Anak-anak yang dipaksa untuk berperang oleh ISIS

ISIS, Yazidi, Irak, Suriah, Perang Hak atas foto AP
Image caption Anak-anak di kamp pengungsi di Irak utara.
  • Remaja Yazidi yang ditawan di kamp tawanan militer mengungkapkan bagaimana mereka dilatih untuk membunuh.
  • Negara bagian Baden-Wurttemberg di Jerman menampung para perempuan Yazidi yang trauma oleh pemerkosaan.
  • Seorang ibu berkisah dengan detil bahwa kelompok yang menamakan diri negara Islam atau ISIS mengirim video anaknya yang mereka culik pada saat berumur enam tahun.

Nama-nama di dalam kisah ini telah diubah.

Lovant dan Sabbah baru berumur 16 dan 14 tahun ketika mereka dipaksa menembakkan peluru ke mayat pria yang dieksekusi ISIS atas tuduhan berkhianat.

Kegiatan itu adalah latihan menembak sasaran, satu saja dari rangkaian pelatihan senjata yang harus mereka jalani di kamp militer bagi orang muda milik ISIS.

Anak-anak ini merupakan anak dari sekte Yazidi di Irak Utara. Tahun 2014 dunia menyaksikan dengan ngeri bagaimana puluhan ribu orang Yazidi terperangkap di Gunung Sinjar dalam cuaca yang sangat panas, tanpa pasokan makanan dan air.

Di saat yang sama, para remaja termasuk Lovant dan Sabah dikumpulkan di desa mereka oleh para milisi ISIS.

Kebanyakan pria dewasa dibawa dan dibunuh sementara anak laki-laki dibawa bersama dengan ibu-ibu mereka ke kota terdekat di Irak utara, sebelum dipisahkan dari keluarga mereka sama sekali.

Selama lebih dari setahun, mereka ditahan dan dilatih sebagai "anak-anak kalifah" di sebuah kamp jauh di kawasan pegunungan di Suriah.

Hak atas foto Video ISIS
Image caption Anak-anak yang dilatih berperang oleh ISIS, gambar diambil dari video propaganda mereka

Dipaksa berperang

"Kami belajar bagaimana mengisi peluru dan menembakkan senjata. Kami dilatih untuk menjadi tentara. Kami diminta berlatih -seperti merayap di bawah kawat berduri- hal-hal semacam itulah. Mereka mengajar kami banyak hal tentang perang."

Lovant

"Mereka kadang membawa kami ke pekuburan yang besar dimana banyak terdapat mayat Muslim yang mereka bilang pengkhianat, mata-mata atau orang-orang yang menggunakan obat terlarang," kata Sabbah.

"Lalu mereka memerintahkan kami menembak mayat-mayat itu agar kami terbiasa menembak tubuh manusia." katanya lagi.

Tak ada yang tahu pasti berapa jumlah orang Yazidi yang ditahan di kamp seperti ini, tetapi sebuah laporan dari organisasi anti-ekstrimisme Quilliam Foundation menyebutkan ada ratusan anak-anak yang ditahan, termasuk anak-anak berumur delapan tahun.

Lovant dan Sabah mengatakan ada sekitar 120 anak di dalam kamp tahanan tempat mereka ditawan. Kebanyakan dari mereka berasal dari Suriah dan Muslim.

Banyak dari mereka adalah anak yang dikirim oleh keluarga mereka untuk menjadi pejihad generasi berikutnya.

"Saya sangat kangen rumah," kata Sabbah. "Khususnya ketika melihat anak-anak Arab itu kembali ke keluarga mereka di Suriah tiap akhir pekan. Kami sangat marah. Dalam momen seperti ini, rasanya seperti mati sepuluh kali."

Hari-hari mereka diatur dengan ketat. Pagi hari mereka dihabiskan dengan pelajaran agama untuk mengindoktrinasi anak-anak itu. Lovant menjelaskan:

"Saya tahu mereka membunuh siapapun yang bukan Muslim. Maka saya harus berpura-pura menjadi Muslim agar selamat," kata Lovant

Anak-anak ini dipaksa untuk salat, membaca Quran dan menghapal buku-buku teks ISIS, untuk bisa menjalani ujian.

"Mereka mencuci otak saya. Buku-buku mereka seperti sihir. Cepat sekali mengubah pikiran kita. Saya berani taruhan, bukan cuma saya. Bahkan pikiran orang dewasa pasti juga bisa berubah kalau membaca buku-buku itu," kata Sabbah.

