Mereka yang selalu 'ketar-ketir' setiap kebakaran hutan terjadi

kebakaran hutan Palangkaraya
Image caption Kelompok anak muda Ranu Welum memberikan info tentang pemakaian masker dan oksigen di Palangkaraya.

"Apa penyebab kebakaran hutan?" tanya seorang pegiat muda kepada sekitar 20 anak yang berkumpul di salah satu sudut ibu kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, akhir Februari lalu.

"Rokok," jawab salah seorang anak.

Kegiatan kelompok anak muda ini termasuk salah satu dari banyak kegiatan yang mereka lakukan dalam dua tahun terakhir, selama dan setelah kebakaran besar pada 2015.

Bencana besar akibat kebakaran hutan dan lahan ini menyebabkan kabut asap tebal menyelimuti Palangkaraya dan sekitarnya selama sekitar tiga bulan. Ratusan ribu orang terpapar dampak asap dan sejumlah di antaranya meninggal dunia.

Image caption Seorang pemuda memakai masker di tengah asap yang menebal.

Kondisi ekstrem ini menyebabkan sejumlah organisasi anak-anak muda bergerak, termasuk kelompok yang menyebut diri Ranu Welum.

"Saat kabut asap terjadi, kita semua menghirup udara yang penuh asap, sama dengan sekitar 672 batang asap rokok," kata pegiat muda tadi.

Selain penjelasan tentang penyebab dan bahaya asap kebakaran hutan melalui video, anak-anak yang datang juga diberi tahu cara penggunaan masker dan oksigen.

"Saya usia 24 tahun, dan selama 20 tahun kami terpapar asap. Saya tak tahu ini keadaan yang bisa diubah, (namun) saat kami tahu ini bisa dicegah, kami mau melakukan sesuatu dan kami ingin yang lain juga tahu," kata pendiri Ranu Welum, Emmanuela Shinta..

"Kami bagikan informasi kepada anak-anak dan kepada anak muda seusia saya dan kepada orang tua bahwa kabut asap ini bahaya dan bisa dicegah dan kita orang Dayak, orang Kalimantan, bisa melakukannya," tambahnya.

Image caption Kelompok anak muda Ranu Welum mengajarkan anak-anak di Palangkaraya tentang bahaya kebakaran hutan.

Kegiatan yang sama juga dilakukan Fina Fransisca, pendiri Earthhour Palangkaraya.

Saat kebakaran besar pada 2015, Fina bersama rekan-rekannya membantu di berbagai fasilitas kesehatan, termasuk dengan membagikan masker, sementara saat ini mereka mengunjungi sekolah-sekolah.

'Tak perlu ketar-ketir'

"Saat kabut asap berhenti karena hujan, kami tak berhenti dan kami terus melalukan kegiatan mengunjungi sekolah untuk bercerita mengapa kegiatan hutan dan lahan gambut terjadi. Lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai generasi muda," kata Fina.

Titik-titik api masih ditemukan sepanjang tahun lalu, namun jauh lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya karena banyak hujan.

"Kami tahu bahwa selama ini kebakaran hutan tak terjadi besar karena kami terbantu dengan alam, hujan terus menerus, tak ada kebakaran hutan dan lahan gambut, tapi bila musim kering kami bertemu dengan asap," kata Fina.

"Harapan saya, kebakaran hutan tak terjadi lagi, kami tak perlu ketar-ketir...kami ingin menghirup udara segar seperti teman-teman di tempat lain. Ada banyak hal yang harus dilakukan dan dikerjakan semua pihak, tidak hanya kami generasi muda," tambahnya.

Image caption Keluarga Rahmat Gusra menyediakan masker dan oksigen di rumah kareka khawatir kabut asap dapat terjadi lagi

Di Riau, warga Pekanbaru membuat sejumlah gerakan menyusul kebakaran besar 2015, antara lain kelompok yang menyebut diri #MelawanAsap.

Heri Budiman, seniman yang mendirikan gerakan ini mengatakan mereka aktif terus memonitor pemerintah, korporasi dan pihak-pihak yang terlibat untuk mencegah kebakaran.

Riau telah menetapkan siaga darurat asap yang dimulai Januari lalu selama tiga bulan dengan satuan tugas kebakaran hutan dan lahan yang melibatkan tentara dan kepolisian, Badan Pencegahan Bencana Daerah, dinas kehutanan dan masyarakat.

Anak-anak trauma kabut

"Kami terus melakukan melakukan gerakan di media sosial dan memonitor pemerintah dengan kebijakan terhadap lingkungan terutama hutan, dan terus mengikuti perkembangan berita tentang asap dengan tagar melawan asap. Tujuan kita agar asap di Riau tidak ada lagi," kata Heri.

Image caption Anak-anak bermain dengan masker di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

"Paling tidak kenyinyiran kami melalui bentuk tekanan terhadap pemerintah dan perusahaan yang membakar hutan sudah menghasilkan...dengan tahun 2016 walau ada asap tapi mampu diatasi dan tidak menyebabkan kerugian besar seperti bandara yang tutup dan masyarakat yang terkena asap," tambahnya.

Adhari Donora, seniman lain di Pekanbaru mengangkat bahaya asap ini melalui berbagai pameran termasuk lewat Jogja Biennale.

"Kami antara lain membuat peta Indonesia lengkap dengan titik-titik api di mana asap itu ada, membuat poster, video dan lewat media sosial ini bisa dishare dibuan kali...Kami terus galakkan karena banyak yang tidak peduli. Paling tidak dengan terus-terusan, kami bisa menyadarkan ada daerah seperti saudara di Riau yang susah bernafas selama 18 tahun karena ada asap," kata Adhari.

Warga Pekanbaru lain, Rahmat Gusra, mengatakan saat ini selalu tersedia masker, oksigen dan penyaring udara di rumahnya karena anak-anak yang trauma saat melihat kabut.

Rahmat bercerita saat kebakaran besar 2015, ia mengungsi ke Sumatra Barat setiap minggu karena asap yang begitu pekatnya.

"Anak-anak trauma sampai sekarang, kalau antar anak sekolah pagi dan mereka melihat kabut embun, anak-anak mengira itu asap lagi. Saat melihat kabut, kalau ada orang bakar sampah, mereka juga khawatir. Walaupun kita tak tahu kapan datang lagi, tapi kita harus stand by," kata Rahmat.

Topik terkait

Berita terkait