Kasur terakhir Saripah, yang meninggal saat kabut asap akibat kebakaran hutan

siti neneng, kebakaran hutan kalimantan tengah
Image caption Siti Neneng, penduduk desa

Lebih dari satu setengah tahun setelah putrinya meninggal, Siti Neneng, warga yang tinggal di desa Bereng Bengkel, Kalimantan Tengah, menyatakan masih 'trauma' dan 'tidak ikhlas' atas kepergian anaknya pada usia 22 tahun.

Saripah meninggal pada pertengahan Agustus 2015 pada saat kebakaran hutan dan lahan melanda Kalimantan dengan kabut asap tebal terjadi selama sekitar tiga bulan.

"Saat bernafas dia bilang sakit, rasanya masih tidak terima dan masih trauma," kata Siti Neneng.

"Rontgennya gelap, rongga-rongga tak kelihatan. Asap yang membuat paru-parunya rusak, tak bisa ditolong lagi, Saya buang semua hasil rontgen itu," tambahnya sambil berlinang.

Polusi indeks udara saat itu mencapai lebih dari 2000 sementara angka di atas 300 sudah dinyatakan berbahaya.

"Tiga bulan kabut asap itu tebal, kami tak keluar rumah, saya bertemu mahasiswa sambil nangis saya minta jangan lagi ada asap! Jangankan yang sakit, kita yang tak sakit saja sakit untuk bernafas, apalagi yang sakit. Sampai sekarang saya tak ikhlas," tambah Siti.

Image caption Siti bercerita ia harus mencari ikan di tengah kabut asap pada 2015 untuk ongkos menjenguk anaknya ke rumah sakit.

Menyusul musibah ini, Siti banyak bertemu para mahasiswa yang banyak melakukan kegiatan untuk menyebarkan kesadaran tentang bahaya kebakaran.

Drg. Andjar Hari Purnomo, pelaksana tugas Kepala Dinas Kesehatan Kota Palangkaraya yang selama dua dekade tinggal di kawasan ini mengatakan, "Sepanjang saya di Palangkaraya, kabut asap sangat mengganggu terutama (menyebabkan) infeksi pernafasan akut."

"Dampaknya saat kejadian adalah gangguan kesehatan, anak-anak tak bisa sekolah, karena kondisi tubuh menurun karena asap, kelompok usia lanjut kita ungsikan ke luar kota. juga peningkatan kasus Ispa, infeksi saluran pernafasan akut." tambahnya.

Image caption Siti dan warga desa lain mengatakan saat ini mereka lebih menyadari bahaya asap akibat kebakarna hutan dan bersama dengan warga lain melaporkan bila melihat titik api

Tak lama sebelum putrinya meninggal, Siti mengatakan Saripah minta dibelikan kasur pada saat sakit karena merasa "badannya sakit bila tidur di kasur neneknya."

"Dia minta beli kasur untuk dia tidur, supaya aku tidurnya enak, katanya. Begitu sampai di rumah dari rumah sakit, masyarakat berkunjung dan dia minta dipijat. Baru kasurnya, plastik belum dilepas. Setelah minum obat dan makan pisang, dia bilang, 'mak, nafas saya kambuh lagi' dan saya pinjam oksigen dan tak lama dia meninggal, di kasur yang baru dibeli,"

Hak atas foto Andjar Hari Purnomo
Image caption Spanduk waspada kebakaran hutan di Dinas Kesehatan Palangkaraya.

Sekitar 500.000 ribu terpajan asap akibat kebakaran hutan besar pada 2015 lalu di Kalimantan dan Riau dengan korban meninggal paling tidak 19 orang.

Kabut asap tebal ini juga menyebabkan polusi udara di negara-negara tetangga; Singapura, Malaysia dan Thailand.

Kebakaran hutan tahunan - dengan tudingan ke arah korporasi besar dan juga individu yang membuka lahan dengan membakar - disebut sebagai bencana kemanusiaan luar biasa oleh Kepala Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo.

Jangan ada Muhanum lain

Image caption Mukhlis bercerita tentang putrinya yang masuk rumah sakit pada saat kebakaran hutan pada 2015.

Di Pekanbaru, Riau, Mukhlis, seorang wartawan setempat juga kehilangan putrinya, Muhanum Anggriawati yang berusia 12 tahun pada saat kabut asap tebal 2015 terjadi.

"Melalui saluran nafasnya, terlihat lendir kuning," kata Mukhlis.

Namun Muklis menekankan ia tidak ingin ada orang tua yang mengalami apa yang ia alami dalam musibah kebakaran hutan itu.

"Kami tak ingin ada Muhanum lain dan karena itu saya ingin bercerita kemana-mana agar orang mengetahui dampak buruk kebakaran hutan," kata Mukhlis.

Mukhlis ikut dalam sejumlah kegiatan mengkampanyekan agar pemerintah dan berbagai instansi terkait berupaya lebih giat lagi dalam mencegah musibah lingkungan ini.

Sementara di Palangkaraya, Siti bercerita ia dan warga desa lainnya ikut mengawasi adanya titik-titik api di seputar desanya.

"Sekarang kalau ada api langsung laporan, supaya api tak merambat... Kami telpon kalau ada api sehingga cepat diatasi," cerita Siti.

"Tahun-tahun yang akan datang, jangan sampai ada asap lagi."

"Sekarang ini, kalau nafas enak, mata tak pedih, enak lah," tutup Siti.

Topik terkait

Berita terkait