Dari Jakarta sampai London: Bagaimana kota-kota dunia melawan polusi udara?

kota-kota dunia Hak atas foto Thinkstock
Image caption Kota-kota dunia pada saat jam sibuk dengan tingkat polusi udara tinggi.

Kota-kota di dunia adalah polutan terbesar dan bertanggung jawab atas 70% emisi karbon, menurut PBB.

Sementara menurut badan kesehatan dunia, WHO, lebih dari 80% orang yang tinggal di kota-kota besar terpajan polusi udara melewati ambang batas WHO. Semua kawasan di dunia terkena dampak polusi udara dan penduduk yang memiliki penghasilan rendah yang paling terkena dampaknya.

Guna menangani tantangan mengatasi polusi udara ini, berbagai 'program hijau' dilakukan', mulai dari bus elektrik, di Perth, London dan Paris, berbagi sepeda, di Montreal, Barcelona dan Amsterdam.

London tengah mempertimbangkan untuk membuat jembatan hijau, sementara di Paris, sekitar 20.000 orang mendukung rencana melalui aplikasi dengan melibatkan warga, "Ibu walikota, saya punya gagasan' guna mengembangkan taman-taman vertikal di seluruh sudut kota.

Sekitar 40 tempat yang berpotensi telah ditetapkan dan pakar tanaman, arsitek dan petani perkotaan diundang untuk ikut mendesain taman-taman ini.

Pakar holtikultura Patric Blanc menciptakan taman-taman vertikal sejak 2001 di hotel-hotel, mal dan gedung-gedung pencakar langit di seluruh dunia.

Hak atas foto FLICKR
Image caption Singapura membuat pohon-pohon 'super' berisi beragam flora fauna

Manfaatnya berlipat, kata Blanc. Selain sebagai biofilter, penyaring bio dan memberikan habitat bagi burung-burung dan serangga, taman jenis ini juga bermanfaat bagi masyarakat untuk merasa dekat dengan alam, fenomena yang disebut biophilia.

Di Cina, pemerintah kota Beijing bekerja sama dengan IBM untuk menggunakan mesin guna menganalisa cuaca dan data emisi untuk mempelajari berapa buruk polusi udara dalam 10 hari ke depan.

Menurut Jonathan Batty, eksekutif IBM yang membantu membentuk sistem di Cina, langkah ini memungkinkan pemerintah mengambil langkah pencegahan dalam jangka pendek.

Hak atas foto PATRIC BLANC
Image caption Tanaman merambat di tembok-tembok di berbagai kota untuk menangani polusi udara

Peringatan di lampu lalu lintas

"Ini termasuk menutup pabrik-pabrik selama beberapa hari atau mengurangi arus lalu lintas di kota atau menghentikan proyek pemgangunan, kata Batty.

Pemerintah juga menggunakan data untuk menyediakan peringatan di lampu lalu lintas bagi penduduk - merah artinya polusi udara tinggi sehingga berada di luar dalam waktu lama tak dianjurkan sementara hijau artinya tingkat polusi aman.

London juga menyedikan sistem serupa di papan-papan pemberitahuan dan tersedia bagi penduduk London melalui situs.

Prof Andy Hudson-Smith, dari University College London, memiliki gagasan untuk menyebarkan informasi itu secara lebih luas.

"Kota-kota saat ini memiliki banyak informasi tentang polusi udara dan data dari London semua buruk namun tampaknya warga belum juga terbangun atas buruknya kondisi udara ini," katanya.

Masalahnya adalah dengan orang tidak mengerti apa arti indeks polusi itu. Karenanya ia memiliki rencana untuk 'mempersonalisasikan' informasi ini dengan memasang 100 mesin yang terhubung dengan internet di Taman Olimpiade di London timur.

Mesin-mesin ini dapat berkomunikasi dengan pengunjung taman dan antara lain akan memberikan informasi tentang betapa buruknya polusi udara.

Bahasa yang digunakan juga sederhana, kata Prof Hudson-Smith.

"Antara lain, mesin-mesin ini mungkin akan mengusulkan pengunjung untuk pulang saja (bila kondisi polusi buruk)."

Hak atas foto Thinkstock
Image caption Cina menggunakan mesin untuk memprediksi level polusi udara.

Studi kasus Smart City: Jakarta

Jakarta meluncurkan program Smart City pada 2014. Pilihannya bukan bermitra dengan perusahaan besar seperti IBM dan Schneider Electric namun dengan melibatkan warga.

Dengan aplikasi yang dinamakan Qlue, warga juga dapat melihat PetaJakarta, proyek kerjasama dengan Universitas Wollongong, Australia dan Pemda Jakarta. Aplikasi ini menggunakan cuitan di Twitter tentang banjir untuk membuat peta banjir yang terjadi pada waktu yang sebenarnya.

Jakarta adalah salah satu Ibu Kota Twitter dunia dan penggunaan media sosial ini dianggap efektif.

Ibu Kota Indonesia ini juga menghadapi masalah kemacetan dan menawarkan orang untuk menumpang kendaraan dengan istilah Nebenger, tawaran yang melibatkan sektiar 93.000 orang.

Upaya menghadapi kemacetan ini juga diatasi melalui kemitraan dengan aplikasi yang dimiliki Google, Waze untuk berbagi data soal kondisi lalu lintas Jakarta.

Berita terkait