Sejumlah muslim AS siap menjaga pusat kegiatan umat Yahudi

Amerika Serikat, AS, Yahudi, Islam, Muslim Hak atas foto AP
Image caption Pada 20 Februari, lebih dari 170 batu nisan dirusak di pemakaman Yahudi di St. Louis, Amerika Serikat.

Setelah munculnya ancaman bom di pusat-pusat komunitas Yahudi dan aksi perusakan makam Yahudi di Philadelphia dan di St. Louis, Amerika Serikat, sejumlah umat Muslim menawarkan diri untuk menjaga pusat-pusat kegiatan umat Yahudi.

Tawaran untuk menjaga tempat-tempat religius Yahudi itu datang dari kaum Muslim yang terdiri dari aparat militer, pengacara, dan penyiar TV. Mereka mengemukakan tawaran tersebut melalui media sosial.

JCC Association of North America, sebuah jaringan pusat budaya, melaporkan lebih dari 100 ancaman bom ditujukan ke pusat-pusat komunitas Yahudi selama Januari dan Februari 2017.

Pada Senin (27/02) saja, organisasi tersebut mengatakan ada 31 ancaman terhadap pusat-pusat komunitas Yahudi, salah satunya sebuah tembakan yang dilepaskan ke arah jendela sekolah bahasa Ibrani di sebuah sinagoga di Indiana, AS.

Solidaritas Muslim di media sosial

Seorang mantan marinir yang beragama Islam, Tayyib Rashid, menyatakan, "Jika sinagoga Anda atau tempat pemakaman Yahudi membutuhkan seseorang untuk menjaga, hubungi saya. Islam mewajibkannya."

Hak atas foto @MUSLIMMARINE

Mantan marinir tersebut mempersilakan orang-orang untuk bertemu dengannya di sebuah warung kopi di kotanya di Grayslake, Chicago, terkait 'prakarsanya untuk membantu mempromosikan perdamaian di antara kaum Muslim dan non-Muslim.'

Dia berencana untuk menggelar diskusi tentang 'tindakan kejam baru-baru ini yang dilakukan oleh sejumlah orang yang penuh kebencian' yang bertanggung jawab atas 'perusakan dan penodaan makam-makam kaum Yahudi.'

"Saya benar-benar mengutuk tindakan kejam tersebut dan saya memberikan solidaritas kepada seluruh warga Yahudi," tegasnya.

Tawaran lainnya dari penyiar TV peraih penghargaan Emmy, Momin Bhatti. Seperti Rashid, Bhatti juga menggunakan media sosial untuk menyatakan kesiapannya menjaga tempat-tempat peribadatan dan komunitas Yahudi.

Hak atas foto @BHATTIMOMIN
Image caption Momin mencuit, "Saya seorang Muslim di Harrisburg. Jika sinagoga atau pusat komunitas Anda membutuhkan seseorang untuk menjaganya, saya akan menjaga untuk Anda. Islam mewajibkannya."
Hak atas foto @MULIMIQ
Image caption "Saya Muslim di DC. Jika sinagoge Anda membutuhkan seseorang untuk menjaga, saya akan menjaganya. Islam mewajibkannya," tulis Qasim Rashid di akun Twitternya.
Hak atas foto @KHALIDWHALID1
Image caption Seorang pengguna Twitter, Khalid Walid, juga mengungkapkan solidaritasnya, "Komunitas Yahudi di daerah Houston, saya menghabiskan waktu 10 tahun melindungi negara kita dan saya dengan senang hati akan melindungi tempat-tempat peribadatan Yahudi jika Anda membutuhkan saya!"

Solidaritas ini datang setelah sebuah penggalangan dana daring (online) dibentuk oleh warga Muslim untuk membantu memperbaiki tempat pemakaman Yahudi yang dirusak. Kini, dana yang berhasil terkumpul lebih dari US$150.000 (atau sekitar Rp2 miliar).

Pada 20 Februari, lebih dari 170 batu nisan dirusak di pemakaman Yahudi di St. Louis, Missouri. Dalam pekan yang sama, 100 batu nisan dirobohkan dan dirusak di sebuah pemakaman Yahudi di Philadelphia, AS.

Sumbangan dari kaum Yahudi untuk memperbaiki masjid di Florida

Solidaritas di antara kaum Muslim dan Yahudi juga terlihat setelah sebuah penggalangan dana daring (online) dibentuk untuk memperbaiki masjid yang dibakar di Florida. Dana yang terkumpul lebih dari US$70.000 (sekitar Rp936 juta).

Adeel Karim, anggota Perhimpunan Muslim New Tampa, menulis di akun Facebooknya bahwa dia merasa 'terharu' setelah menyadari banyak dari donatur adalah orang Yahudi.

"Saya tadinya tidak mengerti mengapa sejumlah orang menyumbang dengan angka yang aneh. Ada angka US$18, US$36, US$72, dan lainnya. Lalu saya tahu jawabannya setelah mengeklik nama-nama donatur seperti Avi, Cohen, Goldstein, Rubin, Fisher."

"Umat Yahudi menyumbang dengan angka kelipatan 18 sebagai bentuk yang disebut 'Chai'. Yang artinya mendoakan penerima sumbangan agar panjang umur," tambah Karim.

Seperti dikutip di koran The Jewish Chronicle, Karim mengatakan, "Ini adalah bentuk cinta kasih. Cinta kasih mengalahkan rasa takut."

Berita terkait