Belajar sejarah Indonesia lewat permainan kartu Linimasa

Hak atas foto Adhicipta R. Wirawan
Image caption Linimasa -permainan kartu sebagai sarana belajar sejarah Indonesia- rencananya akan diluncurkan kepada khalayak umum pada 2 Mei 2017.

Para penggemar board game atau permainan kartu tentunya tak asing lagi dengan monopoli, ular tangga, dan catur. Dengan merogoh kocek lebih dalam, mereka juga bisa membeli permainan kartu yang diproduksi oleh negara-negara lain.

Sayangnya, permainan kartu yang diproduksi oleh warga Indonesia masih terhitung sedikit, terlebih permainan yang juga dapat membantu belajar anak-anak di sekolah.

Berangkat dari alasan tersebut serta pengalaman pribadi anaknya, dosen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Surabaya, Adhicipta R. Wirawan, mencetuskan ide untuk membuat board gameLinimasa, yaitu permainan kartu dengan konsep pelajaran sejarah Indonesia.

Menurut Adhi, permainan bertema pelajaran sekolah masih jarang ada di Indonesia, "Kebanyakan yang saya tahu untuk pelajaran matematika yang eksakta dan saat saya coba mencari, yang pelajaran ilmu sosial masih kurang."

Dosen sekaligus CEO dan penggagas Mechanimotion -perusahaan permainan animasi yang berbasis di Surabaya- tersebut mengatakan konsep pembuatan Linimasa dimulai sekitar tahun 2015. Saat itu, anak Adhi yang berusia 10 tahun mengalami kesulitan dalam pelajaran sejarah sehingga ia terdorong untuk membuat sarana yang dapat membantu anaknya.

Awalnya, Adhi hanya membuat Linimasa untuk anaknya dan belum berencana memasarkan Linimasa untuk masyarakat umum karena pada tahun tersebut ia juga disibukkan dengan penggarapan board gameWaroong Wars.

Namun, setelah permainan Linimasa diuji coba berkali-kali di sekolah dan hasilnya menunjukkan bahwa prestasi belajar para siswa meningkat, maka ia bersama ilustrator Alvin Henanda ingin melangkah lebih lanjut.

Hak atas foto Adhicipta R. Wirawan
Image caption Linimasa membantu siswa-siswa sekolah dasar untuk memahami peristiwa bersejarah di Indonesia.

"Linimasa dapat dimainkan oleh anak-anak sekolah dasar yang telah mendapatkan pelajaran sejarah yaitu mulai dari umur 10 tahun, tetapi anak-anak umur 8 tahun juga bisa bermain," ujar Adhi kepada BBC Indonesia.

Permainan keluarga

Linimasa menekankan pada diskusi peristiwa-peristiwa sejarah yang tercantum pada tiap-tiap kartu.

"Genrenya family game, jadi permainan yang bisa dimainkan anak-anak dan orang dewasa. Yang kedua, mereka punya peluang yang sama untuk bisa menang di permainan itu.

"Jadi, segmennya lebih ke keluarga, itupun kalau di kelas bisa dimainkan oleh murid dengan murid lainnya, atau murid dengan gurunya, atau guru dengan guru," sambung dosen di salah satu universitas swasta di Surabaya tersebut.

Hak atas foto Laksmi Puspitowardhani
Image caption Murid-murid kelas 5 di sebuah sekolah dasar di Surabaya sedang bermain Linimasa.

Laksmi Puspitowardhani -seorang guru sekolah dasar di Surabaya- menjelaskan kepada BBC bahwa ia melakukan penelitian tentang Linimasa untuk tesis program S2-nya.

"Latar belakang masalahnya adalah ketika saya menemukan fakta-fakta bahwa anak-anak di sekolah dasar mengalami kesulitan untuk belajar sejarah. Lalu, kebetulan saya bercakap-cakap dengan beberapa teman dan bertemu Adhicipta, ternyata dia sedang mengembangkan kartu Linimasa."

Menurut Laksmi dari hasil penggalian data di lapangan, ditemukan bahwa kebanyakan guru-guru kurang menggunakan metode pembelajaran yang kreatif untuk pelajaran sejarah.

