Sikap 'antielite' Susi Pudjiastuti yang menarik perhatian publik

Susi Pudjiastuti Hak atas foto Twitter - @kkpgoid
Image caption Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti seperti tak peduli protokel, melakukan peninjauan dengan menumpang kendaraan bak terbuka milik kepolisian.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti terus melakukan hal yang menarik perhatian publik, kali ini dengan keliling kota Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara dengan menumpang mobil bak terbuka kepolisian.

Beberapa laporan media menyebutkan warga Kolaka terkejut melihat Susi di bak terbuka lalu menyambutnya dengan sukacita di pinggir jalan.

Bukan pertama kalinya Susi menarik perhatian publik. Ia termasuk menteri yang dianggap punya kinjera yang baik, setidaknya menurut sebuah survei yang dilakukan oleh lembaga Populi Center tahun 2015 lalu.

Kebijakannya menenggelamkan kapal yang menangkap ikan secara ilegal di perairan Indonesia dianggap sebagai salah satu gebrakan penting dalam kabinet Presiden Joko Widodo.

Hak atas foto Twitter - @susipudjiastuti
Image caption Menteri yang melakukan pose yoga, kata sebuah media Malaysia mengomentari foto Susi yang sedang melakukan olahraga laut di Pantai Pangandaran ini.

Popularitas Susi juga bersumber dari berbagai kegiatan dan perilakunya yang dianggap tidak biasa dan jauh dari gambaran seorang pejabat tinggi di Indonesia.

Berikut adalah beberapa hal dari Menteri Kelutan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang menarik perhatian publik belakangan ini.

Olahraga air

Sebagai menteri yang mengurus laut, Susi tampak akrab dengan laut. Di akun Twitter-nya, ia mempublikasikan beberapa foto kegiatannya melakukan olahraga laut. Dalam dua foto terpisah, Susi tampak sedang mengayuh sebuah kano kecil dan melakukan pose yoga di atas kano tersebut.

Termasuk di antara foto yang beredar dalam rangkaian olahraga laut ini adalah ketika ia duduk santai sambil minum kopi dan memegang sebatang rokok di tangannya.

Hak atas foto Twitter
Image caption Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti tampak sangat berbeda dengan para pejabat pada umumnya, dan ini membuat publik bersimpati kepadanya.

Merokok

Susi memang tak pernah menyembunyikan fakta bahwa ia seorang perokok dan kerap terlihat merokok di depan umum. Hal ini sempat menjadi perbincangan, terutama ketika ia ditemukan duduk di lantai sambil merokok sesudah pengumuman nama-nama menteri di Kabinet Kerja oleh Presiden Joko Widodo pada bulan Oktober 2014.

Hal itu menjadi kontroversi, bersama kehidupan pribadinya yang lain, seperti kakinya yang bertato atau pendidikannya yang tidak lulus SMA.

Hak atas foto Twitter - @nrg07
Image caption Kehidupan pribadi seharusnya tidak menjadi penilaian utama kinerja pejabat publik, dan Susi Pudjiastuti seperti mencerminkan semangat itu.

Namun dalam soal merokok ini, Susi lewat video yang diunggah, Fika Fawzia, sempat memberi pesan bahwa merokok tidak sehat dan sebaiknya tidak dimulai.

Tertawa lepas

Dalam sebuah pertemuan dengan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrowi, dan Menristekdikti Momahad Nasir, tampak Susi tertawa lepas dalam sebuah foto. Tawa lepas ini sesuatu yang tidak biasa ditampilkan pejabat publik yang cenderung menyembunyikan tawa seperti ini dari penglihatan publik.

Tak urung tawa lepas ini mengundang sambutan para pengguna media sosial Twitter, dan Susi tampak tak keberatan menjawabi cuitan-cuitan yang menyebut dirinya.

Hak atas foto Twitter - @susipudjiastuti
Image caption Susi Pudjiastuti berinteraksi cukup baik dengan pengguna sosial media dengan mencuitkan gurauan yang datang kepadanya.

Antielite?

Menurut Konsultan komunikasi publik M. Bahrul Wijaksana, sosok Pudji secara keseluruhan adalah tidak terlepas dari keinginan pemerintahan Jokowi untuk menampilkan pemerintahannya sebagai wakil dari 'wong cilik'.

"Jokowi ingin mentransformasikan citra dirinya ke dalam kabinet yang ia pilih, karena Susi adalah representasi orang biasa, hanya lulusan SMP, dan pendidikan bukan kriteria utama," kata Bahrul.

Bahkan Bahrul melihat pemilihan Susi sebagai menteri seperti sebuah "olok-olok" terhadap sistem rekruitmen politik yang selama ini dilakukan oleh pemerintahan Indonesia yang menampilkan aspek-aspek elitis yang berbasis partai politik, dunia akademis dan para pesohor.

"Penunjukan Susi sebagai menteri seperti punya niat menunjukkan kita sudah jengah dengan elitisme seperti itu dalam politik kita," kata Bahrul.

Bahrul tidak menutup kemungkinan bahwa sosok Susi ini adalah bagian dari pencitraan, sekalipun tidak dibuat-buat.

Hak atas foto Twitter - @saididu
Image caption Guru besar fakultas ekonomi UI, Said Didu memuji tawa lepas Susi Pudjiastuti dalam cuitannya.

Orisinil

"Seandainya saya menjadi konsultan komunikasi Ibu Susi, saya akan memberi masukan baginya untuk tetap menjadi dirinya sendiri. Dirinya yang orisinil ini tak bisa dilawan dengan fabrikasi (pencitraan buatan) apapun," kata Bahrul.

Bahrul menyebut dalam mengemas citra politik, ada matter (materi), manner (model kemasan) dan method (metode penyampaian), dan dalam tiga aspek itu, Susi punya materi yang sangat bagus.

"Tanpa melakukan banyak upaya dalam manner dan method, Susi sebagai sosok sudah bisa menarik perhatian publik," papar Bahrul.

Hak atas foto Twitter - @kkpgoid
Image caption Memesan bakso di warung pinggir jalan, adakah Susi Pudjiastuti menjadi wakil dari sikap anti elitisme yang dirindukan oleh publik sekarang ini?

Perubahan?

Sekalipun demikian Bahrul tidak melihat bahwa keberhasilan sosok Susi menarik perhatian publik tidak akan berarti terlalu banyak bagi politik di Indonesia.

"Masih ada masalah dalam rekruitmen politik," kata Bahrul. "Sekalipun ada contoh lain, misalnya bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, yang juga termasuk tokoh yang apa adanya. Di tengah kecenderungan populer politik yang bergerak ke kanan, Dedi mengambil sikap berbeda."

Namun secara umum pejabat publik seperti ini masih menjadi kekecualian. Bahrul menyebut mahalnya biaya rekruitmen politik dan pilihan-pilihan dari kalangan elite yang masih akan menjadi penghalang.

Berita terkait