Retno Maruti: Menari seperti berdoa dan kebutuhan jiwa

Retno Maruti Hak atas foto BBC INDONESIA

Belasan penari berlatih untuk pertunjukan langendrian atau dramatari Jawa klasik 'Arka Suta' yang akan digelar pada 16-17 Maret 2017 di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Para penari itu berasal dari sanggar tari Padnecwara yang didirikan maestro tari Jawa klasik, Retno Maruti sejak 1976 lalu.

Retno yang berusia 70 tahun pada 8 Maret lalu, tampak ikut berlatih di antara para penari, dia berperan sebagai Kunti, ibu Adipati Karna, yang menjadi tokoh utama dalam dramatari itu.

Gerakan tari dan suaranya masih terdengar prima.

Pertunjukkan dramatari Arka Suta merupakan salah satu rangkaian acara untuk memperingati ulang tahun Retno Maruti sekaligus sanggar yang sudah merupakan 'keluarganya'.

"Kita tak sekedar sharing untuk berkesenian saja, tetapi juga mungkin dalam karier dan kekhidupan, karena kita sudah seperti keluarga besar, karena sebagai keluarga besar kita suatu saat butuh rasa berbagi, apa itu rasa senang atau rasa susah kita bagi bareng-bareng," jelas Retno.

Di sela-sela sesi latihan dramatari Arka Suta, Retno mengatakan menari tak sekedar untuk pertunjukkan saja tetapi dapat memberikan keseimbangan dalam hidup.

"Karena kalau kita tergantung pada fisik, kan kita umur itu bertambah, saya sendiri sudah sampai 70, kalau dilihat ngapain sih umur 70 tahun masih menari, bukan begitu, saya punya kebutuhan sendiri juga dengan menari itu saya dengan kesimbangan itu saya bisa menjalankan hidup ini dengan enak dengan baik," ungkap Retno.

Keluarga seniman

Retno mengenal kesenian Jawa sejak kecil, ayahnya Soesilo Atmadjo, merupakan seorang dalang wayang dan ibunya Siti Marsinam merupakan perias tari dan pembatik.

Retno kecil sering kali menemani ayahnya mendalang sampai larut malam.

Meski wayang menjadi bagian terbesar dalam masa kecilnya, Retno lebih mencintai tari, meski begitu kisah-kisah pewayangan digunakannya dalam karya koreaografinya.

Ketika mulai menggeluti tari, Retno berguru pada sejumlah maestro tari di Solo dan Yogyakarta, antara lain Kusumo Kesowo, penari keraton Laksminto Rukmi, Bagong Kussudiardja dan Bagong Kuwsorogo.

Tak hanya menari yang digelutinya, Retno juga belajar menembang pada Bei Mardusari dan Sutarman.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Retno Maruti ( berdiri) ketika berlatih dramatari Arka Suta di Graha Bakti Budaya Selasa (13/03).

Keterlibatannya dalam pentas sendratari Ramayana di Candi Prambanan pada 1961-1969 tak hanya mengasah kemampuan menarinya, tetapi juga manajemen dalam memimpin sebuah komunitas seniman yang dia terapkan di Padnecwara sampai saat ini.

"Saya bisa banyak belajar di situ, saya tak sekedar melihat tariannya saja, tetapi juga manajemennya, saya perhatikan satu-satu, lalu tata lampunya, gending-gendingnya, saya selalu mengatakan saya sekolah atau kuliah itu di sendratari Prambanan," kata dia.

Sejak tahun 1960-an Retno mulai menari di luar negeri, antara lain di World Fair New York 1964 selama delapan bulan dan terpilih sebagai salah satu penari misi kepresidenan ke Jepang.

Ketika kembali ke Indonesia, Retno pun mulai membuat karya tari pertamanya, Langendriyan Damarwulan pada 1969, sampai yang terakhir Kidung Dandaka pada 2016.

Kebutuhan jiwa

Dalam pertunjukkan Arka Suta ini, Rury sang putri yang menjadi koreografer dan juga dibantu dengan anggota sanggar Padnecwara lainnya. Dia mengatakan sosok Retno memiliki banyak pengaruh terhadap dirinya dan juga keluarganya dalam dunia tari.

Untuk itu, Rury mengatakan ingin terus mempromosikan kesenian tari Jawa klasik ini kepada anak-anak muda.

"Kami ingin menunjukkan bahwa anak-anak muda ini masih mencintai kesenian tradisional, dan dengan pertunjukkan ini kita melakukan garapan dengan nuansa yang berbeda dengan lainnya dengan mengambil frame-frame dari kisah pewayangan, yang digarap dalam bentuk langendrian atau Opera Jawa," kata Rury.

Bagi Retno, mengajarkan tari berarti meneruskan tradisi pada generasi yang lebih muda.

Setelah lebih dari 65 tahun menggeluti kesenian ini, menari bagi tak hanya untuk pertunjukkan tapi juga kebutuhan jiwa.

"Gerakan-gerakan itu tak sekedar gerakan olah raga saja, tetapi olah rasa, dengan menari itu saya mengagungkan Tuhan, saya konsentrasi untuk menyembah Tuhan, saya merasa saya menari itu seperti berdoa, jadi sudah bukan fisik lagi, tetapi sudah kepada rasa yang bicara, saya tak bisa menari itu bisa seenaknya saja, punya pretensi untuk dilihat, dalam keheningan pun, saya menari pun seperti halnya saya berdoa," kata Retno.

Dia mengatakan merasa bersyukur dapat menggeluti tari Jawa klasik sampai saat ini.

"Kalau ditanya sampai kapan, selama saya masih kuat saya akan jalani terus," kata dia menutup percakapan.

Penuturan Retno Maruti bisa Anda simak di acara Seni dan Budaya Radio BBC Indonesia, Jumat (17/03) pagi pukul 5 dan 6 WIB.

Berita terkait