Lalu datanglah latihan fisik.

"Saat itu musim panas dan cuaca sangat terik," katanya. "Tanah sangat panas dan mereka menyuruh kami jalan di sana, agar kami terbiasa seandainya kami harus melakukannya dalam perang."

Ia menggambarkan bidaya ketakutan yang mendominasi kamp tersebut. Anak-anak ini sering disuruh meronda kompleks kamp itu malam hari. Bahkan ketika seorang anak itu tertidur saat meronda, penjaga dewasa menyiramnya dengan air dingin dan memukuli dengan tongkat kayu. Senapan harus selalu mereka bawa di pundak setiap saat, bahkan saat ke toilet. Jika salah seorang anak ini lupa senapannya, atau terjatuh, ia akan menerima pukulan lagi.

Sabbah mengaku bahwa setelah setahun berada di bawah kelompok yang menamakan diri negara Islam atau ISIS ini, ia khawatir dirinya nyaris percaya pada ideologi radikal mereka.

"Jika saya tinggal sebulan lebih lama lagi saja, saya akan menjadi salah satu dari mereka."

Hak atas foto Reuters
Image caption Anggota sekte Yazidi mengungsi dari tempat tinggal mereka di Irak utara menghindar 'genosida' yang dilakukan oleh ISIS.

Melarikan diri dari ISIS

Kami tak bisa mengungkapkan bagaimana anak-anak ini melarikan diri, tetapi Lovant berhasil menghubungi pihak ketiga yang, kemudian, mengatur kedatangan seorang yang mengeluarkan mereka dari sana, di sebuah tempat yang disepakati bersama.

Lovant berkata, awalnya Sabah enggan untuk melarikan diri dari kamp itu, tapi kemudian ia berhasil membujuknya. "Saya tahu ini bahaya, tapi kita tak punya apa-apa lagi untuk ditakui."

"Kami telah melihat kematian dengan mata kami sendiri. Kami melihat bagaimana mereka membunuh. Ketika kamu kehilangan keluarga, ketika kehilangan segalanya, kamu tak punya apa-apa lagi. Kami tak punya apa-apa lagi," kata Lovant

Anak-anak ini dijempur dengan mobil oleh orang itu, dan setelah beberapa hari bersembunyi di Raqqa, mereka melakukan perjalanan yang jauh dan menegangkan ke perbatasan.

Sabbah ingat saat-saat mereka meninggalkan tanah Suriah dan masuk lagi ke Irak. "Kami menari di jalanan untuk merayakannya. Saya gembira sekali teman saya ini berhasil meyakinkan saya untuk lari dan sekarang ia seperti saudara saya sendiri."

Kisah Lovant dan Sabbah di fasilitas pelatihan ISIS ini sejalan dengan video propaganda yang diedarkan kelompok itu.

Baru-baru ini, ISIS mengedarkan video yang mengejutkan tentang dua orang anak muda Yazidi melakukan bom bunuh diri dengan mobil dengan sasaran tentara Irak di Mosul.

Satu laporan menyebutkan anak-anak ini berumur antara 11 dan 12 tahun, ditangkap dari kota Sinjar bulan Agustus 2014.

Dalam video itu, anak-anak itu bercerita mengenai agama lama mereka yang mereka tinggalkan, "Di Sinjar, kami memuja setan,"katanya. Mereka diperlihatkan bersumpah setia kepada ISIS sebelum masuk ke dalam mobil yang penuh bahan peledak.

Namun kenapa ISIS memilih anak-anak Yazidi? Mungkin saja untuk menambah terus jumlah para pejihad mereka.

Profesor Mia Bloom dari Georgia State University berkata, ada alasan lain, "Ada keuntungan menggunakan mereka di dalam propaganda. Ini dimaksudkan ISIS untuk mengirim pesan kepada dunia bahwa bahkan bekas musuh kami sekarang bersama kami. Jadi ini seperti propaganda bahwa Anda bisa menebus kesalahan Anda, apapun asal-usul etnis Anda, dengan cara bergabung dengan kami."

Hak atas foto Reuters
Image caption Anggota sekte Yazidi dianggap termasuk kelompok yang paling rentan akibat perang, sehingga mereka mendapat jatah khusus untuk mengungsi ke Jerman.

