Sejarah kerajaan Sunda dan Nusantara di 'museum digital' Purwakarta

  • 20 Maret 2017
Buku interaktif Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Buku interaktif yang dilengkapi dengan video dan audio.

Kota Purwakarta membangun dua museum digital dalam beberapa tahun terakhir dan tengah menyiapkan dua museum digital lain. 'Perkawinan' teknologi dan sejarah itu bertujuan agar warga, terutama anak-anak, tertarik belajar sejarah di museum. Wartawan BBC Indonesia, Sri Lestari, mengunjungi museum digital tersebut.

Hari itu sejumlah keluarga dengan anak-anak kecil tampak antusias mencoba aplikasi foto yang dipajang di Bale Panyawangan Tatar Sunda. Dengan aplikasi itu para pengunjung perempuan seolah-olah memakai kebaya, sedangkan pengunjung pria seperti mengenakan busana pangsi.

Di sudut lain, pengunjung lainnya terlihat sibuk berfoto bersama Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. Tapi, sosok tersebut tidak benar-benar hadir di museum. Berkat aplikasi foto, para pengunjung bisa seperti berfoto bersama sang bupati.

Aplikasi foto merupakan salah satu dari sejumlah koleksi di museum yang sebagian besar disajikan dalam bentuk digital. Salah seorang pengunjung, Deden Fahreza, datang dari Padalarang untuk melihat museum ini.

"Museum memang hampir semuanya hampir sama ya mengungkit sejarah. Cuma yang ini lebih simple tapi banyak maknanya. Jadi kita bisa melihat foto-foto tokoh yang pernah berjasa untuk kita," jelas Deden.

Wening, pengunjung lain yang berasal dari Brebes, Jawa Tengah, tampak membaca materi sejarah yang berada di dinding museum. Sejumlah anak-anak SMP juga tampak berfoto di depan wayang golek, sementara sebagian lainnya sibuk membuka buku interaktif.

Ruangan di museum ini dibagi dengan sejumlah fase sejarah, mulai jaman Kerajaan Sunda sampai dengan Purwakarta di masa kini. Bahkan pengunjung pun dapat menaiki sepeda dan berkeliling kota melalui sebuah layar.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Gambaran suasana saat pembacaan naskah proklamasi ditampilkan dalam museum.

Sejarah tanah Sunda dan Kerajaan Sunda dimuat dalam sebuah buku interaktif yang cukup besar, yang dilengkapi dengan foto-foto yang bergerak dan juga narasi.

Kepala UPTD (Unit Pelaksana Teknis Dinas) Kearsipan Kabupaten Purwakarta, Edi Rasidi, mengatakan pembangunan museum dengan tampilan materi sejarah dalam format multimedia ini bertujuan agar semua kalangan bisa mengaksesnya, termasuk orang dengan disabilitas.

"Pengetahuan tentang sejarah dan budaya di masa lalu itu, kita kemas dengan digitalisasi ini, dengan multimedia yang berbasis psiko audio visual, sehingga bisa juga untuk anak-anak yang berkebutuhan khusus. Sehingga semua kalangan masyarakat bisa menikmati ini," jelas Edi.

Museum ini terdiri dari beberapa ruangan yang berisi sejarah tanah Sunda dan Purwakarta sejak jaman penjajahan Belanda hingga kini. Menurut Edi, pengumpulan arsip dilakukan dengan bantuan sejumlah ahli sejarah.

"Pengumpulan arsip dikumpulkan dari tempat penyimpanan dan juga berbagai sumber yang berkaitan dengan konten yang akan ditampilkan di sini, misalnya sejarah tentang Bupati Purwakarta dan sejarah lainnya. Ini ada yang diambil dari ANRI (Arsip Nasional RI) dan melibatkan sejarawan," jelas Edi.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Pengunjung museum mencapai ratusan orang setiap harinya.
Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Sepeda untuk berkeliling kota Purwakarta melalui layar.

Edi mengatakan pemeliharaan benda koleksi di museum ini lebih sulit dibandingkan dengan museum konvensional, karena pengunjung yang jumlahnya bisa mencapai ratusan orang per hari nya langsung bersentuhan dengan koleksi museum.

"Kalau sistem digital ini, apalagi dengan banyak pengunjung anak-anak itu kan rentan sekali, karena ini berkaitan langsung dengan pengunjung dan mereka berinteraksi langsung dengan multimedia tersebut. Jadi kita mengawasi para pengunjung dari mulai depan sampai akhir," kata Edi.

Saat ini, Purwakarta telah memiliki dua museum digital, yaitu Diorama Tatar Sunda dan Diorama Nusantara yang baru dibuka pada pekan lalu. Rencananya, ada dua museum yang juga menggunakan multimedia.

Anda bisa menyimak laporan audionya dalam program Sains dan Teknologi pada, Selasa, 21 Maret 2017 pukul 05.00 dan 06.00 WIB melalui radio mitra BBC Indonesia.

Topik terkait

Berita terkait