"Jadi kebanyakan karena materinya sangat banyak, guru-guru akhirnya mengajar sejarah lebih ke arah konvensional seperti (metode) ceramah," jelasnya.

Selain itu, menurut Laksmi kendala untuk guru sejarah adalah kurangnya media, sedangkan matematika, bahasa Inggris dan pelajaran lain ada banyak medianya. Akhirnya guru-guru sejarah menggunakan media power point, atau video yang didapat dari Youtube.

Hak atas foto Laksmi Puspitowardhani
Image caption Laksmi melakukan penelitian penggunaan Linimasa sebagai sarana belajar-mengajar pelajaran sejarah untuk anak-anak sekolah dasar.

Laksmi mengatakan di sekolah tempat penelitiannya, ada pembagian dua kelas yaitu kelas eksperimen dengan metode pembelajaran melalui sarana Linimasa dan kelas kontrol dengan metode konvensional atau ceramah.

Hasil riset di dua kelas tersebut lalu dibandingkan dan hasilnya adalah korelasi penggunaan kartu Linimasa terhadap peningkatan prestasi siswa cukup tinggi.

"Di kelas konvensional hanya mempengaruhi peningkatan prestasi murid sebesar 36% sedangkan penggunaan metode Linimasa tingkat korelasinya terhadap prestasi sebesar 76% dan sisanya sebesar 24% dipengaruhi oleh hal lain," jelas Laksmi.

Hak atas foto Laksmi Puspitowardhani
Image caption Board game Linimasa ini dapat dimainkan secara sendiri maupun berkelompok hingga empat orang.

Cara bermain

Board game yang bisa dimainkan antara satu hingga empat orang ini berisikan dua set kartu yaitu kartu peristiwa dan kartu tokoh. Kartu peristiwa terdiri dari sisi soal dan jawaban sedangkan kartu tokoh hanya terdiri dari satu sisi yaitu gambar tokoh dan penjelasan keterkaitan tokoh tersebut dengan kartu peristiwa.

Masing-masing pemain memegang kartu tokoh kemudian kartu peristiwa dibuka satu demi satu, lalu mereka diminta menebak urutan peristiwa serta mencocokkannya dengan tokoh-tokoh yang terkait.

"Ketika permainan sudah selesai, semua kartu sudah tersusun maka anak bisa melihat rangkaian peristiwa dari kartu awal yaitu pendaratan Jepang pertama kali di Indonesia sampai kartu peristiwa terakhir yaitu agresi militer II sampai KMB, ada 20 kartu peristiwa yang harus disusun," kata Laksmi.

"Dari situ anak-anak dapat belajar sejarah, ternyata rangkaian peristiwa sejarah kemerdekaan seperti ini," sambungnya.

Hak atas foto Facebook Linimasa
Image caption Dengan bermain Linimasa diharapkan anak-anak dapat menyukai sejarah Indonesia.

Media belajar dalam bentuk kartu ini juga diharapkan untuk membantu siswa menyukai sejarah.

"Karena jika mereka tidak suka sejarah maka mereka tidak mau belajar sejarah, hafalannya banyak wah males harus dihafalin, begitu keluhan murid-murid saya. Dengan media seperti Linimasa harapannya anak-anak senang memainkannya dulu tanpa sadar mereka bisa belajar," kata guru SD di sebuah sekolah Islam di Surabaya tersebut.

Dukungan dari hasil penelitian Laksmi tadi menjadi salah pendorong bagi Adhi semakin yakin untuk memperkenalkan Linimasa kepada khalayak umum dan rencananya akan diluncurkan secara berseri.

"Kartu set pertama ini (bertema) kemerdekaan, jadi setting-nya dari tahun 1900 awal organisasi kepemudaan terbentuk sampai peristiwa Irian Barat. Sekarang saya sedang menyiapkan dengan Alvin (ilustrator) untuk seri kerajaan, mulai dari kerajaan Hindu dan Budha sampai Islam, sebelum (terbentuk) organisasi kepemudaan."

"Selain beberapa seri tersebut juga termasuk pop-culture, seperti sejarah musik dan film Indonesia, itulah planning-nya," tambahnya.

Linimasa direncanakan akan diluncurkan pertama kali untuk masyarakat umum pada 2 Mei 2017 yang bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional.

Topik terkait

Berita terkait