang tajam, yang sempat menyebabkan sedikitnya empat kali pelarangan pementasan mereka di era Orde Baru.

Tapi di Indonesia yang kini, secara sosial politik, sudah jauh lebih riuh dan terbuka dalam berekspresi sejak mereka berdiri 40 tahun lalu, apakah kelompok teater ini masih punya sesuatu untuk ditohok?

Tiga jam pementasan Opera Ikan Asin menunjukkan bahwa banyak yang masih bisa menjadi sasaran satir bagi Teater Koma.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Desain panggung dalam salah satu adegan Opera Ikan Asin Teater Koma.

Kisah persahabatan antara Mekhit, sang raja bandit, dengan petinggi polisi, Kartamarma (Joind Bayuwinanda) bukan hal asing dalam realita Indonesia kini -termasuk juga hukum yang bisa menjadi bersifat transaksional.

Pernikahan antara Mekhit dengan Poli Picum (Sekar Dewantari), anak perempuan dari 'pengusaha' kemiskinan atau organisator pengemis, Natasasmita Picum (Budi Ros) juga menjadi cermin masyarakat kini: bahwa kita tak merasa ada yang salah dengan menikahi atau berkeluarga dengan bandit dan pencuri.

Juga tak merasa salah jika mendapatkan kekuasaan atau keuntungan dari hubungan dengan para bandit dan pencuri maupun mengelola uang kejahatan sebagai bagian dari bisnis keluarga.

Lewat pementasan tersebut, kita juga diingatkan akan kenyataan Indonesia modern, ketika status bandit ternyata tak menutup peluang bagi seseorang untuk memperoleh hadiah rumah, tanah, sampai kesempatan diangkat menjadi anggota perwakilan rakyat yang 'terhormat'.

Semua tanda-tanda potret masyarakat kontemporer Indonesia ada di Opera Ikan Asin.

"Sekarang ini kan, kita bicara soal kalangan atas dan kalangan bawah, jadi Brecht dulu memang seperti itu. Kita ambil (drama) ini karena begitu, sampai sekarang masih terjadi seperti itu," kata Nano Riantiarno, usai pertunjukan.

"Yang atas, lagi-lagi korupsi, yang bawah, apa yang bisa dilakukan untuk kalangan atas, bentrokan itu terjadi di dalam, dan itu terjadi sampai sekarang."

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Amalia Picum (Netta Kusumah Dewi) dan Yeyen Rachmat (Cornelia Agatha) dalam salah satu adegan Opera Ikan Asin.

Namun apakah kritik yang disampaikannya masih tajam?

"Menurut saya, masih," kata Nano.

"Kalau saya lihat, saya kan nggak pernah turun ke jalan, panggung politik saya adalah ini, tapi secara umum, perubahan tidak ada. Menurut saya itu aneh, dan itu harus diberitahu, mudah-mudahan masyarakat melihat (pementasan) ini sebagai pembelajaran."

"Lagi-lagi kita bicara soal korupsi, itu kan aneh. Setelah sekian tahun yang kita bicarakan lagi-lagi itu, dan memang tidak berubah," kata Nano lagi sambil tertawa.

Meski begitu, pada bagian pembuka, saat Natasasmita Picum mengirimkan para pengemis untuk 'bertugas' mengemis, dengan 'kostum profesional' mereka, lengkap dengan aduhan dan rintihan yang dilebih-lebihkan, terasa lebih sebagai olok-olok atas kemiskinan daripada sebuah satir.

Adegan itu, dan tawa penonton yang menyertainya, seakan menguatkan sentimen kecurigaan yang sering diungkapkan kalangan kelas menengah kota besar Indonesia terhadap orang-orang miskin atau peminta-minta di jalanan, bahwa para peminta-minta tak sepenuhnya miskin dan justru mendapat keuntungan besar dari aksinya itu.

Apalagi mengingat bahwa pertunjukan ini nantinya ditujukan dan hanya bisa diakses oleh kelas menengah.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Bos pengemis, Natasasmita Picum (Budi Ros) dalam salah satu adegan Opera Ikan Asin.

