Menggambar potret Jakarta: Dari masyarakat gusuran, pengaruh miras, hingga rumah Betawi

kalijodo Hak atas foto Dita Alangkara / AP
Image caption Ruang Publik Terbuka Ramah Anak di Kalijodo, Jakarta Barat, diwarnai sejumlah lukisan tembok atau mural yang mengambil tema 'khas Jakarta'.

Di tembok belakang kantor pengelola rumah susun Jatinegara, Pak Karto menggambar seorang lelaki yang tengah termenung.

Di atasnya ada awan, perlambang khayalan dengan gambar rumah.

"(Hal) ini menggambarkan, walaupun sudah di rusun, dia (tokoh dalam mural) masih merindukan rumah yang dulu, yang digusur Pemda Jakarta. Karena rumah yang dulu walaupun bagaimana adalah rumah pribadi, rumah perjuangan. Rumah yang dulu berbagi kasih bersama anak istri dan orang tua," kata Pak Karto dengan nada lirih.

Hak atas foto Hilman Hamdoni
Image caption Pak Karto menciptakan mural bertema masyarakat yang terkena penggusuran Pemda Jakarta.

Selain Pak Karto, ada penghuni rusun Jatinegara lainnya yang tengah menggambar.

Satrio, pemuda 26 tahun, melukis botol bertulis 'alkohol' dengan bocah SMP di dalamnya. Lukisan itu didasari pengamatannya di lingkungan sekitar.

"Ada banyak pelajar sudah terjerat dalam minuman keras dan untuk dinasihati itu susah. Jadi mudah-mudahan gambar ini bisa mewakili (nasihatnya)," cetus Satrio kepada wartawan yang melaporkan untuk BBC Indonesia, Hilman Handoni.

Baru kali ini, setelah bertahun-tahun lamanya, Satrio dan Pak Karto kembali memungut pensil dan menggambar. Keduanya, bersama tiga warga lain di sekitar Rusun Jatinegara adalah 'peserta terpilih' dalam sebuah aktivitas bernama Festival Mural RPTRA (Ruang Publik Terbuka Ramah Anak).

Hak atas foto Hilman Hamdoni
Image caption Satrio melukis gambar bocah SMP di botol minuman kera yang didasarkan pada pengamatannya terhadap lingkungan sekitar.

Artsip, kelompok arsitek-seniman yang fokus mengembangkan kegiatan-kegiatan kreatif di ruang publik, mengajak lebih dari 30 seniman mural untuk terlibat "mengebom"—istilah untuk aksi melukis mural di tempat publik—di 50 RPTRA yang tersebar di Jakarta.

Pada 11-12 Maret lalu, ada 25 titik yang dikerjakan. Sisanya dikerjakan pada 18 dan 19 Maret 2017.

Angkat sejarah lokal

Winda Malika Siregar salah satu inisiator Artsip mengatakan seni mural dipilih karena seni ini, "Dinamis, organik, dan dia bisa bercerita banyak (hal). Bisa ditambah bisa juga dikurangi."

Selain untuk meningkatkan partisipasi warga dalam menjaga RPTRA, menurutnya, tujuan kegiatan ini jdiniatkan untuk mengangkat sejarah-sejarah lokal yang ada di wilayah tersebut.

"Misalkan ada tempat di Rorotan, itu katanya dulu tempat lele. Tapi sekarang udah nggak. Lalu diharapkannya jadi apa setelah nggak ada budidaya lele. Nah mereka bisa mencurahkan hal itu di seni-seni (mural) itu," ujarnya.

Para seniman yang ikut—di antaranya Hanafi, Bujangan Urban, Stereoflow, Talita Maranila, Emte, Ladies on Wall, dan Popo—tak cuma melukis tempat-tempat terbuka itu. Mereka juga memberikan lokakarya kepada warga sekitar. Keduanya diharapkan dapat berkolaborasi mencipta mural di sekitar ruang-ruang publik tersebut.

Hak atas foto Hilman Hamdoni
Image caption Popo memberikan lokakarya kepada 27 anak-anak muda penghuni dan di sekitar rusun. "Gambar mereka kritis-kritis," katanya.

Di RPTRA Baung di kawasan Lenteng Agung, Anin yang duduk di bangku kelas 2 SMA, mengaku mendapatkan banyak hal baru dari sesi lokakarya bersama empat pegiat grafiti dari kumpulan Ladies On Wall.

