Haruskah pemerkosa diberi panggung untuk berbicara?

Thordis Elva and Tom Stranger
Image caption Thordis Elva mengontak Tom Stranger pada 2005.

Sebuah proyek internasional yang menampilkan seorang pemerkosa membahas kejahatannya di sebuah panggung mendapat kecaman sekaligus dukungan.

Jadi, haruskah pelaku diberi panggung dan kesempatan untuk menceritakan pengalamannya?

"Ada pemerkosa di gedung ini," seru para demonstran yang menutup pintu masuk. "Keluarkan si pemerkosa itu."

Spanduk dan pengeras suara mereka adalah pemandangan yang tak biasa di area yang lebih dikenal sebagai tempat pertunjukan konser kelas dunia dan bukannya kontroversi.

Kemarahan yang muncul di Royal Festival Hall di Southbank Centre di London pada Selasa malam disebabkan oleh South of Forgiveness, sebuah acara yang akan menampilkan seorang perempuan yang mengundang seorang pria yang dulu pernah memerkosanya untuk membicarakan dampak dari tindakannya itu.

Diskusi antara Thordis Elva, seorang warga Islandia, dan Tom Stranger asal Australia sudah dibatalkan di sebuah festival perempuan di akhir pekan lalu menyusul tekanan dari demonstran.

Namun acara itu dijadwalkan ulang oleh penyelenggara festival Women of the World (WOW) yang mengatakan bahwa debat ini terlalu penting untuk dibungkam.

"Pemerkosaan adalah salah satu isu penting dan kita harus mengubah diskursus yang mengelilinginya, yang terlalu sering berfokus pada penyintas pemerkosaan daripada pelaku pemerkosaan," kata Jude Kelly, direktur artistik dari Southbank Centre, dalam sebuah pernyataan.

Diane Langford, salah satu yang melakukan protes dan membentang poster di pinggir Sungai Thames, mengecam keputusan itu.

"Saya berada di sini karena saya merasa pemerkosa mendapat untung dari pemerkosannya," kata penyintas pemerkosaan berusia 75 tahun itu.

"Saya tidak percaya bisa ada pengampunan untuk pemerkosa."

Thordis Elva berusia 16 tahun ketika pacarnya yang saat itu berusia 18 tahun, Tom Stranger, memerkosanya, setelah sebuah pesta Natal di kampung halamannya di Islandia.

Setelah bertahun-tahun mengalami keresahan, Elva memutuskan untuk menjalin kontak dengan Stranger. Dan Elva terkejut ketika Stranger membalas dengan pengakuan dan penawaran 'apa pun yang bisa saya lakukan.'

Saat itu, sudah terlambat untuk mengajukan tuntutan hukum. Mereka kemudian malah menulis buku tentang apa yang terjadi.

Diskusi TED yang direkam Oktober lalu sudah ditonton lebih dari 2,7 juta orang dan mereka sudah beberapa kali tampil di panggung.

Penampilan mereka di London memunculkan petisi yang khawatir bahwa acara ini akan menjadi 'pemicu' bagi penyintas kekerasan seksual -dan membawa ingatan menyakitkan serta berbahaya- dan "mendorong pada normalisasi kekerasan seksual dan bukan berfokus pada akuntabilitas dan akar penyebab kekerasan ini".

Mereka menyatakan bahwa hal ini berisiko "mengisyaratkan bahwa berdiri di panggung bersama pemerkosa adalah contoh pendekatan terbaik untuk menghadapi kekerasan seksual".

Debat ini berlangsung di tengah kekhawatiran akan tingginya jumlah korban yang melapor ke polisi, baik di Inggris maupun di seluruh dunia.

Sebelumnya, BBC sudah mengangkat kasus di Kolombia dan Myanmar di mana perempuan diserang dan bahkan diperkosa lagi karena berbicara tentang kekerasan seksual.

Image caption Diane Langford, kiri, dalam aksi protes bersama anak perempuannya, cucunya, dan buyutnya.

Elva, yang kini tinggal di Swedia bersama suami dan anak laki-lakinya, berkeras bahwa dia tidak merekomendasikan satu hal dibanding lainnya.

Dia ingin mengalihkan fokus kekerasan seksual pada pelaku dan bukan pada korban, dan membawa apa yang disebutnya "demonstrifikasi" dari penyerang.

"Demonisasi pelaku di media besar menghambat pemulihan saya," katanya.