Menurut Ratna, sampai sekarang, Teater Koma masih mengandalkan penonton generasional; mereka yang dulunya sering mengajak anak atau suami atau istrinya, dan kini sudah mengajak cucunya untuk menonton.

'Fenomena' ini sudah pernah ditulis pada 1991, oleh budayawan mendiang Umar Kayam, dalam salah satu kolomnya saat mengenang tontonan lakon OKB atau Orang Kaya Baru, dari Teater Koma, bersama istri dan anak-anaknya.

Kayam juga sudah menulis soal bertemu dengan rekannya yang juga menonton Teater Koma bersama anak serta cucu mereka.

Dalam kolomnya itu, Kayam menyebut bahwa dia dan istrinya menertawakan gaya orang kaya baru yang disatirkan dalam drama OKB.

Pasalnya, sejak mahasiswa, mereka sudah mengimpikan dan membayangkan untuk mencapai status tersebut, tapi Kayam merasa tak kunjung bisa menjadi orang kaya itu.

Bahkan setelah Kayam beranak-cucu, dan mendapat sederetan status sosial sebagai intelektual Indonesia sekaligus sosiolog, novelis, cerpenis, budayawan, guru besar Fakultas Sastra UGM, Dirjen Radio dan Televisi, sampai pernah memerankan Presiden Soekarno pada film Pengkhianatan G 30 S/PKI.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Bos pengemis, Natasasmita Picum (Budi Ros) bersama istrinya, Amalia Picum (Netta Kusumah Dewi), dan Plit (Julung Zulfi) dalam salah satu adegan di Opera Ikan Asin.

Namun dalam kolom itu juga, Kayam menulis bahwa anak perempuannya menyadarkan ayah dan ibunya lewat sindiran soal 'dendam kelas yang tak kesampaian' bahwa sebenarnya keluarga mereka telah menjadi bagian dari orang kaya baru yang ditampilkan dalam satir tersebut.

Mungkin benar, belum ada yang berubah dari sisi penonton Teater Koma.

Mudah untuk membayangkan bahwa mereka yang menonton pertunjukan ini nantinya akan dengan mudah mengutuk aktivitas konsumsi atau kebudayaan kelas menengah dengan cuitan bertagar semacam 'kelasmenengahngehe' di Twitter, tanpa sadar, bahwa sebenarnya mereka adalah bagian dari kelas menengah yang disebut 'ngehe' itu.

Nilai produksi

Bagaimapaun ada satu hal yang berubah, dalam pementasan Opera Ikan Asin kali ini.

Jika pada pementasan 1983 dan 1999, Teater Koma tak menampilkan musik Kurt Weill, kini mereka membawakannya lewat aransemen Fero A. Stefanus.

Nano menilai aransemen itu 'luar biasa' dan memang bisa dengan mudah dianggap menjadi salah satu pilar utama pementasan Opera Ikan Asin edisi 2017, selain juga koreografi, penataan desain panggung yang megah, dan kostum pemain.

Benar-benar sebuah jamuan nikmat secara audio dan visual.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Mekhit alias Mat Piso (Rangga Riantiarno) dalam adegan puncak Opera Ikan Asin Teater Koma.

Dan ruang pertunjukan Ciputra Artpreneur dengan sistem akustiknya yang sangat baik seakan menjadi tempat yang tepat untuk memamerkan apa yang mampu ditawarkan oleh Teater Koma dalam 40 tahunnya.

Lirik dari 13 lagu yang dinyanyikan atau dialog yang diucapkan terdengar jernih dan jelas, dan malam itu, tawa penonton saat menikmati drama yang dipentaskan, cukup sering terdengar.

Pada akhirnya, selama tiga jam pementasan Opera Ikan Asin, Teater Koma berhasil menghantarkan apa yang selalu diberikannya dengan baik; hiburan berisi kritik sosial yang mencerminkan pertentangan kelas atas dan bawah buat mereka yang ada di tengah-tengah.

Topik terkait