Membahas situasi sekitar, dia juga menyadari tidak terlalu banyak warisan kebudayaan Betawi yang tertinggal, "Kebudayaan dalam bentuk rumah atau makanan sudah jarang di sini," kata Anin.

Karena itu tema rumah Betawi juga muncul dalam mural yang digarap warga bersama Ladies on Wall.

"Ada beberapa peserta yang ngasih harapan mereka. Mereka gambar rumah tradisional Betawi. Dia bilang, (gambar ini dibuat agar rumah Betawi) tidak dimakan waktu. Saya harap ini akan tetap ada," kata Bunga salah seorang pegiat dari Ladies On Wall menirukan harapan salah seorang peserta.

Cerah dan senang-senang

Di daerah Pondok Bambu, seniman grafiti asal Bandung, Yellow Dino, tak memberikan arahan khusus kepada peserta yang berkolaborasi dengannya.

"Konsepnya kita bikin semuanya senang-senang. Dilihat ada sobekan-sobekan ini. Tiap anak bebas berekspresi di setiap sobekannya dan memberikan memori ke tempat ini," ucapnya.

Warna-warni cerah, kuning, oranye, merah, biru muda dengan sebuah karakter bermata cemerlang dan senyum ceria terpampang di dinding.

Di antara peserta kolaborasinya juga ada Saeful Rahman, yang menumpang sepeda motor dari rumahnya di Cakung ke lokasi acara di Pondok Bambu.

Pelajar SMA ini telah gemar grafiti sejak di bangku SD, tapi merasa harus "rebutan tempat" karena kekurangan sarana untuk mengeskpresikan hobinya.

"Biasanya sih (saya menggambar) di tempat-tempat yang sudah banyak grafitinya. Jadi saya nggak takut ketangkep. Karena tempatnya sudah banyak gambarnya," kata Saeful.

Hak atas foto Hilman Hamdoni
Image caption Yellow Dino beraksi menggambar mural ditonton anak-anak yang bermain di RPTRA Pondok Bambu.

Tema sosial

Di Rusun Jatinegara, Popo, seniman yang kerap mengangkat tema-tema sosial dalam karyanya, memilih lima dari 27 peserta yang ikut lokakarya di hari sebelumnya, termasuk Pak Karto dan Satrio.

Mereka yang berkolaborasi dengannya dipilih karena, "Kepekaan mereka menceritakan kehidupan social di sekitar mereka. Gambar mereka cukup kritis. Alasan dekoratif dan artistik, itu urusan kedualah," kata Popo.

Popo sendiri secara spontan menangkap anak-anak rusun Jatinegara dalam jepretan kamera ponselnya. Foto itu dijadikan dasar gambarnya, berupa kumpulan anak yang saling gandeng, bahu-membahu.

Lewat mural, Satrio dan Pak Karto mengaku bisa mengekpresikan apa yang ada di batin mereka.

"Jadi saya tuangkan melalui gambar, jadi merasa batinnya tersalurkan. Jadi plong," kata Pak Karto sambil terkekeh.

Mereka juga tak keberatan untuk kembali menggambar, jika pengelola rusun mengizinkan tembok rusun untuk "dihias".

Hak atas foto Hilman Hamdoni
Image caption Popo dikenal dengan seniman mural yang sering mengangkat tema-tema social dalam karyanya.

Seni mural, menurut Yellow Dino, memang punya kekhasan. Mural menjadi sarana ekspresi yang khas, karena bisa langsung berinteraksi dengan warga umum.

"Dia (seni mural) itu langsung muncul di publik. Nggak ada esklusivitas. (Berbeda dengan pameran di galeri) Kalau pameran itu kan hanya orang-orang tertentu yang bisa nikmatin. Sementara kalau di jalan semua lapisan masyarakat bisa menikmati," katanya lagi.

Karenanya, dia menyambut gembira tempat-tempat baru yang dia sebut bisa jadi "panggung" buat seniman mural.

Hal tersebut diamini oleh Popo. Katanya inisiatif ini, "Mungkin jadi solusi awal untuk menyediakan ruang-ruang baru bagi seniman mural atau di luar seniman yang mau mencoba mural."

Topik terkait

Berita terkait