Hidup baru di Jerman

Ketika saya bertemu Lovant dan Sabbah, mereka sedang melakukan yang dilakukan oleh banyak remaja lainnya di sore bulan Februari yang dingin. Mereka sedang bermain Xbox di kamar mereka.

Mereka kini hidup dengan tenang di sebuah tempat penampungan dimana tinggal 80 orang Yazidi, di negara bagian Baden-Wurttemberg di Jerman.

Rumah mereka bekas gedung walikota yang tampaknya sangat resmi, tapi bersih dan sangat. Banyak perbaikan yang dilakukan untuk membuat gedung itu lebih terasa seperti rumah, dengan hiasan karya lukis anak-anak di dinding dan selimut warna warni di tempat tidur.

Puluhan anak-anak berlarian di lorong putih - bergembira mendengar gema suara mereka sendiri.

Komunitas ini hampir semuanya perempuan karena kebanyakan laki-laki dewasanya hilang dalam perang. Anak-anak bekas tentara dan perempuan-perempuan ini dijual menjadi budak seks oleh ISIS, dan kini mereka menjalani terapi karena pengalaman mereka terpapar kekerasan dan penyiksaan yang mereka alami.

Ketidakpastian merupakan bagian dari siksaan orang Yazidi yang hidup dalam pengasingan ini karena sekitar 3.500 perempuan dan anak-anak masih berada dalam tahanan ISIS.

Image caption Para perempuan Yazidi mendapat terapi untuk mengatasi trauma kekerasan seksual dan dipisahkan dari anak-anak mereka.

Mereka masih menahan anak saya

Salah satu perempuan yang paham betul rasanya kehilangan adalah Gule.

Di musim panas 2014, keluarganya juga berantakan akibat serangan ISIS ke daerah mereka. Suaminya dibawa dan sudah hampir pasti dibunuh. Dua orang anak laki-lakinya dibawa ke Mosul, dan ia tak tahu apa yang terjadi pada mereka.

Awalnya, Gule bertahan dengan anaknya yang termuda, saat itu berumur empat tahun. Namun akhirnya mereka terpisah juga. Ia berkata sekadang anaknya itu ditahan oleh para pejihad ISIS.

Tak terduga, mereka ternyata mengirimkan video anaknya itu ke telepon pintarnya.

Dalam salah satu gambar yang dikirim itu, anaknya -sekarang umurnya enam tahun- merangkak di samping sepucuk senapan.

"Mereka melakukannya untuk mempermainkan perasaan kami dan menyakiti kami, ketika kami melihat anak-anak kami mengarahkan senjata ke mereka," katanya.

Gambar itu membuatnya menangis dan kebingungan, "Di satu sisi saya bahagia ia masih hidup, tapi di sisi lain saya sedih ia tak ada di samping saya dan berada di bawah kendali mereka."

Ia menawarkan untuk membeli anaknya kembali, tetapi orang ISIS yang menahannya berkata tak ingin melepaskannya. Gule berkata ia akan melakukan apa saja untuk bisa bertemu anaknya lagi.

"Jika saya punya kesempatan lagi bersamanya, dimanapun ia berada sekalipun di tengah neraka, saya akan ke sana," kata Gule

Penderitaan Gule juga mencerminkan penderitaan orang-orang Yazidi yang pergi meninggalkan Irak atau sekarang berada di kamp pengungsi di wilayah itu.

"Kami orang-orang yang tak bersalah. Tuhan memberi kami agama ini dan kami menyembah-Nya. Sekalipun kami tak merugikan orang lain, Daesh (ISIS) menghancurkan kami."

Hak atas foto SAFIN HAMED/AFP/Getty Images
Image caption Anggota sekte Yazidi mengungsi ke Gunung Sinjar yang bercuaca ekstrim demi menghindar pembunuhan dan kekerasan seksual yang dilakukan oleh ISIS.

Penderitaan orang Yazidi

Sekte Yazidi mempraktekkan agama yang berumur 4.000 tahun. Di dalamnya terkandung unsur-unsur Zoroaster, Yahudi, Kristen dan Islam. Mereka dianggap sebagai pemuja setan oleh ISIS.

Pada musim panas tahun 2014, kekuatan ISIS mengusir lebih dari 36.000 orang Yazidi dari provinsi Ninewa. Banyak yang lari ke Gunung Sinjar dalam cuaca panas ekstrim untuk menghindar dari pemerkosaan dan pembunuhan massal.