"Faktanya adalah Tom bukan seorang monster, tapi orang yang membuat keputusan yang buruk, dan ini menyulitkan saya untuk melihat kejahatannya."

Saat Stranger bicara di Royal Festival Hall pada Selasa, kata-katanya dipilih dengan hati-hati dan dia terlihat kesulitan menyampaikannya.

"Saya tidak berada di sini sebagai suatu bentuk hukuman ... atau mencari pengampunan," katanya.

"Saya tidak berusaha mengambil keuntungan untuk profil saya atau untuk rekening bank saya. Itu akan merupakan tindakan tidak terhormat."

Penyelengara acara mengatakan Stranger tak akan dibayar untuk penampilannya dan dia berjanji untuk menyumbangkan keuntungan dari penjualan bukunya untuk amal.

Stranger disebut sebagai pemerkosa pertama dan satu-satunya yang berbicara di depan publik internasional akan kejahatannya - tanpa diadili. Maka tak ada panduan bagaimana menanggapi isu sensitif ini.

Isyarat yang salah?

Namun upaya untuk membuat keterlibatan Stranger menjadi semakin mudah diterima gagal untuk menenangkan kalangan aktivis dan korban.

"Meski dia tidak dibayar pun, dia tetap akan mendapat modal budaya dan perhatian media. Dia akan terus menggunakan posisinya ini agar dilindungi sebagai pemerkosa," kata Liv Wynter, seorang seniman, aktivis dan penyintas pemerkosaan pada BBC.

Dalam opini yang diterbitkan sebelum Selasa, Wynter mengatakan bahwa pemerkosa tak sepantasnya dihormati hanya karena dia mengakui kejahatannya, dan khawatir bahwa diskusi ini akan mendorong pelaku lain untuk mengontak korbannya.

Tak ada dari mereka yang terlibat dalam acara ini yang mendorong tindakan semacam itu. Namun kemungkinan bahwa pelaku akan terdorong untuk menghubungi korbannya - walaupun kecil - 'akan mengkhawatirkan,' kata Katie Russell, juru bicara dari kelompok pendukung korban Rape Crisis.

"Jika ada pemerkosa yang membaca ini dan mempertimbangkan untuk melakukannya, kami meminta.: jangan, ini bukan keputusan atau hak Anda," katanya.

Rape Crisis dan The Survivors Trust menegaskan bahwa meski mereka mendukung proses penyembuhan Thordis Elva namun pendekatannya tidak bisa cocok buat semua orang.

"Kami mengundang perdebatan ini meski dengan kehati-hatian karena setiap pengalaman unik," kata Fay Maxted dari The Survivors Trust.

'Individu yang problematik'

Sementara itu massa yang melakukan aksi mempertanyakan sejauh apa langkah Tom Stranger bisa menantang pria lain yang juga melakukan - atau akan melakukan - kekerasan seksual.

Pada penonton di London, Stranger mengatakan dia akan "sangat ingin mendengarkan pria lain" dan mendorong semakin banyak pria yang terlibat dalam debat tentang kekerasan seksual dan tanggung jawab di seluruh dunia.

"Saya sadar, saya adalah individu yang problematik. Tapi saya rasa ada kebutuhan akan diskusi ini dan sudah waktunya."

Keterlibatannya dalam diskusi diteirma dengan baik oleh mereka yang hadir pada diskusi Selasa - mungkin tak mengejutkan, karena mereka telah menyediakan waktu untuk mendengarkan.

"Ini masih cerita versi dia (Thordis)," kata Karla Williams, 34. "Dia (Stranger) tak berusaha membajaknya atau menjadikannya tentang dirinya sendiri."

"Jika Anda tak pernah mendengar dari pria, bagaimana Anda berharap akan berubah?" kata temannya, Simran Chawla, 41.

Sekelompok kecil pria di antara penonton juga membagi reaksi mereka dalam diskusi lanjutan setelah penampilan Elva dan Stranger. "Saya pikir yang mereka lakukan itu luar biasa. Saya benar-benar senang ini terjadi," kata seorang pria.

"Tom melakukan sesuatu yang berani," kata yang lainnya.

Namun sedikitnya jumlah orang yang datang ke debat tersebut kemudian terlihat. Tampaknya suatu diskusi yang dikhususkan bagi pria setelah acara Elva dan Strange hanya dihadiri dua orang.

"Tampaknya para pria di sini belum siap melakukan percakapan dengan diri mereka sendiri," kata salah satu dari mereka.

Topik terkait