Bertemu pendukung Wilders, politikus antipendatang, di Den Haag

Hak atas foto BBC - Liston Siregar
Image caption Sebelum mengelola bar, Marcel Ubeele pernah bekerja di perusahaan ekspor ikan.

Saya sempat kesulitan mencari pendukung Partai untuk Kebebasan atau PVV pimpinan Geert Wilders, yang antipendatang dan anti-Islam. Padahal suara mereka menjadi perlu untuk liputan pemilu Belanda dengan isu imigrasi yang menghangat.

Seorang mahasiswa Universitas Hague, Rudy van der Beek, yang sempat berjanji akan membawa pendukung Wilders dalam rencana diskusi kecil kami mengatakan, beberapa yang tadinya mau akhirnya membatalkan diri karena 'takut' diprofilkan.

Sedang permohonan langsung ke PVV, hanya berbalas jadwal kampanye Wilders ketika saya belum tiba di Belanda.

Mahasiswa itu, Rudy van der Beek, menyarankan datang ke Duinstraat, sekitar 20 menit naik tram dari pusat kota Den Haag. "Di sana banyak pendukung Wilders, tapi tak banyak yang bisa bahasa Inggris." kata Rudy.

Beberapa yang saya dekati tidak bisa berbahasa Inggris dan menggeleng.

Barisan rumah di sana sebenarnya tidak terlalu buruk jika dibandingkan dengan kawasan miskin di Inggris sekali pun.

Tapi bagi saya yang menginap di pusat kota Den Haag dan melihat beberapa kawasan perumahan lain, terasa jika kawasan itu lebih miskin dibandingkan tempat lain di Den Haag.

Hak atas foto BBC - Liston Siregar
Image caption Saya dan Ed Baas (kanan), yang sudah tidak bisa bahasa Indonesia lagi, pernah dua kali liburan ke Yogyakarta.

Sambil jalan, saya melintasi sebuah pub kecil yang dari luar tampak seadanya, Cheetah Bar. Minggu siang itu di dalam cuma ada tiga orang, menjadi empat bersama saya.

Ternyata dua orang adalah suami istri pengelola bar dan seorang lagi, Ed Baas, keturunan Indonesia. Ibunya dulu dari Jawa.

Saya pikir mungkin dari sini bisa saja mereka memberi tahu ke mana saya sebaiknya pergi untuk bertemu dengan pendukung Wilders. Jadi sejak awal, langsung mengenalkan diri sebagai wartawan.

Keberadaan Ed Baas, yang tak bisa lagi bahasa Indonesia, seperti mencairkan suasana dan saya pun berfoto narsis dengannya. Setelah menjelaskan lagi tujuan saya ke Belanda, kami pun mulai bergeser sedikit ke soal politik.

"Wilders tidak mungkin menang," kata Ed, yang sebenarnya lebih banyak diam. Kenapa?

"Dia memang bersuara besar tapi tidak bisa memerintah, perlu koalisi," tambah Ed yang sekitar 10 tahun lalu pensiun dari tentara setelah sempat bertugas di Afghanistan dua kali, dan satu kali di Kamboja serta Yugoslavia.

Hak atas foto BBC - Liston Siregar
Image caption Salah satu blok apartemen di Duinstraat, sekitar 20 menit naik tram dari pusat kota Den Haag.

Marcel Ubeele, pria besar yang merangkap manajer pub, berbeda pendapat.

"Saya yakin banyak orang-orang berpendidikan diam-diam akan memilih Wilders. Tapi mereka tidak berani mengatakannya."

Menurut Marcel, para pendatang sudah terlalu banyak di Belanda dan pemerintah malah memberi mereka keringanan hukum.

"Kalau kami melanggar lampu merah, kena denda, tapi kalau ada orang Suriah mencopet, mencuri dibiarkan. Mestinya mereka langsung dikirim pulang."

Pria pensiunan perusahaan eskpor ikan di Rotterdam, menegaskan dia tidak rasis. Mungkin ada benarnya -atau setidaknya bukan pendukung Wilders yang radikal- mengingat Ed Bass, yang berdarah Indonesia, adalah salah seorang pelanggan tetapnya.

Sebagai pelayan bar, dia juga tergolong ramah dan bersahabat kepada saya, orang berkulit sawo matang. Ketika saya minta agar wawancaranya direkam, dia mengajak ke bagian barnya yang sepi tanpa latar belakang musik.

Hak atas foto BBC - Liston Siregar
Image caption Apakah kaum pendatang merupakan beban ekonomi atau malah pendukung ekonomi?

Menurutnya, dia setuju dengan pandangan Wilders bahwa sudah terlalu banyak pendatang di Belanda dan secara pribadi dia keberatan kalau harus terus membayar pajak yang tinggi untuk membantu mereka.

"Belanda negara yang kecil," katanya sambil membuat ukuran kecil lewat jempol dan telunjuknya. "Kenapa kami harus menerima 250.000 pendatang.

Negara-negara lain bagaimana?"

Saya tidak tahu dari mana dia mendapat angka itu, tapi statistik pemerintah Belanda memperlihatkan sepanjang tahun 2015 tercatat 58.900 pencari suaka namun menurun menjadi 31.600 di tahun 2016.

Ketika saya mengatakan jumlahnya menurun karena beberapa perbatasan dan jalur dari Balkan, sudah ditutup, dia menanggapi, "Tapi masih tetap ada."

Usai merekam wawancara, kami kembali ke bar dan sudah ada seorang pria lain, Nico Wutbey, juga pelanggan tetap Cheetah Bar. Dia juga pendukung Wilders.

Hak atas foto BBC - Liston Siregar
Image caption Walau tidak terkesan kumuh, kawasan Duinstraat terasa lebih miskin dibanding wilayah Den Haag lainnya.

"Kami bukan rasis," katanya singkat, ketika ditanya kenapa mendukung Wilders. "Kami perlu pekerjaan," sambil menambahkan dia sudah tidak bekerja dua minggu belakangan di bagian pengantaran barang.

Salah satu penyebab kebangkitan politik kanan di Belanda, menurut Sam Pormes -warga keturunan Indonesia yang pernah menjadi anggota Majelis Tinggi parlemen Belanda- adalah kemerosotan ekonomi Belanda akibar krisis keuangan global 2008.

Jelas bukan pendatang yang menyebabkan krisis keuangan tersebut tapi para pelaku keuangan dunia yang berspekulasi untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya buat mereka sendiri. Jadi mungkin hanya sentimen semata.

Dan menurut Pormes, sentimen antipendatang sebenarnya sudah ada sejak dulu.

"Sekarang kondisi politik makin hari makin terbuka, orang bisa bilang apa saja. Orang berani menyatakan mereka benci orang hitam, mereka benci Islam, sekarang semua terbuka.

Isu imigrasi di Belanda -sama seperti di Amerika Serikat yang mengantarkan Donald Trump menjadi presiden di Amerika Serkat- mungkin memang mudah dieksploitir karena gampang dicerna banyak pemilih.

Namun di Belanda, sepertinya masih ada kekuatan penyeimbang yang mampu mencegah kemungkinan naiknya 'pemerintahan yang rasis' karena Wilders butuh koalisi untuk bisa memerintah.

Topik terkait

Berita terkait