Pada tanggal 7 Agustus 2014 Presiden Obama menyetujui serangan udara untuk menekan kembali kekuatan ISIS dan membuat orang-orang Yazidi yang terperangkap bisa keluar dari pegunungan.

Amerika kemudian menyebut perlakuan terhadap orang Yazidi ini sebagai "genosida". Konvensi tentang genosida dari PBB menyebut kejahatan ini mencakup "memindahkan secara paksa anak-anak dari satu kelompok ke kelompok lain."

Menyusul eksodus ke Gunung Sinjar, Dewan Pusat Yazidi di Jerman membujuk negara bagian Baden-Wurttemberg agar membantu mereka.

Politisi lokal setuju untuk membawa 650 perempuan dan anak-anak yang keadaannya paling parah dari Irak utara. Akhirnya negara bagian ini membawa sekitar 1.000 orang, sebagian besar Yazidi, juga termasuk beberapa orang Kristen dan Islam.

Mereka merupakan bekas tahanan ISIS, termasuk beberapa orang anak perempuan usia delapan tahun yang mengalami pemerkosaan. Idenya adalah menawarkan mereka konseling dan terapi yang tak bisa mereka dapatkan seandainya mereka berada di kamp pengungsi di Timur Tengah.

Image caption Anak-anak pengungsi Yazidi bisa memulai hidup baru di Jerman sekalipun mungkin ada kesulitan beradaptasi dan masih dihantui mimpi buruk.

Sambutan di Jerman

Michael Blume adalah seorang akademisi Jerman yang ikut serta membangun proyek penampungan di Baden-Wurttemberg yang didanai oleh negara di Jerman.

Ia berkata mereka mendapat sambutan positif dan 21 kota di Baden-Wurttemberg sukarela menyambut pendatang baru ini.

"Banyak orang Jerman sadar bahwa ada tanggungjawab sejarah untuk merawat kaum minoritas yang dipersekusi oleh genosida," kata Blume.

"Di sini juga banyak perempuan Jerman yang mengalami trauma dan kekerasan seksual pada saat Perang Dunia Kedua berakhir. Maka banyak orang yang bisa membantu perempuan ini karena kami paham apa yang sudah mereka jalani."

Blume mengatakan ada ketertarikan dari beberapa negara untuk meniru proyek ini, seperti Kanada dan Austria. Sekelompok anggota parlemen Inggris gabungan dari beberapa partai baru-baru ini menulis surat ke Menteri Dalam Negeri, Amber Rudd, menyarankan bahwa Inggris sebaiknya ikut menjalankan program ini.

Sembilan puluh persen anggota sekte Yazidi adalah orang Irak, maka mereka tidak diikutsertakan dalam kuota pengungsi Suriah yang ditetapkan oleh pemerintahan David Cameron.

Blume berpikir proyek ini merupakan contoh jelas untuk ditiru, khususnya karena banyaknya kehebohan mengenai kebijakan "pintu terbuka" untuk pengungsi yang diterapkan oleh Kanselir Jerman, Angela Merkel.

"Mungkin lebih baik untuk memilih kasus-kasus kemanusiaan di wilayah yang sedang dilanda krisi, karena dengan demikian kita bisa berkonsentrasi pada siapa yang paling membutuhkan bantuan. Publik di sini tampaknya mengerti bahwa ini merupakan kasus-kasus yang paling rawan. Jika kita hanya membuka perbatasan saja, yang berhasil sampai di Jerman hanya mereka yang paling kuat saja."

Beberapa organisasi non pemerintah menyatakan kekhawatiran mereka soal proyek Jerman ini. Mereka khawatir proyek ini terlalu berat untuk orang Yazidi - yang datang dari latar belakang masyarakat yang kuno dan tertutup - untuk beradaptasi dengan lingkungan asing di Eropa barat, yang jauh dari tempat tinggal mereka.

Blume bersikeras bahwa siapapun yang ingin kembali ke Irak utara, akan segera diterbangkan ke sana.

"Tentu saja itu sulit," katanya.

"Tentu saja mereka mengalami mimpi buruk, dan tentu saja mereka berjuang untuk beradaptasi. Namun mereka bisa memulai masa depan baru - bersekolah, mendapat pendidikan layak, serta bermimpi tentang jatuh cinta," kata Blume

Topik terkait

Berita terkait