Ada ‘kepiawaian’ dalam konser Kolintang Kawanua Jakarta

kolintang Hak atas foto Andreas Partogi
Image caption Penampilan Kolintang Kawanua Jakarta (K2J) dalam konser perdana, pada Jumat (17/03).

Tanpa berkedip, tujuh pria Minahasa melayangkan tangan mereka pada rangkaian bilah kayu yang tersusun secara terpisah di atas panggung gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jakarta, pada Jumat (17/03) malam.

Pukulan mereka begitu kompak seirama. Ada kalanya sangat perlahan dan lamat-lamat, tapi beberapa detik kemudian keras menghentak hingga beberapa bilah kayu hampir melejit. Suara yang dihasilkan pun sangat nyaring dan memenuhi seisi ruangan.

Ketujuh pria itu, Ferdinand Soputan, Mario Marentek, Frangky Kaseger, Andre Kolompoy, Randy Pinontoan, Bery Marentek, dan Refly Pinontoan adalah musisi yang tergabung dalam kelompok Kolintang Kawanua Jakarta (K2J) dan penampilan tersebut adalah konser pertama mereka sejak dibentuk tujuh tahun lalu.

Selama lebih dari dua jam, mereka membuat hadirin terpukau dengan kekompakan, gaya bermain yang lincah, serta repertoar yang tidak lazim.

Hak atas foto Andreas Partogi
Image caption Lagu O Ina Ni Keke dan Si Patokaan menjadi lagu wajib grup kolintang. Namun, lepas dari dua lagu daerah tersebut., K2J mampu memainkan lagu-lagu klasik dan modern.

Berbeda dengan kelompok musik tradisional pada umumnya, K2J mampu mempersembahkan sejumlah lagu klasik dan modern. Sebut saja Turkish March karya Wolfgang Amadeus Mozart hingga Bohemian Rhapsody yang populer dibawakan Queen.

Pada lagu Bohemian Rhapsody, penonton larut dalam permainan mereka. Dengan setengah berbisik, hadirin menyanyikan baris paling terkenal lagu legendaris tersebut.

I see a little silhouetto of a man

Scaramouche, Scaramouche, will you do the Fandango

Thunderbolt and lightning, very, very fright'ning me

(Galileo) Galileo, (Galileo) Galileo, Galileo figaro magnifico….

Ada kepiawaian

Addie MS, konduktor sekaligus pendiri Twilite Orchestra yang berada di antara penonton, mengaku "terkejut" dengan penampilan K2J.

"Sangat menyenangkan karena jarang ada kesempatan menonton musik tradisional yang dikemas secara serius seperti ini. Umumnya kan musik tradisional dimainkan secara rutin, tidak ada virtuosity atau kepiawaian.

"Kalau ini, mereka bisa memainkan repertoar yang bukan lagu-lagu Indonesia yang kita kenal, tapi lagu-lagu Barat bahkan lagu klasik. Lalu dikemas dengan aransemen yang menantang dan membutuhkan kepiawaian tertentu. Ini yang berbeda," ujarnya kepada BBC Indonesia.

Hak atas foto Andreas Partogi
Image caption Dengan 'aransemen yang menantang', K2J membawakan lagu Bohemian Rhapsody yang dipopulerkan Queen serta Turkish March karya Mozart.

Addie menambahkan, K2J memperlihatkan bahwa "tingkat kesulitan dan aransemen musik tradisional ternyata bisa ditarik ke arah yang lebih menantang seperti yang terjadi di musik Barat".

Dia pun membuka kemungkinan penampilan bersama Twilite Orchestra dan K2J.

"Kalau Twilite Orchestra bermain bersama mereka, aku dengan senang hati. Tapi mereka yang harus ditampilkan dan ditonjolkan," katanya.

Hanya saja, dia mencatat ada teknik yang harus K2J pelajari.

"Di dunia Barat, instrumen kolintang dikenal sebagai perkusi yang hampir identik dengan xylophone dan marimba. Nah dalam mempelajari itu, kan ada teknik tertentu yang diterima secara universal. Mereka sekarang sudah hebat, tapi aku merasa ada ruang lagi di atasnya yang kalau mereka mau rambah akan jauh lebih hebat lagi," papar Addie MS.

Hak atas foto Andreas Partogi
Image caption Gaya bermain, aransemen, dan repertoar K2J diakui sebagai sesuatu yang sengaja dirancang untuk menarik minat kaum muda.

Menarik minat anak muda

Gaya bermain, aransemen, dan repertoar K2J diakui Iyarita Mawardi selaku pembina kelompok tersebut sebagai sesuatu yang sengaja dirancang untuk menarik minat kaum muda.

"Saya pikir ada kejenuhan terhadap musik tradisional, cuma begini-begini saja. Sedangkan musik dari luar ramai dan punya daya tarik. Karena itu saya ingin membuat kolintang lebih menarik sehingga saya minta para personel K2J memainkan lagu-lagu klasik dan musik pop," ujar Iyarita.

Ferdinand Soputan, salah satu personel K2J yang memainkan melodi 1 atau Ina Esa, mengatakan konser itu sejatinya adalah upaya untuk menghilangkan stigma bahwa musik kolintang adalah musik zaman dulu dan kolintang hanya bisa memainkan lagu daerah dan lagu perjuangan.

"Tanpa menghilangkan pakem, kami memainkan lagu-lagu yang akrab di telinga anak muda. Mindset orang yang mengira 'lagu ini tidak mungkin dibawakan kolintang' akan kami buktikan itu salah," kata Ferdinand.

Hak atas foto Andreas Partogi
Image caption K2J juga mengiringi lagu Can't Take My Eyes Off You yang populer dibawakan Barry Manilow.

Ucapan itu terbukti dengan kedatangan sejumlah remaja belasan tahun dalam konser perdana K2J.

Dorothy, remaja berusia 18 tahun, mengaku "musik tradisional menarik karena berbeda dengan musik zaman sekarang. Suaranya unik."

Adapun Yusuf Nathanael, pelajar berusia 16 tahun, telah mengikuti penampilan K2J sejak beberapa tahun lalu. Penyuka musik klasik ini mengatakan, "Ini musik tradisional, harus dilestarikan."

Niat Yusuf sesuai dengan prediksi Addie MS, bahwa kehadiran K2J tak hanya menarik minat kaum muda, tapi juga menginspirasi anak-anak muda tersebut untuk bermain lebih baik sehingga ada regenerasi dan inovasi dalam musik tradisional Indonesia.

"Saya optimis," tutup Addie MS.

Topik terkait

Berita terkait